Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Terlalu Lama Lajang di Usia 20-an, Risiko Kesepian dan Depresi Naik

Seorang pria lajang.
ilustrasi pria lajang (unsplash.com/Alexis Baydoun)
Intinya sih...
  • Studi dari Universitas Zurich menemukan bahwa orang yang melajang dalam waktu lama lebih rentan mengalami kesepian dan depresi.
  • Penurunan kepuasan hidup paling terasa saat memasuki akhir usia 20-an.
  • Kabar baiknya, hubungan romantis pertama terbukti berdampak positif pada kesejahteraan psikologis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Makin banyak anak muda memilih menunda atau bahkan menghindari hubungan romantis yang berkomitmen. Menjadi lajang kerap dipotret sebagai simbol kemandirian, kebebasan, dan kontrol penuh atas hidup. Istilah seperti solo living, self-partnership, hingga singlehood kini makin terdengar.

Namun, di balik itu, muncul pertanyaan tentang apa dampaknya bagi kesehatan mental? Sebuah studi terbaru dari Universitas Zurich menunjukkan bahwa menjadi lajang dalam jangka panjang tidak selalu netral bagi kesejahteraan psikologis, terutama ketika memasuki akhir usia 20-an.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 17.000 anak muda di Jerman dan Inggris yang belum pernah memiliki pengalaman hubungan romantis pada awal studi. Para peserta dipantau setiap tahun sejak usia 16 hingga 29 tahun, memberi gambaran panjang tentang bagaimana status lajang memengaruhi perjalanan mental mereka.

Dampak lama melajang

Tim peneliti yang dipimpin Michael Krämer dari Departemen Psikologi Universitas Zurich menemukan pola yang cukup konsisten. Laki-laki, individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi, mereka yang tinggal sendiri atau bersama orang tua, serta mereka yang sejak awal memiliki kesejahteraan psikologis lebih rendah, cenderung tetap lajang lebih lama.

Temuan ini sejalan dengan riset sosiologis sebelumnya yang menunjukkan bahwa fokus kuat pada pendidikan dan pengembangan diri sering kali diiringi dengan penundaan hubungan romantis. Hubungan antara faktor sosial dan kondisi psikologis ternyata saling memengaruhi: kesejahteraan mental bukan hanya akibat dari status hubungan, tetapi juga faktor yang menentukan apakah seseorang akan memasuki hubungan atau tidak.

Yang paling mengkhawatirkan, dampak lajang jangka panjang makin terasa seiring waktu. Studi ini menunjukkan bahwa individu yang tetap lajang mengalami penurunan kepuasan hidup secara bertahap, disertai meningkatnya rasa kesepian. Memasuki akhir usia 20-an, gejala depresi pun mulai lebih menonjol. Pola ini ditemukan baik pada laki-laki maupun perempuan.

Begitu hubungan romantis pertama dimulai, kesejahteraan psikologis meningkat

Ilustrasi makan bareng pasangan.
ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Tim peneliti juga menelaah apa yang terjadi ketika seseorang akhirnya memasuki hubungan romantis pertamanya. Hasilnya cukup konsisten dan memberi secercah harapan. Begitu hubungan pertama dimulai, kesejahteraan psikologis meningkat di berbagai aspek.

Para partisipan melaporkan kepuasan hidup yang lebih tinggi dan perasaan kesepian yang berkurang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hubungan romantis tampak berperan sebagai penyangga emosional, memberi rasa keterhubungan yang selama ini kosong. Namun, efek serupa tidak ditemukan secara signifikan pada gejala depresi, yang cenderung lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa melajang dalam waktu lama pada masa dewasa awal berkaitan dengan risiko moderat terhadap kesejahteraan mental. Perbedaan antara mereka yang lajang dan yang akhirnya berpasangan memang kecil saat remaja, tetapi gapnya melebar seiring waktu. Memasuki akhir usia 20-an, masuk ke hubungan romantis pertama justru bisa terasa makin sulit, terutama karena kesejahteraan mental yang menurun juga meningkatkan kemungkinan seseorang tetap lajang lebih lama.

Penelitian ini tidak menegaskan bahwa semua orang harus berpasangan demi bahagia. Namun, koneksi emosional berperan penting dalam kesehatan mental, dan menjadi lajang terlalu lama bukan tanpa konsekuensi psikologis, terutama ketika rasa sepi mulai menetap dan tidak lagi terasa sebagai pilihan yang sepenuhnya disadari.

Referensi

"Staying Single for Longer Affects Young People’s Well-Being." Universität Zürich. Diakses Januari 2026.

Michael D. Krämer et al., “Life Satisfaction, Loneliness, and Depressivity in Consistently Single Young Adults in Germany and the United Kingdom.,” Journal of Personality and Social Psychology, January 12, 2026, https://doi.org/10.1037/pspp0000595.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

5 Strength Training untuk Pemula yang Ingin Lari Maraton

28 Jan 2026, 09:58 WIBHealth