ilustrasi anak remaja minum kopi (pexels.com/Gustavo Fring)
Meskipun kopi bukanlah minuman yang umum dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja, tetapi makin banyak yang terpapar kafein dari minuman lainnya, seperti minuman energi atau minuman berkarbonasi.
Kafein bisa memiliki efek yang lebih kuat pada sistem saraf yang masih berkembang pada anak-anak dan remaja, yang mana bisa memengaruhi tidur dan perilaku mereka.
Menurut penelitian, terlalu banyak mengonsumsi kafein pada usia muda bisa mengganggu keseimbangan gizi, memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, serta menyebabkan kebiasaan yang tidak sehat di masa depan.
Selain itu, anak-anak dan remaja yang terbiasa mengonsumsi kafein dalam jumlah besar juga berisiko mengalami adiksi atau kecanduan dan toleransi terhadap kafein, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik mereka.
Penting untuk membatasi akses anak-anak dan remaja terhadap kafein dan mengedukasi mereka tentang bahaya konsumsi kafein berlebihan sejak dini.
Setiap orang bereaksi secara berbeda terhadap kafein, dan beberapa orang mungkin bisa menikmati kopi dengan sedikit atau tanpa efek samping. Namun, bagi kelompok yang disebutkan di atas, membatasi atau menghindari kopi mungkin merupakan langkah bijak untuk menjaga kesehatan tubuh.
Referensi:
Swiss Medical Weekly, September 2018. Effects of maternal caffeine consumption on thebreastfed child: a systematic review.
Foods, April 2020. Intake of Caffeine and Its Association with Physical and Mental Health Status among University Students in Bahrain.
Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences, April 2019. Coffee and Gastrointestinal Health: A Review.
Processes, Maret 2020. Conflicting Effects of Coffee Consumption on Cardiovascular Diseases: Does Coffee Consumption Aggravate Pre-existing Risk Factors?
Osong Public Health and Research Perspectives, Desember 2018. How Much Caffeine is Too Much for Young Adolescents?