Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Manfaat Sahur sebelum Mulai Puasa, agar Lancar sampai Berbuka!

7 Manfaat Sahur sebelum Mulai Puasa, agar Lancar sampai Berbuka!
ilustrasi sahur (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Sahur membantu menjaga stabilitas gula darah, energi, dan konsentrasi sepanjang hari berpuasa.

  • Pola makan saat sahur berpengaruh pada hidrasi, metabolisme, dan massa otot selama Ramadan.

  • Menu sahur yang tepat, yang tinggi serat, protein, dan cairan, dapat membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Suasana dini hari di bulan Ramadan terasa berbeda. Dapur mulai menyala lebih awal, suara peralatan makan, dan keluarga berkumpul sebelum matahari terbit. Sahur sering dianggap cuma formalitas sebelum memulai puasa, padahal secara fisiologis, momen ini memiliki peran penting bagi tubuh.

Puasa berarti tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama belasan jam. Dalam kondisi ini, cadangan energi, cairan, serta keseimbangan hormon metabolik sangat bergantung pada apa yang kamu makan dan kapan waktu makan terakhir. Dari perspektif ilmu gizi dan metabolisme, sahur bisa menjadi strategi biologis untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal selama berpuasa.

Ketahui bersama apa saja manfaat sahur sebelum menjalankan puasa hingga matahari terbenam.

Table of Content

1. Menjaga stabilitas gula darah

1. Menjaga stabilitas gula darah

Saat tubuh tidak mendapat asupan makanan, kadar glukosa darah akan menurun secara bertahap. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel, terutama otak. Tanpa asupan yang cukup sebelum puasa, risiko lemas, pusing, hingga gangguan konsentrasi meningkat.

Penelitian tentang puasa Ramadan menunjukkan bahwa pola makan yang teratur, termasuk konsumsi sahur, membantu mencegah fluktuasi gula darah ekstrem selama siang hari. Konsumsi karbohidrat kompleks saat sahur memberikan pelepasan energi yang lebih stabil dibanding gula sederhana.

Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, atau roti gandum memperlambat pengosongan lambung dan memperpanjang ketersediaan glukosa dalam darah. Ini membantu tubuh bertahan lebih lama tanpa rasa lemas berlebihan.

2. Membantu menjaga energi sepanjang hari

Menikmati hidangan sahur di meja makan.
ilustrasi orang sedang menikmati hidangan sahur (pexels.com/Sami Abdullah)

Tanpa sahur, tubuh lebih cepat menggunakan cadangan glikogen hati. Setelah cadangan ini habis, tubuh mulai memecah lemak dan sebagian protein untuk energi. Proses ini memang normal, tetapi tanpa asupan awal yang cukup, rasa lelah bisa muncul lebih cepat.

Studi menunjukkan bahwa individu yang mengonsumsi makanan tinggi serat dan protein saat sahur melaporkan tingkat energi yang lebih stabil sepanjang puasa Ramadan.

Protein berperan penting dalam mempertahankan rasa kenyang sekaligus mendukung fungsi otot selama periode tanpa makan. Kombinasi protein dan serat membantu memperlambat munculnya rasa lapar.

3. Mengurangi risiko dehidrasi

Puasa bukan hanya soal makanan, tetapi juga cairan. Tubuh kehilangan air melalui napas, keringat, dan urine. Tanpa sahur, waktu hidrasi menjadi jauh lebih singkat.

Hidrasi yang cukup penting untuk fungsi kognitif, suhu tubuh, dan tekanan darah. Mengonsumsi cairan saat sahur membantu memperpanjang cadangan cairan tubuh.

Makanan tinggi air seperti buah, sayur, dan sup dapat membantu meningkatkan asupan cairan total. Menghindari makanan terlalu asin saat sahur juga membantu mencegah rasa haus berlebihan.

4. Mendukung konsentrasi dan fungsi otak

Seorang perempuan bekerja saat puasa Ramadan.
ilustrasi bekerja saat puasa (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Otak sangat sensitif terhadap perubahan kadar glukosa. Ketika kadar gula darah turun drastis, fungsi kognitif seperti fokus dan memori kerja dapat terganggu.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sarapan berkorelasi dengan performa kognitif yang lebih baik, terutama pada tugas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Meski sahur berbeda konteks dengan sarapan biasa, tetapi prinsip metaboliknya serupa.

Dengan sahur yang tepat, tubuh memiliki cadangan energi untuk menjaga kewaspadaan dan produktivitas sepanjang hari.

5. Membantu menjaga massa otot

Selama periode puasa panjang, tubuh bisa menggunakan protein sebagai sumber energi jika asupan sebelumnya tidak mencukupi.

Asupan protein saat sahur membantu mempertahankan massa otot, terutama jika kamu tetap aktif selama Ramadan. Sumber protein bisa seperti telur, tempe, tahu, ikan, atau ayam.

Protein juga meningkatkan rasa kenyang melalui efek pada hormon kenyang seperti GLP-1 dan PYY.

6. Mendukung metabolisme yang lebih stabil

Suami dan istri makan sahur.
ilustrasi sepasang suami istri makan sahur (pexels.com/Thirdman)

Tubuh memiliki ritme sirkadian yang memengaruhi metabolisme. Penelitian menunjukkan bahwa waktu makan memengaruhi regulasi hormon dan metabolisme energi.

Sahur membantu mempertahankan pola metabolik yang lebih stabil dibanding melewatkannya sama sekali. Melewatkan waktu makan utama dapat meningkatkan rasa lapar berlebihan saat berbuka, yang berpotensi menyebabkan makan berlebihan.

Dengan distribusi asupan yang lebih seimbang antara sahur dan berbuka, kontrol nafsu makan cenderung lebih baik.

7. Membantu mengontrol nafsu makan saat berbuka

Ketika tubuh sangat lapar, respons biologis mendorong konsumsi makanan dalam jumlah besar. Tanpa sahur, rasa lapar saat berbuka cenderung lebih intens.

Penelitian tentang regulasi nafsu makan menunjukkan bahwa pola makan teratur membantu mengontrol hormon grelin (hormon lapar).

Dengan sahur, pola makan menjadi lebih seimbang dan risiko overeating saat berbuka dapat ditekan.

Menu sahur yang disarankan

Menu makan sahur berupa nasi merah, telur, tumis daging, dan sayur.
ilustrasi menu makan sahur berupa nasi merah, telur, tumis daging, dan sayur (freepik.com/Topntp26)

Agar kenyang lebih lama dan energi stabil, menu sahur ideal sebaiknya mengandung:

  • Karbohidrat kompleks: nasi merah, nasi putih dengan porsi moderat, oatmeal, roti gandum.
  • Protein berkualitas: telur, tempe, tahu, ayam, ikan, kacang-kacangan.
  • Serat dan sayur: tumis bayam, sayur bening, lalapan.
  • Lemak sehat: alpukat, kacang, minyak zaitun.
  • Cairan cukup: 2–3 gelas air, bisa ditambah susu rendah lemak.

Contoh menu sederhana: nasi merah, telur dadar sayur, tumis tempe, sup bening, buah potong, dan air putih.

Sahur bukan sekadar pengisi perut sebelum azan Subuh. Sahur membantu menjaga stabilitas gula darah, hidrasi, energi, fungsi otak, hingga massa otot selama menjalankan puasa.

Dengan komposisi makanan yang tepat dan asupan cairan cukup, sahur menjadi investasi kesehatan sepanjang Ramadan. Tubuh bekerja lebih efisien, rasa lapar lebih terkendali, dan ibadah dapat dijalani dengan lebih nyaman serta bertenaga.

Referensi

“Your Digestive System & How It Works.” National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses Februari 2026.

John F Trepanowski and Richard J Bloomer, “The Impact of Religious Fasting on Human Health,” Nutrition Journal 9, no. 1 (November 22, 2010): 57, https://doi.org/10.1186/1475-2891-9-57.

Krista A. Varady, “Impact of Intermittent Fasting on Glucose Homeostasis,” Current Opinion in Clinical Nutrition & Metabolic Care 19, no. 4 (May 3, 2016): 300–302, https://doi.org/10.1097/mco.0000000000000291.

“Carbohydrates and Blood Sugar.” Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses Februari 2026.

Hall, John E.. Guyton and Hall: Textbook of Medical Physiology. 13th ed. Philadelpia,PA: Elsevier, 2016.

Nader Lessan and Tomader Ali, “Energy Metabolism and Intermittent Fasting: The Ramadan Perspective,” Nutrients 11, no. 5 (May 27, 2019): 1192, https://doi.org/10.3390/nu11051192.

Nader Lessan et al., “The Effects of Ramadan Fasting on Activity and Energy Expenditure,” American Journal of Clinical Nutrition 107, no. 1 (January 1, 2018): 54–61, https://doi.org/10.1093/ajcn/nqx016.

P. W. Lemon et al., “Protein Requirements and Muscle Mass/Strength Changes During Intensive Training in Novice Bodybuilders,” Journal of Applied Physiology 73, no. 2 (August 1, 1992): 767–75, https://doi.org/10.1152/jappl.1992.73.2.767.

“Dietary Reference Values for Water.” European Food Safety Authority (EFSA). Diakses Februari 2026.

Clementine E.M. Verhulst et al., “Consistent Effects of Hypoglycemia on Cognitive Function in People With or Without Diabetes,” Diabetes Care 45, no. 9 (July 25, 2022): 2103–10, https://doi.org/10.2337/dc21-2502.

Katie Adolphus et al., “The Effects of Breakfast and Breakfast Composition on Cognition in Children and Adolescents: A Systematic Review,” Advances in Nutrition 7, no. 3 (May 1, 2016): 590S-612S, https://doi.org/10.3945/an.115.010256.

Robert R Wolfe, “The Underappreciated Role of Muscle in Health and Disease,” American Journal of Clinical Nutrition 84, no. 3 (December 1, 2006): 475–82, https://doi.org/10.1093/ajcn/84.3.475.

Stuart M. Phillips and Luc J.C. Van Loon, “Dietary Protein for Athletes: From Requirements to Optimum Adaptation,” Journal of Sports Sciences 29, no. sup1 (January 1, 2011): S29–38, https://doi.org/10.1080/02640414.2011.619204.

“The Role of Protein in Weight Management,” PubMed, 2008, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18296329/.

Jonathan D. Johnston, “Physiological Responses to Food Intake Throughout the Day,” Nutrition Research Reviews 27, no. 1 (March 25, 2014): 107–18, https://doi.org/10.1017/s0954422414000055.

John E. Blundell and Kristine Beaulieu, “The Complex Pattern of the Effects of Prolonged Frequent Exercise on Appetite Control, and Implications for Obesity,” Appetite 183 (February 6, 2023): 106482, https://doi.org/10.1016/j.appet.2023.106482.

Kinga Skoracka et al., “The Role of Leptin and Ghrelin in the Regulation of Appetite in Obesity,” Peptides 186 (February 19, 2025): 171367, https://doi.org/10.1016/j.peptides.2025.171367.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Hidayat Taufik
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More