Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tips Puasa untuk Ibu Hamil agar Tetap Sehat dan Nyaman

ilustrasi ibu hamil
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/Amina Filkins)
Intinya sih...
  • Konsultasi medis penting sebelum berpuasa untuk memastikan kondisi ibu dan janin stabil.
  • Pola makan sahur harus memperhatikan jenis makanan yang dapat menjaga energi lebih lama.
  • Kebutuhan cairan ibu hamil harus dipenuhi secara bertahap setelah berbuka agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjalani ibadah Ramadan sering menjadi pertanyaan besar bagi perempuan yang sedang mengandung, terutama ketika muncul kekhawatiran mengenai keamanan serta tumbuh kembang janin sehingga informasi mengenai tips puasa untuk ibu hamil banyak dicari menjelang bulan Ramadan. Kondisi setiap kehamilan berbeda sehingga keputusan berpuasa tidak dapat disamakan antara satu orang dan lainnya.

Perubahan pola makan, waktu istirahat, serta kebutuhan cairan membuat masa kehamilan memerlukan perhatian lebih agar tubuh tetap stabil selama berpuasa. Simak penjelasan berikut agar persiapan puasa Ramadan dilakukan secara matang tanpa mengabaikan kesehatan ibu hamil.

1. Konsultasi dengan dokter menjadi langkah awal sebelum memutuskan berpuasa

ilustrasi konsultasi medis
ilustrasi konsultasi medis (pexels.com/MART PRODUCTION)

Pemeriksaan kesehatan sebelum Ramadan membantu memastikan bahwa kondisi ibu serta janin berada dalam keadaan stabil sehingga perubahan pola makan tidak menimbulkan risiko yang tidak terdeteksi sejak awal. Evaluasi medis biasanya mencakup pemeriksaan tekanan darah, kadar hemoglobin, kadar gula darah, serta pemantauan perkembangan janin melalui pemeriksaan rutin yang sudah dijadwalkan selama kehamilan. Informasi tersebut menjadi dasar pertimbangan apakah tubuh mampu beradaptasi terhadap jeda makan yang panjang tanpa mengganggu kebutuhan nutrisi harian.

Tenaga kesehatan juga dapat memberikan rekomendasi personal mengenai batas aktivitas, pola makan yang harus diprioritaskan, serta tanda bahaya yang wajib diperhatikan selama menjalani puasa. Saran profesional penting karena kondisi seperti anemia, diabetes gestasional, atau riwayat kehamilan berisiko memerlukan pendekatan yang berbeda dibanding kehamilan sehat tanpa komplikasi. Keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan medis akan jauh lebih aman dibanding mengikuti pengalaman orang lain yang belum tentu memiliki kondisi tubuh serupa.

2. Pola makan sahur perlu disusun untuk menjaga energi lebih lama

ilustrasi sahur
ilustrasi sahur (pexels.com/Gül Işık)

Sahur bukan sekadar makan sebelum fajar, melainkan momen penting untuk membangun cadangan energi yang akan digunakan tubuh sepanjang hari sehingga pemilihan jenis makanan harus dilakukan secara cermat. Karbohidrat kompleks seperti oatmeal, nasi merah, roti gandum utuh, serta kacang-kacangan dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga mampu menjaga kestabilan kadar gula darah dalam waktu yang lebih panjang. Stabilitas energi tersebut membantu mengurangi risiko lemas mendadak atau rasa pusing akibat penurunan gula darah yang terlalu cepat.

Asupan protein berkualitas seperti telur, ikan, ayam tanpa lemak, tahu, tempe, atau produk susu berperan dalam mendukung pertumbuhan jaringan janin sekaligus memperpanjang rasa kenyang selama berpuasa. Kombinasi protein, serat, serta lemak sehat membuat proses metabolisme berlangsung lebih seimbang sehingga tubuh tidak mudah mengalami kelelahan. Menu sahur yang terencana membantu ibu hamil menjalani hari dengan kondisi fisik yang lebih stabil tanpa tekanan berlebihan pada sistem pencernaan.

3. Kebutuhan cairan harus dipenuhi secara bertahap setelah berbuka

ilustrasi minum
ilustrasi minum (pexels.com/Yan Krukau)

Tubuh ibu hamil memerlukan cairan lebih banyak dibanding kondisi biasa karena terjadi peningkatan volume darah serta proses pembentukan cairan ketuban yang terus berlangsung selama masa kehamilan. Kekurangan cairan dapat memicu dehidrasi yang berdampak pada kelelahan, sakit kepala, hingga risiko kontraksi dini apabila tidak segera diatasi. Pemenuhan cairan harus dilakukan secara bertahap sejak waktu berbuka hingga menjelang sahur agar penyerapan berlangsung optimal.

Air putih tetap menjadi pilihan utama, tetapi dapat diselingi sup hangat, susu, atau jus buah alami tanpa tambahan gula berlebihan agar tubuh mendapatkan elektrolit tambahan. Pola minum terjadwal membantu menjaga keseimbangan cairan tanpa membuat lambung terasa penuh secara tiba-tiba. Kebiasaan ini juga mendukung fungsi ginjal serta sirkulasi darah yang sangat penting bagi perkembangan janin.

4. Aktivitas harian perlu disesuaikan agar tidak kelelahan

ilustrasi ibu hamil
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/Ivan S)

Kehamilan membuat tubuh bekerja lebih keras karena harus menopang kebutuhan metabolisme ibu sekaligus pertumbuhan janin, sehingga pengaturan aktivitas menjadi faktor penting selama menjalani puasa. Kegiatan berat, pekerjaan yang memerlukan tenaga besar, atau paparan panas terlalu lama dapat mempercepat kehilangan energi serta meningkatkan risiko dehidrasi. Penyesuaian aktivitas membantu tubuh mempertahankan stamina tanpa mengorbankan kesehatan.

Istirahat cukup di sela kegiatan harian memberikan kesempatan bagi tubuh untuk melakukan pemulihan energi serta menjaga kestabilan tekanan darah. Tidur siang singkat atau mengurangi aktivitas yang tidak mendesak dapat membantu menjaga keseimbangan fisik selama Ramadan. Aktivitas yang lebih terkontrol membuat ibu hamil tetap dapat menjalankan rutinitas tanpa merasa kelelahan berlebihan.

5. Mengenali sinyal tubuh dan tidak memaksakan diri

ilustrasi ibu hamil
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/cottonbro studio)

Tubuh selalu memberikan respons ketika mengalami kekurangan energi atau cairan, sehingga kepekaan terhadap perubahan kondisi fisik menjadi hal yang sangat penting selama menjalani puasa. Gejala seperti pusing berat, tubuh terasa sangat lemah, mual terus-menerus, jantung berdebar, atau urin berwarna pekat dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan asupan segera. Kondisi tersebut tidak boleh diabaikan karena dapat memengaruhi kesehatan ibu maupun janin apabila dibiarkan berlanjut.

Perubahan gerakan janin yang terasa berkurang atau berbeda dari biasanya juga perlu diperhatikan sebagai sinyal bahwa tubuh memerlukan evaluasi segera. Membatalkan puasa dalam kondisi tertentu merupakan langkah perlindungan yang dibenarkan secara medis maupun agama karena kesehatan ibu dan bayi harus menjadi prioritas utama. Kesadaran untuk mendengarkan tubuh membantu mencegah risiko yang tidak diinginkan selama masa kehamilan.

Menjalani Ramadan saat hamil memerlukan kesiapan fisik serta pemahaman yang matang agar ibadah tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan, sehingga memahami tips puasa untuk ibu hamil menjadi bekal penting sebelum mengambil keputusan. Setiap kehamilan memiliki kondisi unik sehingga pendekatan yang dilakukan pun harus disesuaikan secara personal melalui pemantauan kesehatan yang konsisten. Bagaimana persiapanmu menghadapi puasa saat hamil tahun ini, sudahkah benar-benar siap menjalaninya?

Referensi

"Pregnancy Tips to Stay Healthy While Fasting" Prenagen. Diakses pada Februari 2026.

"10 tips pregnant women should consider if they decide to fast during Ramadan" Fakih IVF. Diakses pada Februari 2026.

"Fasting in pregnancy" Tommy's. Diakses pada Februari 2026.

"Fasting During Pregnancy: Guidance for Expecting Mothers in Ramadan" Real Birth Company. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More

Mau Coba Time-Restricted Eating? Jangan Makan Terlalu Malam

15 Feb 2026, 19:13 WIBHealth