Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kasus Campak Meningkat, DGB FKUI Desak Percepatan Imunisasi Anak

Kasus Campak Meningkat, DGB FKUI Desak Percepatan Imunisasi Anak
ilustrasi imunisasi anak (pexels.com/CP Khanal)
Intinya Sih
  • Kasus campak meningkat di berbagai daerah, mendorong DGB FKUI mengadakan webinar bersama Kemenkes untuk membahas pencegahan, imunisasi, dan penanganan komplikasi penyakit ini.

  • Kemenkes menyebut lonjakan kasus dipicu turunnya cakupan imunisasi dan bertambahnya populasi anak rentan; pemerintah memperkuat deteksi dini serta menjalankan program imunisasi kejar.

  • Ahli menegaskan campak sangat menular dan bisa fatal; diperlukan isolasi pasien, peningkatan cakupan vaksinasi, serta kolaborasi lintas pihak agar penyebaran dapat ditekan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kasus campak di Indonesia menjadi sorotan setelah dilaporkan meningkat di sejumlah daerah. Situasi ini dinilai mengkhawatirkan, terutama setelah muncul kabar gugurnya seorang dokter internship akibat komplikasi campak.

Merespons kondisi tersebut, Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (DGB FKUI) menggelar webinar bertajuk “Kupas Tuntas Campak: Dari Imunisasi Sampai Komplikasi” pada 1 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan para ahli dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) dan kalangan akademisi untuk membahas lonjakan kasus campak serta langkah-langkah pengendaliannya.

Ketua DGB FKUI, Theddeus O.H Prasetyono, menekankan forum ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan tenaga kesehatan terkait campak, mulai dari pencegahan melalui imunisasi hingga penanganan komplikasi. Ia juga menyoroti bahwa meningkatnya kasus tidak lepas dari rendahnya cakupan imunisasi serta ketimpangan akses layanan kesehatan di berbagai daerah.

Populasi rentan meningkat

Lonjakan kasus campak pada awal 2026 tidak terjadi tanpa sebab. Dalam sesi pertama webinar, dr. Indri Yogyaswari, MARS, Direktur Imunisasi dari Kemenkes mengungkap bahwa peningkatan ini dipicu oleh kesenjangan cakupan imunisasi serta akumulasi populasi rentan. Ini merupakan kelompok anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap.

"Cakupan imunisasi campak, dari mulai Measles Rubella 1 (MR1), MR2, dan MR BIAS dari tahun 2024 hingga 2026 menunjukkan tren penurunan,” ungkap dr. Indri

Penurunan ini membuat makin banyak anak yang tidak memiliki perlindungan optimal terhadap virus campak, sehingga risiko penyebaran penyakit meningkat.

Sebagai respons, pemerintah telah memperkuat sistem pengawasan dan deteksi dini kasus. Selain itu, dilakukan juga program imunisasi kejar, yaitu vaksinasi bagi anak-anak yang terlambat atau belum melengkapi jadwal imunisasi mereka, khususnya di wilayah dengan lonjakan kasus.

Upaya ini menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran campak sekaligus melindungi kelompok yang paling rentan.

Campak sangat menular dan bisa berakibat fatal

Di kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A, Subsp. I.P.T., M.Trop.Paed menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit ringan yang bisa dianggap sepele. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), terutama jika cakupan imunisasi tidak merata di masyarakat.

"Campak itu sangat menular, menyebabkan penyakit serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Bukan hanya kepada masyarakat, tapi juga kepada teman sejawat kita,” tegas Prof. Hinky.

Selain menyebabkan gejala akut, campak juga dapat menimbulkan komplikasi berat seperti infeksi paru, radang otak, hingga dampak jangka panjang pada fungsi neurologis.

Untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, diperlukan langkah tegas seperti isolasi pasien yang terinfeksi, peningkatan cakupan imunisasi tanpa menunda, serta kepatuhan terhadap pedoman dari otoritas kesehatan. Upaya ini menjadi kunci untuk melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan dari risiko komplikasi serius akibat campak.

Lonjakan kasus campak menjadi pengingat bahwa imunisasi tetap menjadi kunci utama pencegahan penyakit menular. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk meningkatkan cakupan vaksinasi serta memulihkan kepercayaan terhadap imunisasi. Tanpa upaya bersama, risiko penyebaran dan dampak serius campak akan terus mengintai.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More