Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Seseorang Masih Cepat Lapar setelah Makan Oatmeal?

Kenapa Seseorang Masih Cepat Lapar setelah Makan Oatmeal?
ilustrasi oatmeal (vecteezy.com/Mateusz Feliksik)
Intinya Sih
  • Oatmeal bisa kurang mengenyangkan karena proteinnya rendah; tanpa tambahan telur, susu, atau yogurt, sinyal lapar dapat muncul lebih cepat.
  • Jenis oat memengaruhi kenyang: oat instan berindeks glikemik lebih tinggi, sehingga gula darah lebih cepat naik-turun dan rasa lapar kembali lebih singkat.
  • Porsi kecil serta minim lemak sehat dapat membuat energi cepat habis; aktivitas, tidur, hormon, dan respons metabolik individu juga memengaruhi rasa kenyang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Oatmeal sering dianggap sebagai pilihan sarapan sehat karena tinggi serat dan bisa memberikan rasa kenyang lebih lama. Banyak orang mengandalkannya untuk menjaga berat badan atau mengontrol asupan kalori harian.

Namun, nyatanya tak sedikit juga yang justru merasa cepat lapar lagi setelah makan oatmeal, bahkan dalam waktu kurang dari dua jam. Kalau selama ini kamu masih cepat lapar setelah makan oatmeal, mungkin ada sejumlah faktor yang terlewat seperti berikut ini.

1. Kandungan protein dalam oatmeal relatif rendah

ilustrasi oatmeal
ilustrasi oatmeal (vecteezy.com/mateusz.feliksik212949)

Oatmeal memang kaya serat, tetapi kandungan proteinnya tergolong tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kebutuhan sarapan ideal. Dalam 100 gram oatmeal, rata-rata hanya terdapat sekitar 2,5–5 gram protein, tergantung jenisnya, sementara kebutuhan protein saat sarapan disarankan mencapai 15–25 gram agar rasa kenyang bertahan lebih lama. Kekurangan protein ini membuat tubuh lebih cepat kembali mencari energi tambahan.

Protein berperan penting dalam mengatur hormon kenyang seperti peptide YY dan ghrelin, sehingga asupan yang kurang bisa membuat sinyal lapar muncul lebih cepat. Itulah sebabnya, oatmeal yang dimakan tanpa tambahan sumber protein seperti telur, susu, atau yogurt cenderung kurang mengenyangkan. Tanpa kombinasi nutrisi yang seimbang, efek kenyang dari serat saja sering tidak cukup bertahan lama.

2. Indeks glikemik oatmeal bisa berbeda tergantung jenisnya

ilustrasi oatmeal
ilustrasi oatmeal (vecteezy.com/Andrey Starostin)

Tidak semua oatmeal memiliki efek yang sama terhadap gula darah. Oat instan, misalnya, memiliki indeks glikemik (GI) yang lebih tinggi yang bisa mencapai angka 65–75, dibandingkan dengan rolled oats atau steel-cut oats yang berada di kisaran 50–55. Semakin tinggi GI, semakin cepat gula darah naik dan turun, yang berujung pada rasa lapar lebih cepat.

Ketika gula darah naik terlalu cepat, tubuh akan merespons dengan meningkatkan produksi insulin untuk menurunkannya. Proses ini sering menyebabkan penurunan gula darah yang cukup drastis setelahnya, sehingga muncul rasa lapar kembali dalam waktu singkat. Hal ini menjelaskan kenapa oatmeal instan sering membuat kenyang hanya sebentar dibandingkan dengan jenis yang lebih utuh.

3. Porsi yang dikonsumsi sering terlalu kecil

ilustrasi oatmeal
ilustrasi oatmeal (pixabay.com/RitaE)

Banyak orang mengonsumsi oatmeal dalam porsi yang terlalu sedikit, terutama saat sedang menjalani diet. Padahal, kebutuhan energi setiap orang berbeda, dan porsi yang tidak mencukupi bisa membuat tubuh tetap merasa kekurangan kalori. Sebagai gambaran, satu porsi oatmeal standar biasanya sekitar 40–50 gram, yang hanya menghasilkan sekitar 150–200 kalori.

Jika kebutuhan kalori sarapan berada di kisaran 300–400 kalori, maka porsi oatmeal tanpa tambahan apa pun jelas tidak cukup. Tubuh akan cepat mengirim sinyal lapar karena energi yang masuk tidak memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai “oatmeal tidak mengenyangkan”, padahal sebenarnya masalahnya ada pada jumlah konsumsi.

4. Kurangnya lemak sehat dalam menu oatmeal

ilustrasi oatmeal
ilustrasi oatmeal (vecteezy.com/studeg849200)

Selain protein, lemak sehat juga berperan dalam memperlambat proses pencernaan dan memperpanjang rasa kenyang. Oatmeal yang dikonsumsi polos tanpa tambahan lemak sehat seperti kacang-kacangan, biji chia, atau selai kacang akan lebih cepat dicerna oleh tubuh. Akibatnya, energi yang dihasilkan juga lebih cepat habis.

Lemak membantu menstabilkan pelepasan energi dalam tubuh, sehingga tidak terjadi lonjakan dan penurunan gula darah yang drastis. Tanpa komponen ini, oatmeal cenderung bekerja seperti sumber karbohidrat biasa yang cepat diproses. Kombinasi antara serat, protein, dan lemak menjadi kunci agar rasa kenyang bisa bertahan lebih lama.

5. Respons tubuh tiap orang terhadap karbohidrat berbeda

ilustrasi oatmeal
ilustrasi oatmeal (pexels.com/Life Of Pix)

Setiap tubuh memiliki respons metabolik yang berbeda terhadap makanan, termasuk oatmeal. Beberapa orang memiliki sensitivitas insulin yang lebih tinggi, sehingga tubuh mereka lebih cepat memproses karbohidrat menjadi energi. Dalam kondisi ini, rasa lapar bisa datang lebih cepat meskipun sudah makan makanan tinggi serat.

Faktor lain seperti aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga kondisi hormonal juga memengaruhi rasa kenyang dan lapar. Misalnya, kurang tidur terbukti meningkatkan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar hingga 20 persen lebih tinggi daripada kondisi normal. Jadi, bukan hanya jenis makanan, tetapi juga kondisi tubuh secara keseluruhan yang menentukan apakah oatmeal bisa benar-benar mengenyangkan.

Seseorang yang masih cepat lapar setelah makan oatmeal bukanlah hal yang aneh, melainkan hasil dari kombinasi banyak faktor mulai dari komposisi nutrisi hingga respons tubuh. Mengubah cara konsumsi, seperti menambah protein dan lemak sehat, bisa membuat efek kenyangnya jauh lebih optimal. Kalau selama ini oatmeal terasa kurang mengenyangkan, apakah cara makannya sudah benar?

Referensi

"Feeling Hungry After Eating: Why It Happens and What to Do." Healthline. Diakses pada Agustus 2026.

"The Best Time to Eat Oats for Digestion and Cholesterol." Verywell Health. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More