Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

10 Kebiasaan yang Bisa Menurunkan Berat Badanmu Lebih Cepat

10 Kebiasaan yang Bisa Menurunkan Berat Badanmu Lebih Cepat
ilustrasi bersih-bersih rumah (pexels.com/Annushka Ahuja)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Penurunan berat badan yang lebih cepat biasanya bukan berasal dari satu diet ekstrem, melainkan kombinasi kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten setiap hari.

  • Tidur cukup, makan protein lebih banyak, aktif bergerak, dan mengurangi minuman manis termasuk kebiasaan yang paling kuat didukung penelitian.

  • Fokus pada kebiasaan membuat hasil lebih realistis dan lebih mudah dipertahankan dibanding hanya mengejar angka di timbangan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Berat badan tidak naik dalam semalam, dan biasanya juga tidak turun dalam semalam. Tubuh berubah karena pola yang dilakukan berulang setiap hari. Itulah kenapa kebiasaan kecil sering kali justru memberi dampak besar jika terus-terusan dilakukan.

Banyak orang terlalu fokus pada diet ekstrem, olahraga intens, atau aturan makan yang sulit dipertahankan. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup yang konsisten jauh lebih efektif untuk menurunkan berat badan dan mempertahankannya dalam jangka panjang. Kuncinya bukan melakukan semuanya sekaligus, tetapi membangun rutinitas yang realistis dan bisa terus dilakukan.

Table of Content

1. Perbanyak protein pada setiap waktu makan

1. Perbanyak protein pada setiap waktu makan

Protein adalah salah satu nutrisi yang paling membantu penurunan berat badan. Dibanding karbohidrat dan lemak, protein butuh lebih banyak energi untuk dicerna. Efek ini disebut efek termal makanan (thermic effect of food), yaitu jumlah kalori yang dibakar tubuh saat memproses makanan.

Protein juga membantu membuat kenyang lebih lama. Saat kamu makan cukup protein, kadar hormon lapar seperti grelin cenderung menurun, sementara hormon yang memberi rasa kenyang meningkat. Akibatnya, keinginan ngemil atau makan banyak jadi berkurang.

Penelitian menunjukkan, pola makan tinggi protein dapat membantu menurunkan berat badan, menjaga massa otot, dan mencegah berat badan naik kembali setelah diet. Sumber protein yang baik antara lain telur, ayam, ikan, tahu, tempe, yoghurt tinggi protein, susu, dan kacang-kacangan.

2. Tidur cukup dan teratur

Ilustrasi tidur nyenyak.
ilustrasi tidur nyenyak (freepik.com/jcomp)

Dalam program penurunan berat badan, tidur sering dianggap tidak terlalu penting, padahal pengaruhnya besar. Saat kurang tidur, tubuh memproduksi lebih banyak grelin yang meningkatkan rasa lapar dan menurunkan leptin yang membantu memberi sinyal kenyang.

Kurang tidur juga membuat kamu lebih mudah menginginkan makanan tinggi gula, tinggi lemak, dan tinggi kalori. Dalam kondisi lelah, otak cenderung mencari “hadiah cepat” berupa makanan yang memberi energi instan.

Penelitian menemukan, orang yang tidur kurang dari 7 jam per malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami kenaikan berat badan dan obesitas. Tidur yang cukup juga membantu tubuh pulih lebih baik setelah olahraga dan menjaga metabolisme tetap optimal.

3. Lebih banyak bergerak sepanjang hari

Olahraga penting, tetapi tetap bergerak di luar jam olahraga juga pengaruhnya besar. Aktivitas seperti jalan kaki, naik tangga, berdiri lebih sering, membersihkan rumah, atau berjalan saat menelepon dapat membantu meningkatkan pengeluaran energi harian.

Konsep ini dikenal sebagai non-exercise activity thermogenesis (NEAT). Pada sebagian orang, perbedaan NEAT bisa mencapai ratusan kalori per hari. Orang yang lebih sering bergerak cenderung lebih mudah mempertahankan berat badan dibanding orang yang duduk terlalu lama.

Karena itu, jika ingin berat badan turun lebih cepat, jangan hanya fokus pada satu jam olahraga. Coba cari cara agar tubuh tetap aktif sepanjang hari, misalnya berjalan 5–10 menit setiap beberapa jam atau menambah target langkah harian.

4. Kurangi minuman manis

Ilustrasi minuman manis bubble tea.
ilustrasi minuman manis bubble tea (pexels.com/RDNE Stock project)

Minuman manis sering menjadi sumber kalori yang tidak disadari. Kopi dengan sirup, teh manis, soda, jus kemasan, boba, dan minuman energi bisa mengandung kalori yang cukup tinggi, tetapi tidak memberi rasa kenyang seperti makanan padat.

Tubuh juga cenderung tidak “menghitung” kalori cair dengan cara yang sama seperti makanan. Artinya, seseorang bisa minum banyak kalori tetapi tetap merasa lapar dan makan seperti biasa.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis berkaitan dengan peningkatan berat badan dan risiko obesitas. Mengganti minuman manis dengan air putih, teh tanpa gula, atau kopi tanpa tambahan gula dapat membantu menciptakan defisit kalori tanpa terasa terlalu membatasi.

5. Makan lebih pelan

Kecepatan makan ternyata memengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi. Otak butuh waktu sekitar 20 menit untuk menerima sinyal kenyang dari lambung. Jika kamu makan terlalu cepat, kamu bisa makan lebih banyak sebelum tubuh menyadari bahwa sebenarnya sudah cukup.

Makan lebih pelan memberi kesempatan bagi tubuh untuk mengenali rasa kenyang dengan lebih baik. Cara ini juga membantu kamu lebih sadar terhadap rasa, tekstur, dan porsi makanan yang dimakan.

Penelitian menunjukkan, orang yang makan lebih cepat cenderung memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding orang yang makan lebih lambat. Jadi, cobalah mengunyah lebih lama, letakkan sendok di sela-sela suapan, dan hindari makan sambil scrolling atau menonton.

6. Konsumsi lebih banyak serat

Ilustrasi sup kacang polong dan daging.
ilustrasi sup kacang polong dan daging, salah satu sumber serat (pixabay.com/Matthias Lipinski)

Serat membantu memperlambat pengosongan lambung sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Makanan tinggi serat juga biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk dikunyah, sehingga membantu kamu makan lebih perlahan.

Selain itu, serat membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil. Ketika gula darah naik turun terlalu cepat, rasa lapar dan keinginan ngemil juga cenderung meningkat.

Sumber serat yang baik meliputi sayur, buah, oat, kacang-kacangan, biji chia, dan biji-bijian utuh. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan asupan serat berkaitan dengan penurunan berat badan dan penurunan lemak tubuh.

7. Menimbang berat badan secara teratur

Banyak orang takut melihat angka di timbangan karena khawatir stres atau kecewa. Padahal, memantau berat badan secara rutin bisa membantu kamu lebih sadar terhadap kebiasaan sehari-hari.

Menimbang berat badan tidak harus dilakukan setiap jam atau setiap kali habis makan. Cukup satu kali sehari atau beberapa kali seminggu, di waktu yang sama, misalnya pagi hari setelah bangun tidur dan setelah buang air kecil.

Menurut studi, orang yang rutin memantau berat badan cenderung lebih berhasil menurunkan dan mempertahankan berat badan dibanding orang yang tidak pernah mengecek sama sekali.

8. Rutin strength training

Ilustrasi latihan kekuatan.
ilustrasi latihan kekuatan (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Banyak orang cuma fokus pada kardio saat ingin menurunkan berat badan. Padahal, latihan beban juga penting karena membantu mempertahankan dan membangun massa otot.

Makin banyak massa otot, makin tinggi kebutuhan energi tubuhnya. Artinya, tubuh akan membakar lebih banyak kalori bahkan saat sedang istirahat.

Strength training juga membantu mencegah tubuh kehilangan terlalu banyak otot selama diet. Ini penting karena penurunan berat badan yang ideal bukan hanya mengurangi angka di timbangan, tetapi juga mempertahankan kekuatan dan fungsi tubuh.

9. Meal prep

Salah satu penyebab makan berlebihan adalah keputusan spontan. Saat lapar dan tidak ada rencana, seseorang cenderung memilih makanan yang paling cepat, paling praktis, dan sering kali paling tinggi kalori.

Merencanakan makanan sejak awal dapat membantu kamu mengontrol porsi, memastikan ada cukup protein dan serat, serta mengurangi godaan untuk pesan makanan secara impulsif.

Meal prep tidak harus rumit. Menyimpan telur rebus, buah, yoghurt, ayam matang, atau sayur potong di rumah sudah bisa membuat pilihan makan menjadi lebih baik.

10. Kelola stres dengan baik

Ilustrasi journaling.
ilustrasi journaling (pexels.com/Katya Wolf)

Stres kronis dapat membuat tubuh menghasilkan lebih banyak hormon kortisol. Dalam jangka panjang, hormon ini bisa meningkatkan rasa lapar dan keinginan terhadap makanan tinggi gula serta tinggi lemak.

Banyak orang juga menggunakan makanan sebagai cara untuk menenangkan diri saat merasa cemas, lelah, atau sedih. Masalahnya, makan karena emosi sering membuat seseorang makan lebih banyak tanpa benar-benar merasa puas.

Mengelola stres tidak harus selalu lewat meditasi dalam waktu lama. Jalan santai, journaling, tidur cukup, berbicara dengan teman, atau olahraga ringan juga bisa membantu menjaga emosi tetap stabil dan mencegah emotional eating.

Berat badan biasanya turun lebih cepat ketika kebiasaan sehari-hari mulai mendukung tujuan tersebut. Bukan karena tubuh dipaksa bekerja terlalu keras, tetapi karena tubuh mendapatkan pola yang lebih sehat dan konsisten.

Tidak semua kebiasaan harus diubah sekaligus. Mulailah dari satu atau dua hal yang paling realistis dilakukan. Saat satu kebiasaan sudah terasa mudah, tambahkan kebiasaan lain secara bertahap. Dalam jangka panjang, perubahan kecil yang konsisten hampir selalu lebih kuat daripada diet ekstrem yang hanya bertahan beberapa minggu.

Referensi

American Psychological Association. “Stress Effects on the Body.” Diakses April 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Physical Activity Guidelines for Adults.” Diakses April 2026.

Heather J Leidy et al., “The Role of Protein in Weight Loss and Maintenance,” American Journal of Clinical Nutrition 101, no. 6 (April 30, 2015): 1320S-1329S, https://doi.org/10.3945/ajcn.114.084038.

Nancy C. Howarth, Edward Saltzman, and Susan B. Roberts, “Dietary Fiber and Weight Regulation,” Nutrition Reviews 59, no. 5 (April 27, 2009): 129–39, https://doi.org/10.1111/j.1753-4887.2001.tb07001.x.

Mayo Clinic. “Exercise for Weight Loss: Calories Burned in 1 Hour.” Diakses April 2026.

T Ohkuma et al., “Association Between Eating Rate and Obesity: A Systematic Review and Meta-analysis,” International Journal of Obesity 39, no. 11 (May 25, 2015): 1589–96, https://doi.org/10.1038/ijo.2015.96.

Sleep Foundation. “How Sleep Affects Appetite.” Diakses April 2026.

World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: World Health Organization, 2015. Diakses April 2026.

Yaguang Zheng et al., “Association Between Self-Weighing and Percent Weight Change: Mediation Effects of Adherence to Energy Intake and Expenditure Goals,” Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 116, no. 4 (December 25, 2015): 660–66, https://doi.org/10.1016/j.jand.2015.10.014.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More