“About Nipah Virus.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — What Is It, Where Is It Found and How Does It Spread?” UK Health Security Agency Blog. Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — Diseases & Symptoms.” Cleveland Clinic Health. Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — Emerging Zoonotic Disease.” Bangkok Hospital. Diakses Februari 2026.
Gejala Awal Infeksi Virus Nipah yang Sering Tidak Disadari

- Nipah adalah penyakit zoonosis yang berasal dari hewan, pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 selama wabah di peternakan babi di Malaysia.
- Virus Nipah menyebar melalui makanan terkontaminasi dan kontak fisik dengan hewan yang terinfeksi, serta dapat menular dari satu manusia ke manusia lain.
- Gejala awal virus Nipah mirip dengan influenza, tapi bisa berkembang menjadi pembengkakan otak yang mematikan bagi manusia.
Wabah Nipah baru-baru ini membuat heboh banyak orang. Meski di Indonesia sendiri belum ada kasus Nipah yang dilaporkan, tetapi kemunculan kembali penyakit ini di negara tetangga seperti Bangladesh tentu membuat Indonesia juga harus ikut waspada.
Di Indonesia, penyakit Nipah mungkin terdengar asing. Namun nyatanya penyakit ini bukanlah penyakit baru. Di negara lain seperti Bangladesh, kasus infeksi Nipah terjadi hampir setiap tahun dan telah menyebabkan banyak kematian. Jadi sebetulnya apa itu penyakit dari virus Nipah dan seperti apa gejalanya? Berikut penjelasannya!
Table of Content
1. Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari hewan

Nipah merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah. Dilansir WHO, keberadaan virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 selama wabah di peternakan babi yang terjadi di Malaysia. Selang 1 tahun kemudian, wabah yang sama juga terjadi di Singapura setelah mereka menerima impor babi yang sakit dari Malaysia. Pada tahun 2001, wabah infeksi virus Nipah terjadi di India dan Bangladesh, serta di Filipina pada tahun 2014 lalu.
Awalnya virus Nipah sendiri berasal dari kelelawar buah genus Pteropus. Kelelawar spesies ini banyak ditemukan di wilayah Asia, terutama Asia Tenggara dan Selatan. Virus kemudian menyebar pada sejumlah hewan seperti anjing, kucing, babi, kambing, dan kuda sebelum akhirnya menginfeksi manusia.
2. Pada manusia, virus Nipah menyebar melalui makanan dan kontak fisik

Jika virus ini ditemukan pada hewan, lantas bagaimana ceritanya virus ini bisa menyebar pada manusia? Dilansir Bangkok Hospital, virus Nipah menginfeksi manusia melalui makanan yang sudah terkontaminasi seperti buah-buahan yang memiliki bekas gigitan hewan. Cara lainnya adalah melalui kontak dengan kotoran maupun cairan tubuh hewan yang sudah terinfeksi virus.
Gak hanya berhenti di satu orang, virus Nipah juga bisa menyebar dari satu manusia ke manusia lain. Pada manusia, virus ini memang gak menyebar secepat flu. Pasalnya virus ini menyebar melalui cairan tubuh orang yang sakit atau bisa juga melalui kontak dekat. Petugas kesehatan maupun keluarga terdekat memiliki risiko paling tinggi tertular virus Nipah dari orang yang mereka rawat.
3. Gejala infeksi virus Nipah yang jarang disadari

Penyakit Nipah merupakan penyakit berbahaya dengan kisaran kematian antara 40-75 persen. Sayangnya gejala penyakit ini kerap kali gak disadari sehingga ketika akhirnya mendapatkan penanganan medis, kondisi pasien sudah sangat parah. Biasanya gejala awal virus Nipah muncul antara 3 sampai 14 hari setelah infeksi terjadi.
Dilansir CDC, gejala awal penyakit Nipah sendiri sebetulnya mirip dengan influenza yakni demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, hingga muntah. Beberapa orang juga mengalami kesulitan bernapas atau pneumonia. Pada tahap yang lebih serius, infeksi virus Nipah juga menyebabkan pembengkakan otak di mana gejalanya meliputi kantuk, kebingungan, dan kejang yang berakhir dengan koma dalam waktu 24-48 jam setelah gejala serius.
Virus Nipah sangatlah mematikan bagi manusia. Mereka yang sembuh juga tetap memiliki risiko terkena penyakit yang sama karena virus aktif kembali setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah infeksi awal. Meski saat ini belum ada kasus yang terdeteksi, mewaspadai penyakit ini tetaplah diperlukan. Salah satu caranya adalah dengan mengenali gejala awal, dan menghindari apa pun yang dapat membuat kita tertular. Misalnya dengan menghindari konsumsi buah yang memiliki bekas gigitan hewan, buah yang dipajang secara terbuka, hingga menghindari kontak dengan hewan maupun orang yang sedang sakit.
Referensi


















