"Northwestern Medicine surgeons develop a total artificial lung system to keep a patient alive for 48 hours after removing both lungs, enabling a double-lung transplant." Northwestern Medicine. Diakses Februari 2026.
Yuanqing Yan et al., “Bridge to Transplant Using a Flow-adaptive Extracorporeal Total Artificial Lung System Following Bilateral Pneumonectomy,” Med, January 1, 2026, 100985, https://doi.org/10.1016/j.medj.2025.100985.
"48 hours without lungs: artificial organ kept man alive until transplant." Nature. Diakses Februari 2026.
Kisah Medis Luar Biasa: Bertahan Hidup Tanpa Paru-Paru Selama 2 Hari

- Tim bedah berhasil mempertahankan kehidupan pasien tanpa paru-paru selama 48 jam dengan menggunakan sistem total artificial lung yang menggantikan fungsi paru-paru sekaligus menjaga sirkulasi darah tubuh.
- Pasien mengalami gagal paru berat akibat ARDS yang dipicu infeksi influenza B dan pneumonia yang kebal antibiotik, yang menghancurkan jaringan paru-parunya.
- Pendekatan inovatif ini membuka kemungkinan baru bagi pasien dengan kerusakan paru parah untuk mencapai transplantasi yang sukses, meskipun masih memerlukan fasilitas medis sangat khusus.
Dalam setiap tarikan napas, paru-paru menyuplai oksigen ke darah dan menyingkirkan karbon dioksida. Fungsi ini begitu mendasar sehingga ketiadaannya biasanya menyebabkan kematian dalam hitungan menit. Namun, sebuah tim bedah di Northwestern Medicine, Amerika Serikat (AS) mampu mempertahankan pasien hidup selama 48 jam tanpa paru-paru. Ini merupakan sebuah pencapaian besar tak hanya secara teknologi, tetapi juga harapan bagi pasien dengan kerusakan paru akut.
Kasus ini bermula pada musim semi 2023, ketika seorang pria berusia 33 tahun dari Missouri, AS, dibawa ke rumah sakit dengan kegagalan paru-paru yang dipicu oleh virus influenza B yang berkembang menjadi pneumonia nekrotik yang sangat agresif serta infeksi bakteri yang kebal antibiotik. Kondisi tersebut berakhir pada sepsis dan kegagalan organ ganda, termasuk jantung dan ginjal. Standar dukungan hidup lewat ventilator atau ECMO (mesin bantuan pernapasan dan sirkulasi) tidak cukup menyelamatkan nyawanya.
Tim dokter menyadari bahwa paru-paru yang sakit bukan cuma tidak bisa pulih, tetapi juga menjadi sumber utama infeksi yang mengancam seluruh tubuh. Tanpa paru-paru yang sehat, organ-organ vital lain menjadi rusak. Tim medis berada dalam dilema besar: paru-paru pasien harus diangkat untuk menghentikan infeksi, tetapi tanpa paru-paru pasien tidak bisa hidup. Titik kritis ini mendorong tim dokter mencari solusi medis yang tak biasa.
Berkat teknologi Total Artificial Lung
Untuk mengatasi situasi yang tampaknya mustahil, tim yang dipimpin oleh Dr. Ankit Bharat, ahli bedah toraks dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, merancang dan menerapkan sistem paru-paru buatan total (total artificial lung/TAL).
Alat ini bukan sekadar mesin oksigenasi darah yang mirip dengan ECMO biasa, melainkan sistem yang secara simultan mempertahankan pertukaran gas dan aliran darah yang stabil, sebuah aspek yang pada alat sebelumnya belum mampu dilakukan tanpa risiko gagal jantung.
Begitu paru-paru pasien diangkat dengan tindakan pneumonektomi bilateral, mesin TAL mengambil alih peran respirasi dengan cara mengoksigenasi darah, mengeluarkan karbon dioksida, dan memastikan sirkulasi tetap seimbang sehingga jantung dapat terus memompa darah ke seluruh tubuh. Solusi ini melampaui dukungan pernapasan, memungkinkan proses vital tubuh tetap berjalan tanpa paru-paru.
Dalam 48 jam pascaoperasi, tekanan darah pasien mulai stabil, fungsi ginjal pulih, dan tanda-tanda sepsis menurun drastis—sesuatu yang tak mungkin terjadi ketika paru-paru yang terinfeksi masih ada. Dengan tubuh yang lebih stabil, donor paru-paru akhirnya tersedia, dan transplantasi ganda dilakukan dengan sukses.
Apa artinya untuk dunia medis?

Langkah medis bold ini menunjukkan bahwa dalam kasus tertentu seperti ARDS dan infeksi parah yang menghancurkan paru-paru, pendekatan konvensional mungkin tidak selalu cukup. Analisis molekuler paru-paru yang diangkat menunjukkan hampir tiadanya kemampuan biologis untuk pulih, serta infiltrasi sel inflamasi dan jaringan parut yang luas. Itu adalah bukti bahwa pemulihan spontan tidak akan terjadi tanpa transplantasi.
Pendekatan dengan TAL membuka jalan untuk strategi jembatan menuju transplantasi baru bagi pasien yang sangat kritis dan sebelumnya dianggap tidak bisa ditransplantasi. Teknologi ini tetap kompleks dan saat ini hanya tersedia di pusat medis tingkat tinggi dengan tim bedah dan intensif yang berpengalaman. Namun, para peneliti berharap inovasi ini bisa terus disempurnakan sehingga suatu hari menjadi bagian dari perangkat medis standar untuk kondisi serupa.
Selain itu, molekuler profiling dari jaringan paru-paru rusak memberikan pandangan baru bagi para tenaga medis tentang kapan dukungan konvensional tidak lagi efektif dan transplantasi harus dipertimbangkan sedini mungkin—informasi yang bisa mengubah pendekatan terhadap ARDS berat di masa depan
Kisah pasien yang hidup selama 48 jam tanpa paru-paru adalah salah satu tonggak besar dalam sejarah pengobatan modern, bukti bahwa dengan teknologi yang tepat, batasan fisiologis bisa didefinisi ulang, termasuk hidup tanpa paru-paru. Dengan keberhasilan ini, muncul harapan bahwa nantinya dokter bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa bagi pasien yang terjebak antara kegagalan organ akut dan menunggu donor yang tersedia.
Referensi


















