Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Telur Rebus atau Omelet, Mana yang Lebih Cocok untuk Diet?

Telur Rebus atau Omelet, Mana yang Lebih Cocok untuk Diet?
ilustrasi telur rebus (vecteezy.com/Bigc Studio)
Intinya Sih
  • Telur rebus cocok untuk mengatur defisit kalori karena dimasak tanpa minyak dan satu butir besar mengandung sekitar 78 kalori.
  • Omelet dapat memperkaya menu diet dengan sayuran seperti bayam, tomat, jamur, paprika, atau brokoli, sehingga menambah vitamin, mineral, dan serat.
  • Keduanya memiliki protein dan kolesterol telur yang hampir sama; perbedaan utama terletak pada bahan tambahan, terutama lemak jenuh dari mentega, keju, atau daging olahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Telur hampir selalu masuk ke dalam menu diet karena kaya protein, mudah diolah, dan harganya relatif terjangkau. Meski begitu, cara mengolah telur sering menjadi bahan perdebatan.

Sebagian orang yang menjalani diet memilih telur rebus karena dianggap lebih sehat, sementara yang lain lebih menyukai omelet karena rasanya lebih nikmat dan mudah dipadukan dengan berbagai bahan. Lalu, mana yang lebih cocok untuk mendukung program diet? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Telur rebus menjaga asupan kalori tetap konsisten

ilustrasi telur rebus
ilustrasi telur rebus (vecteezy.com/Bigc Studio)

Salah satu keunggulan telur rebus adalah proses memasaknya yang sangat sederhana. Telur hanya direbus di dalam air tanpa memerlukan minyak, mentega, atau margarin. Satu butir telur rebus berukuran besar mengandung sekitar 78 kalori, sehingga jumlah kalorinya relatif tetap karena tidak ada tambahan lemak selama proses memasak.

Hal ini juga memudahkan saat menyusun menu sehari-hari. Kamu tidak perlu lagi menghitung tambahan kalori yang berasal dari minyak goreng atau bahan pelengkap lain yang sering digunakan saat memasak. Sebagai perbandingan, satu sendok teh minyak goreng saja dapat menambahkan sekitar 40 kalori ke dalam masakan. Bagi orang yang sedang menerapkan defisit kalori, perbedaan kecil seperti ini bisa membantu menjaga total asupan kalori harian tetap sesuai target.

2. Omelet lebih mudah diperkaya dengan berbagai zat gizi

ilustrasi omelet
ilustrasi omelet (commons.wikimedia.org/Berishasinan)

Omelet unggul karena lebih fleksibel untuk diolah. Dalam satu porsi omelet, kamu bisa menambahkan berbagai jenis sayuran seperti bayam, tomat, jamur, paprika, atau brokoli. Kebiasaan ini membuat menu diet tidak hanya lebih berwarna, tetapi juga meningkatkan asupan vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh.

Sayuran juga membantu melengkapi kandungan gizi yang tidak banyak terdapat pada telur. Misalnya, paprika kaya vitamin C, bayam mengandung folat dan zat besi, sedangkan jamur menyumbang beberapa jenis vitamin B serta mineral. Dengan memilih bahan yang beragam, satu porsi omelet dapat menjadi menu yang lebih lengkap tanpa harus menyiapkan banyak lauk tambahan.

3. Kandungan protein keduanya tidaklah jauh berbeda

ilustrasi omelet
ilustrasi omelet (vecteezy.com/stockimagefactory.com)

Perbedaan cara memasak ternyata tidak banyak mengubah kandungan protein pada telur. Baik telur rebus maupun omelet tetap menyediakan protein berkualitas tinggi yang mengandung sembilan asam amino esensial. Protein ini dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, menjaga massa otot, serta mendukung proses pemulihan setelah beraktivitas atau berolahraga.

Protein juga dicerna lebih lambat dibanding karbohidrat sederhana sehingga dapat membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama. Karena alasan tersebut, telur sering dijadikan salah satu sumber protein dalam menu diet maupun pola makan tinggi protein. Selama proses memasaknya tidak menggunakan terlalu banyak bahan tambahan yang tinggi lemak dan kalori, baik telur rebus maupun omelet tetap dapat memberikan manfaat protein yang hampir setara bagi tubuh.

4. Kolesterol telur tidak selalu menjadi penyebab kolesterol darah meningkat

ilustrasi telur
ilustrasi telur (pexels.com/ Estudio Gourmet)

Satu butir telur berukuran besar mengandung sekitar 186 miligram kolesterol, dan hampir seluruhnya berada di bagian kuning telur. Jumlah tersebut tetap sama, baik telur diolah menjadi telur rebus maupun omelet, karena proses memasak tidak mengubah kandungan kolesterol di dalam telur. Dengan kata lain, perbedaan utama kedua menu ini bukan berasal dari telurnya, melainkan dari bahan tambahan yang digunakan saat memasak.

Jika omelet dimasak menggunakan banyak mentega, keju, atau daging olahan seperti sosis dan bacon, kandungan lemak jenuh dalam satu porsi akan meningkat. Sebaliknya, omelet yang dimasak dengan sedikit minyak dan diisi sayuran tetap dapat menjadi pilihan yang lebih seimbang. Bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi atau sedang menjalani pola makan rendah lemak jenuh, memperhatikan bahan tambahan pada omelet sering kali lebih penting daripada memilih antara telur rebus atau omelet itu sendiri.

Telur rebus maupun omelet sama-sama bisa menjadi pilihan yang baik untuk menu diet. Telur rebus unggul karena lebih sederhana dan lebih mudah dalam pengaturan kalori, sedangkan omelet bisa menambah variasi zat gizi melalui aneka sayuran. Selama dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang, keduanya dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi tanpa menghambat tujuan diet. Jadi, mana yang lebih sering kamu pilih sebagai menu andalan sehari-hari?

Referensi

"What Is the Healthiest Way to Cook and Eat Eggs?" Healthline. Diakses pada Agustus 2026.

"Boiled Egg Vs Omelette For Weight Loss: Which Is The Healthier Protein Choice?" The Health Site. Diakses pada Agustus 2026.

"How Hard-Boiled Eggs Can Transform Your Health." VeryWell Mind. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More