Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukan Recovery Run?
ilustrasi recovery run (magnific.com/tirachardz)
  • Recovery run cocok dilakukan setelah latihan berat atau sehari setelah long run, saat kaki terasa pegal dan energi terkuras tetapi tubuh masih nyaman untuk bergerak.
  • Sesi ini perlu dijalankan santai dengan pace, jarak, dan rute lebih ringan; fokusnya menjaga tubuh aktif, bukan mengejar target kecepatan atau rekor.
  • Kondisi tubuh menjadi patokan utama: bila hanya lelah ringan, recovery run bisa dipilih; jika sangat lelah, nyeri tajam, atau gerakan terganggu, istirahat lebih tepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semangat lari lagi tinggi-tingginya, tapi begitu bangun keesokan harinya, kaki justru terasa berat, pegal, dan rasanya pengin rebahan terus. Kondisi seperti ini cukup familiar bagi pelari, apalagi setelah menuntaskan jarak yang lumayan jauh atau latihan dengan intensitas tinggi. Nah, daripada buru-buru kembali menggeber pace dan malah bikin tubuh makin terkuras, recovery run bisa jadi pilihan untuk tetap bergerak dengan intensitas ringan sambil memberi waktu bagi tubuh untuk memulihkan diri.

Recovery run pada dasarnya adalah lari dengan intensitas ringan yang dilakukan untuk membantu tubuh tetap aktif di sela-sela sesi latihan yang lebih berat. Meski terdengar simpel, menentukan waktu yang tepat untuk melakukannya tetap penting agar latihan gak malah bikin tubuh makin kelelahan. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk melakukan recovery run? Yuk, simak selengkapnya biar gak salah langkah!

1. Setelah latihan berat, tubuh terasa lelah

ilustrasi lelah setelah olahraga (magnific.com/stockking)

Setelah menjalani long run atau latihan interval, wajar kalau pada hari berikutnya kaki terasa berat, pegal, serta tidak sefleksibel biasanya. Dalam keadaan seperti ini, banyak pelari merasa perlu untuk tetap berlatih dengan tingkat intensitas yang sama agar tidak merusak jadwal latihan mereka. Namun, pada kenyataannya, tubuh memerlukan waktu untuk pulih setelah menerima beban latihan yang cukup besar.

Memaksakan pace atau jarak seperti biasanya dapat memperburuk rasa lelah dan menurunkan kualitas sesi latihan berikutnya. Sebagai alternatif, recovery run dengan pace santai bisa menjadi pilihan untuk tetap berlari tanpa memberikan tekanan seberat sesi latihan sebelumnya. Oleh karena itu, ketika tubuh terasa lelah setelah latihan utama, gak ada salahnya untuk mengurangi intensitas dan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri.

2. Sehari setelah long run bisa jadi waktu yang pas

ilustrasi jalan kaki (magnific.com/nensuria)

Long run biasanya merupakan salah satu sesi yang sangat menguras tenaga, terutama ketika jaraknya jauh melebihi rutinitas biasa. Gak heran kalau setelah menyelesaikannya, kaki menjadi kaku dan energi seperti terkuras. Recovery run pada hari berikutnya bisa dilakukan kalau tubuh masih merasa cukup nyaman untuk bergerak dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.

Lari dengan durasi dan intensitas yang ringan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan tanpa perlu mengejar pace atau jarak tertentu. Misalnya, kalau biasanya kamu berlari dengan target pace tertentu, kali ini cukup fokus untuk mempertahankan langkah yang santai dan memastikan percakapan tetap terasa nyaman. Dengan demikian, sesi setelah long run jauh tidak berubah menjadi latihan berat kedua yang malah membuat tubuh semakin lelah.

3. Jangan menunggu sampai badan benar-benar tumpang

ilustrasi istirahat saat berolahraga (magnific.com/freepik)

Ada kalanya tubuh sudah mulai memberikan sinyal sederhana bahwa kamu memerlukan latihan yang lebih ringan, seperti kaki yang terasa berat, langkah yang kurang nyaman, atau energi yang cepat terkuras. Sayangnya, sinyal-sinyal ini sering kali dianggap sebagai alasan untuk bersantai atau diabaikan karena takut kehilangan progres. Namun, menyesuaikan intensitas latihan sesuai dengan kondisi fisik adalah perkara penting untuk menjaga konsistensi dalam rutinitas lari.

Kalau kamu tetap memaksakan latihan berat saat tubuh belum siap, kelelahan dapat menumpuk, membuat sesi berikutnya menjadi semakin sulit. Nah, recovery run bisa menjadi solusi ketika kamu ingin tetap bergerak, tetapi menyadari bahwa tubuh belum siap untuk meningkatkan kecepatan. Perhatikan kondisi fisik dan jadikan rasa lelah sebagai pertimbangan dalam mengatur intensitas, bukan sesuatu yang harus selalu dilawan.

4. Recovery run cocok saat ingin tetap aktif mengejar pace

ilustrasi recovery run (magnific.com/tirachardz)

Bagi beberapa pelari, satu hari tanpa berlatih bisa terasa kurang lengkap, terutama saat sedang mengejar target tertentu. Namun, keinginan untuk terus berlatih kadang membuat sesi yang seharusnya ringan malah berubah menjadi kompetisi kecil dengan diri sendiri. Alih-alih membantu pemulihan, kamu justru kembali berusaha mengejar kecepatan dan memberikan beban yang sebenarnya belum dibutuhkan.

Di sinilah recovery run dapat berperan sebagai sesi lari santai dengan fokus utama untuk menjaga tubuh tetap bergerak, bukan untuk mencapai rekor baru. Kamu bisa mengurangi kecepatan, memperpendek jarak, atau memilih rute yang lebih mudah agar sesi terasa ringan dan terkendali. Jadi, kalau tujuan hari itu adalah pemulihan, tahan ego sedikit untuk mengejar angka dan nikmati saja larinya, lho1

5. Kondisi tubuh tetap jadi patokan utama

ilustrasi adaptasi tubuh (freepik.com/tirachardz)

Meski disebut recovery run, bukan berarti setiap rasa pegal harus dibalas dengan lari ringan. Kalau tubuh terasa sangat lelah, muncul nyeri yang tajam, atau ada keluhan yang mengganggu gerakan, memaksakan diri untuk berlari justru bukan pilihan yang bijak. Recovery bisa berarti mengambil waktu istirahat, tidur cukup, melakukan aktivitas ringan, atau memilih bentuk gerak lain yang terasa nyaman.

Kalau setelah latihan kamu cuma merasa sedikit lelah dan badan masih enak diajak bergerak, recovery run bisa jadi pilihan yang pas. Nah, jangan sampai jadwal latihan malah bikin kamu lupa mendengarkan kondisi tubuh sendiri. Dengan menyesuaikan latihan sesuai kemampuan badan hari itu, kamu tetap bisa menjaga konsistensi tanpa harus memaksakan diri terus-menerus.

Recovery run bisa menjadi pilihan saat tubuh masih ingin bergerak, tetapi belum siap kembali menghadapi latihan dengan intensitas tinggi. Selain mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan recovery run, kamu juga harus menyesuaikan pace, jarak, dan intensitas dengan kondisi tubuh agar sesi lari tetap terasa ringan dan gak malah menambah kelelahan. Nah, kalau badan sedang minta jeda, gak perlu gengsi untuk memperlambat langkah atau mengambil waktu istirahat, karena konsisten berlari juga berarti tahu kapan harus recovery.

Referensi

“An Evidence-Based Approach for Choosing Post-exercise Recovery Techniques to Reduce Markers of Muscle Damage, Soreness, Fatigue, and Inflammation: A Systematic Review With Meta-Analysis.” Frontiers in Physiology. Diakses Agustus 2026.

“Physical Recovery Modalities in Competitive and Elite Endurance Athletes: A Systematic Review and Network Meta-Analysis Finding Limited Evidence of Benefit over Passive Recovery.” Frontiers in Sports and Active Living. Diakses Agustus 2026.

“The Association Between Running Injuries and Training Parameters: A Systematic Review.” Journal of Athletic Training. Diakses Agustus 2026.

“Is There Evidence for an Association Between Changes in Training Load and Running-Related Injuries? A Systematic Review.” Journal of Sport Rehabilitation. Diakses Agustus 2026.

“How much is too much? (Part 2) International Olympic Committee consensus statement on load in sport and risk of illness.” British Journal of Sports Medicine. Diakses Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article