Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
346 Orang Jalani Terapi Psilocybin (Magic Mushroom), Ini Hasilnya
Psilocybe cyanescens, salah satu jamur yang mengandung psilocybin. (commons.wikimedia.org/Ak ccm)
  • Psilocybin adalah senyawa psikedelik dalam magic mushroom, tetapi penggunaan legal di Oregon, AS, bukan berarti psilocybin sudah menjadi obat resep yang disetujui FDA.

  • Studi terhadap 346 pengguna layanan psilocybin legal di Oregon menemukan penurunan gejala depresi, kecemasan, dan PTSD hingga tiga bulan setelah sesi.

  • Reaksi serius memang jarang, tetapi tetap terjadi. Psilocybin bukan terapi untuk dicoba sendiri tanpa pengawasan, terutama pada orang dengan masalah kesehatan mental tertentu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama puluhan tahun, psilocybin lebih dikenal sebagai zat psikedelik dalam magic mushroom. Kini, senyawa yang dapat mengubah persepsi, emosi, dan kesadaran tersebut mulai berpindah dari eksperimen laboratorium ke layanan kesehatan dan wellness yang diatur oleh pemerintah.

Salah satu contohnya di Oregon, Amerika Serikat (AS). Negara bagian tersebut menjadi yang pertama di AS yang membuka layanan psilocybin berlisensi bagi orang dewasa. Namun, perlu digarisbawahi bahwa psilocybin belum menjadi obat resep legal yang disetujui Food and Drug Administration (FDA).

Di tingkat federal AS, zat ini masih masuk Schedule I. Oregon membuat kerangka hukum tingkat negara bagian yang memungkinkan orang berusia 21 tahun atau lebih mengonsumsi psilocybin di pusat layanan berlisensi di bawah pengawasan fasilitator terlatih.

Psilocybin dan magic mushroom tidak persis sama

Magic mushroom adalah sebutan umum untuk berbagai spesies jamur yang mengandung psilocybin. Setelah masuk ke tubuh, psilocybin diubah menjadi psilocin, senyawa aktif yang bekerja terutama pada sistem serotonin di otak dan dapat menyebabkan perubahan persepsi, pemikiran, suasana hati, serta pengalaman sensorik.

Dalam penelitian medis, psilocybin dapat diberikan sebagai senyawa dengan dosis yang terukur. Jadi, penelitian tentang psilocybin tidak sama dengan menyimpulkan bahwa memakan magic mushroom menghasilkan manfaat dan keamanan yang sama.

Di Oregon, klien harus menjalani sesi persiapan terlebih dahulu. Psilocybin cuma boleh dibeli dan dikonsumsi ketika menjalani sesi di pusat berlisensi, dengan fasilitator berada di sana selama prosesnya. Setelahnya, tersedia sesi integrasi untuk membahas pengalaman dan tindak lanjut.

Apa yang terjadi pada 346 orang yang mencobanya?

Psilocybe cubensis, yang umumnya dikenal sebagai magic mushroom, shroom, golden halo, cube, gold cap, atau bluestain smoothcap. (commons.wikimedia.org/Alan Rockefeller)

Studi terbaru dalam JAMA Network Open memberikan gambaran dunia nyata pertama mengenai program tersebut.

Tim peneliti mengikuti 346 orang dewasa yang menjalani layanan psilocybin di 24 pusat berlisensi Oregon antara November 2024 dan Maret 2026. Rata-rata dosis psilocybin yang diberikan adalah 31,9 mg, dan peserta dipantau hingga tiga bulan setelah sesi. Sebanyak 44,2 persen belum pernah menggunakan psikedelik sebelumnya.

Tiga bulan kemudian, proporsi peserta dengan gejala depresi sedang hingga berat turun dari 42,2 persen menjadi 16,5 persen. Untuk kecemasan, angkanya turun dari 45,1 menjadi 13,2 persen, sedangkan gejala PTSD sedang hingga berat turun dari 48,0 menjadi 16,8 persen. Kesejahteraan mental dan kepuasan hidup juga meningkat.

Sebulan setelah sesi, sebanyak 92,2 persen peserta mengatakan mendapat manfaat, dan sekitar 58,6 persen memasukkan pengalaman tersebut ke dalam 10 pengalaman paling bermakna dalam hidup mereka.

Bukan berarti risikonya nol

Empat peserta (1,2 persen) mengalami reaksi perilaku serius yang butuh pertolongan medis. Keempatnya belum pernah menggunakan psikedelik sebelumnya, memiliki kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, dan menerima dosis 25–50 mg.

Keluhan lain yang masih dilaporkan setelah sesi mencakup sakit kepala berkepanjangan, kecemasan atau depresi yang memburuk, dan pada sejumlah kecil peserta muncul pikiran mengenai kematian atau bunuh diri.

Beberapa peserta juga melaporkan gejala mirip hallucinogen persisting perception disorder (HPPD), seperti muncul kembali perubahan persepsi setelah efek akut zat sudah hilang.

Program Oregon sendiri memiliki skrining keselamatan. Orang dapat dinyatakan tidak memenuhi syarat, antara lain jika sedang memiliki keinginan menyakiti diri sendiri atau orang lain, menggunakan lithium dalam 30 hari terakhir, atau pernah didiagnosis mengalami psikosis aktif.

Bukti untuk depresi menjanjikan

Uji klinis acak dalam jurnal JAMA terhadap 104 orang dengan gangguan depresi mayor menemukan bahwa satu dosis psilocybin 25 mg yang diberikan bersama dukungan psikologis menghasilkan penurunan gejala depresi yang lebih besar daripada niacin sebagai kontrol, dan perbedaannya masih terlihat pada hari ke-43.

Uji fase 2 dalam jurnal New England Journal of Medicine juga menemukan bahwa dosis 25 mg memberikan penurunan skor depresi yang lebih besar pada minggu ketiga dibandingkan dosis kontrol 1 mg pada pasien dengan depresi yang resistan terhadap pengobatan (treatment-resistant depression). Namun, efek samping juga terjadi dan penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami keamanan jangka panjang.

Keterbatasan penelitian

Copelandia cyanescens, salah satu jamur yang mengandung psilocybin. (commons.wikimedia.org/Alan Rockefeller)

Studi Oregon memiliki keterbatasan yaitu tidak adanya kelompok kontrol. Peserta memang membaik setelah menggunakan layanan psilocybin, tetapi penelitian ini tidak bisa memastikan seluruh perbaikan tersebut disebabkan oleh psilocybin.

Peserta juga hanya mewakili sekitar 5 persen pengguna layanan psilocybin di Oregon pada periode penelitian dan sebagian besar berpendidikan tinggi serta berkulit putih.

Psilocybin memang sedang menunjukkan potensi untuk kesehatan mental. Namun, bukti yang menjanjikan berasal dari dosis terukur, skrining peserta, lingkungan terkontrol, dan pendampingan, bukan penggunaan magic mushroom tanpa pengawasan.

Referensi

P. Todd Korthuis, Ryan R. Cook, Devin Gregoire, et al., “Safety and Mental Health Outcomes of Oregon State-Regulated Psilocybin Services,” JAMA Network Open 9, no. 8 (2026): e2630608, doi:10.1001/jamanetworkopen.2026.30608.

Charles L. Raison, Gerard Sanacora, Joshua Woolley, et al., “Single-Dose Psilocybin Treatment for Major Depressive Disorder: A Randomized Clinical Trial,” JAMA 330, no. 9 (2023): 843–853, doi:10.1001/jama.2023.14530.

Guy M. Goodwin et al., “Single-Dose Psilocybin for a Treatment-Resistant Episode of Major Depression,” New England Journal of Medicine 387, no. 18 (2022): 1637–1648, doi:10.1056/NEJMoa2206443.

Oregon Health Authority, “What Are Psilocybin Services?,” Oregon Psilocybin Services, diakses Agustus 2026.

U.S. Drug Enforcement Administration, “Psilocybin,” Drugs of Abuse: A DEA Resource Guide, 2024 ed., diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article