Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BPOM Ingatkan Rumus 'KLIK', Jangan Tergiur Obat Diet yang Overclaim

BPOM Ingatkan Rumus 'KLIK', Jangan Tergiur Obat Diet yang Overclaim
ilustrasi obat diet atau obat pelangsing (magnific.com/benzoix)
  • BPOM mengingatkan masyarakat tidak tergiur obat diet instan dan promosi influencer berisiko overclaim; obat resep harus digunakan setelah konsultasi dokter.

  • Sebelum membeli produk kesehatan, terapkan Cek KLIK: periksa kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa; barcode yang mengarah ke laman tak terkait BPOM patut dicurigai.

  • Obesitas adalah penyakit kronis multifaktor yang memerlukan penanganan personal dan menyeluruh, termasuk pola makan cukup gizi, perubahan gaya hidup, serta terapi medis sesuai kondisi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berbagai produk pelangsing yang menawarkan hasil instan masih banyak ditemukan melalui penjualan online dan dipromosikan oleh influencer di media sosial. Banyak konsumen yang tergiur mencobanya, berharap berat badan turun secara cepat tanpa memperhatikan produk yang dipakai secara menyeluruh.

Padahal, obesitas merupakan penyakit kronis yang penanganannya membutuhkan proses. Para ahli mengingatkan agar upaya menurunkan berat badan tidak dilakukan dengan diet ekstrem atau sembarangan mengonsumsi obat yang belum jelas keamanannya.

  1. Jangan percaya klaim berlebihan

    Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. Dr. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap promosi produk kesehatan, termasuk yang dipromosikan influencer.

    Menurutnya, promosi di media sosial terkadang disertai klaim berlebihan atau overclaim. Karena itu, informasi dari review tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menggunakan obat penurun berat badan.

    Dia juga mengingatkan agar penggunaan obat penurun berat badan disesuaikan dengan ketentuan. Jika obat tersebut membutuhkan resep, penggunaannya perlu melalui konsultasi dokter.

    Hal serupa juga disampaikan Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, dr. Prinindita Artiara Dewi, B.MedSc, Sp.GK. Ia mengingatkan masih ada obat yang telah ditarik dari peredaran sejak 2010, tetapi masih ditemukan beredar. Penggunaan obat yang sudah ditarik tentu membawa risiko karena produk tersebut tidak lagi diperbolehkan beredar.

  2. BPOM ingatkan "KLIK"

    Ilustrasi seseorang membaca informasi pada kemasan obat dengan cermat sebelum menggunakan produk tersebut.
    ilustrasi membaca kemasan obat (magnific.com/magnific)

    Untuk menghindari produk ilegal atau bermasalah, Prof. Taruna mengingatkan masyarakat menerapkan "Cek KLIK" sebelum membeli obat maupun produk kesehatan dengan melakukan pengecekan pada "Kemasan, Label, Izin edar dan Kedaluwarsa".

    “Kemasan perlu diperiksa untuk memastikan kondisinya sesuai. Label juga perlu dibaca, termasuk informasi mengenai indikasi atau peruntukan produk. Selanjutnya, pastikan produk memiliki izin edar dan masih dalam masa berlaku. Produk yang telah melewati tanggal kedaluwarsa juga tidak boleh digunakan,” katanya.

    Prof. Taruna juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dengan barcode pada kemasan. Jika setelah dipindai justru mengarah ke laman yang tidak berkaitan dengan BPOM, produk tersebut patut dicurigai dan dapat dilaporkan.

  3. Diet ekstrem bukan jalan keluar

    Dokter Prinindita mengatakan salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan dalam upaya menurunkan berat badan adalah memangkas asupan makanan secara ekstrem. Pola tersebut antara lain makan cuma sekali sehari atau menghilangkan kelompok makanan tertentu seperti karbohidrat.

    "Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja," ujarnya.

    Menurutnya, tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi dengan baik. Karbohidrat berfungsi sebagai salah satu sumber energi, sementara protein berperan sebagai zat pembangun. Lemak, serat, vitamin dan mineral juga tetap diperlukan.

    Pola makan dalam program penurunan berat badan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan energi dan protein dapat berbeda berdasarkan kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.

    "Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalize diet untuk setiap masing-masing individu," lanjut dr. Prinindita.

  4. Obesitas harus ditangani secara tepat

    Ilustrasi obesitas sebagai gambaran kondisi kelebihan berat badan serta risiko kesehatan yang dapat menyertainya.
    ilustrasi obesitas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, mengatakan anggapan bahwa obesitas hanya terjadi karena kurang disiplin juga perlu diluruskan.

    Ada faktor genetik, ketidakseimbangan hormonal dan berbagai faktor lain yang dapat berperan. Kondisi tersebut membuat penyebab obesitas perlu dicari terlebih dahulu agar penanganannya dapat disesuaikan.

    “Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dll., sering kali membutuhkan konsultasi dengan dokter,” katanya.

    Kini ada wadah informasi berbasis sains untuk memahami obesitas dengan lebih baik melalui www.novocare.id sekaligus akses untuk terhubung dengan dokter yang dapat membantu penanganan obesitas secara tepat.

    Penanganan kondisi ini perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat angka pada timbangan, tetapi juga perlu menilai komposisi tubuh dan kemungkinan adanya penyakit penyerta.

    Penanganan obesitas memiliki beberapa pilar. Dokter Riyanny menjelaskan modifikasi gaya hidup menjadi bagian penting, kemudian terapi farmakologi dapat diberikan bila memang diperlukan. Pada kondisi tertentu, tindakan operasi bariatrik menjadi salah satu pilihan.

    Penentuan terapi dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing. Dokter perlu melihat komposisi tubuh serta penyakit penyerta seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular sebelum menentukan penanganan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More