Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Lymphatic Walking? Apakah Lebih Baik dari Jalan Biasa?

Apa Itu Lymphatic Walking? Apakah Lebih Baik dari Jalan Biasa?
ilustrasi lymphatic walking (pexels.com/Tiago Chaves)
  • Lymphatic walking menggambarkan jalan santai dengan postur tegak, ayunan lengan, dan napas dalam, tetapi bukan terapi atau protokol latihan medis yang terstandardisasi.

  • Kontraksi otot saat berjalan membantu pergerakan cairan limfa; aktivitas fisik juga dikaitkan dengan perubahan duktus torasikus, sementara manfaat tambahan napas dalam masih belum pasti.

  • Belum ada bukti lymphatic walking lebih unggul dari jalan biasa atau bisa mendetoksifikasi tubuh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jalan kaki dengan postur tegak, lengan dibiarkan mengayun, tubuh bergerak rileks, lalu napas dibuat dalam dan teratur. Dalam dunia wellness, aktivitas ini dikenal sebagai lymphatic walking atau jalan kaki untuk sistem limfatik.

Dalam literatur medis, lymphatic walking bukan nama terapi atau protokol latihan yang terstandardisasi. Penelitian ilmiah lebih banyak membahas efek aktivitas fisik, kontraksi otot, dan pernapasan terhadap aliran limfa, bukan spesifik lymphatic walking. Meski begitu, konsep jalan kaki ini tetap menarik untuk dibahas.

  1. Gerakan membantu cairan limfa bergerak

    Sistem limfatik memiliki jaringan pembuluh yang mengembalikan kelebihan cairan dari jaringan ke sirkulasi darah sekaligus berperan dalam sistem imun.

    Berbeda dengan darah yang didorong jantung, pergerakan limfa juga terbantu oleh kontraksi otot, gerakan tubuh, pernapasan, serta kontraksi pembuluh limfatik itu sendiri. Aktivitas sehari-hari, seperti berjalan dan stretching, membuat otot berkontraksi dan relaksasi sehingga membantu cairan limfa bergerak.

    Studi klasik terhadap delapan laki-laki menemukan bahwa kontraksi otot kaki saat olahraga meningkatkan pembersihan cairan dari jaringan otot sekitar 3—6 kali dibandingkan ketika beristirahat. Para peneliti menyimpulkan perubahan bentuk otot selama kontraksi membantu mendorong aliran limfa.

    Penelitian yang lebih baru terhadap 20 orang sehat menggunakan ultrasonografi juga menemukan bahwa diameter thoracic duct atau duktus torasikus, pembuluh limfatik terbesar tubuh, meningkat secara signifikan setelah aktivitas fisik. Temuan ini menunjukkan peningkatan aliran limfatik sebagai respons terhadap olahraga.

  2. Bagaimana dengan napas dalam?

    Versi lymphatic walking yang beredar biasanya ikut menekankan pernapasan dalam atau diafragmatik.

    Ada alasan fisiologis di balik gagasan tersebut. Perubahan tekanan di dada dan perut selama bernapas dapat memengaruhi pergerakan limfa melalui duktus torasikus. Studi ultrasonografi pada orang sehat menunjukkan diameter bagian terminal duktus torasikus berubah selama menarik napas dan mengembuskan napas.

    Namun, bukti mengenai seberapa besar pernapasan benar-benar meningkatkan aliran limfa masih belum pasti. Sebuah tinjauan terhadap 23 studi manusia dan hewan menemukan bahwa pernapasan memengaruhi tekanan atau aliran duktus torasikus pada sebagian besar studi, tetapi hasil antarpenelitian sangat bervariasi.

    Jadi, bernapas dalam sambil berjalan boleh saja dilakukan, tetapi belum ada bukti bahwa kombinasi tersebut menghasilkan efek khusus yang tidak didapat dari aktivitas fisik biasa.

  3. Apakah lymphatic walking lebih baik daripada jalan kaki biasa?

    Ilustrasi aktivitas berjalan kaki dengan langkah santai sebagai latihan lymphatic walking untuk mendukung kesehatan tubuh.
    ilustrasi lymphatic walking (pexels.com/Ihsan Adityawarman)

    Penelitian yang tersedia mendukung aktivitas fisik dan kontraksi otot sebagai faktor yang membantu pergerakan limfa. Artinya, berjalan biasa pada dasarnya sudah menjadi inti dari lymphatic walking.

    Tinjauan sistematis terhadap 12 studi dan 367 pasien limfedema (pembengkakan pada jaringan tubuh akibat penumpukan cairan getah bening) tungkai menemukan olahraga tampaknya memberikan manfaat kecil terhadap kualitas hidup, fungsi fisik, nyeri, dan volume tungkai. Namun, kualitas bukti rendah dan jenis latihan sangat beragam, sehingga para peneliti belum dapat menentukan satu latihan tertentu yang terbaik.

    Sebuah metaanalisis pada orang dengan atau berisiko mengalami limfedema terkait kanker juga menunjukkan latihan aerobik dan resistance training secara umum aman serta dapat meningkatkan kekuatan, fungsi, kelelahan, dan kualitas hidup.

    Tidak ada bukti bahwa seseorang harus melakukan lymphatic walking untuk memperoleh manfaat tersebut.

  4. Bagaimana dengan klaim detoksifikasi?

    Sistem limfatik memang membantu menjaga keseimbangan cairan, mengangkut berbagai molekul, dan merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Namun, tidak ada bukti lymphatic walking dapat mengeluarkan racun, membersihkan tubuh, membakar lemak secara khusus, atau meningkatkan sistem imun melebihi manfaat aktivitas fisik biasa.

    Tubuh memiliki hati, ginjal, paru-paru, saluran cerna, dan berbagai sistem biologis lain yang terus memproses serta membuang zat yang tidak diperlukan.

    Jadi, jika seseorang menikmati lymphatic walking karena membuatnya lebih sering bangun dan bergerak, manfaat utamanya tetap berjalan kaki. Kontraksi otot dan pernapasan memang ikut mendukung fisiologi normal sistem limfatik, tetapi tidak perlu teknik khusus untuk membuat sistem limfatik orang sehat bekerja.

    Untuk orang dengan pembengkakan menetap atau limfedema akibat operasi, kanker, radioterapi, atau kondisi medis lainnya, latihan sebaiknya menjadi bagian dari penanganan yang disesuaikan dengan kondisi individual.

    Referensi

    M. Havas et al., “Lymph Flow Dynamics in Exercising Human Skeletal Muscle as Detected by Scintography,” Journal of Physiology 504, no. 1 (1997): 233–239.

    Akira Shinaoka and Yoshihiro Kimata, “Lymphatic Flow Dynamics under Exercise Load Assessed with Thoracic Duct Ultrasonography,” Scientific Reports 15 (2025): 14323, doi:10.1038/s41598-025-99416-8.

    Lucy R. Hinton et al., “The Effect of Respiration and Body Position on Terminal Thoracic Duct Diameter and the Lymphovenous Junction: An Exploratory Ultrasound Study,” Clinical Anatomy 35, no. 4 (2022): 447–453, doi:10.1002/ca.23801.

    Ali Moazzam et al., “The Physiology of Thoracic Duct Pressure and Flow: A Review of the Literature,” Physiological Reports 14 (2026): e70742, doi:10.14814/phy2.70742.

    Merete Celano Wittenkamp, Jan Christensen, Anders Vinther, and Carsten Bogh Juhl, “The Effect of Exercise in Patients with Lower Limb Lymphedema: A Systematic Review,” Journal of Rehabilitation Medicine 57 (2025): 484–498, doi:10.2340/1651-226X.2025.42560.

    Sandra Christine Hayes et al., “The Effect of Exercise for the Prevention and Treatment of Cancer-Related Lymphedema: A Systematic Review with Meta-analysis,” Medicine & Science in Sports & Exercise 54, no. 8 (2022): 1389–1399, doi:10.1249/MSS.0000000000002918.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More