Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 dari 10 Anak Sekolah Alami Gigi Berlubang, Cek Gigi Saja Tak Cukup?
ilustrasi cek kesehatan gigi anak (pexels.com/lakhinandan borah)
  • Kemenkes mencatat 41 persen anak sekolah yang menjalani Cek Kesehatan Gratis mengalami karies atau gigi berlubang.

  • Skrining membantu menemukan masalah lebih awal, tetapi bukti penelitian menunjukkan pemeriksaan di sekolah saja belum tentu membuat anak datang ke dokter gigi atau mendapat perawatan.

  • Setelah karies ditemukan, diperlukan tindak lanjut sesuai kondisi gigi, mulai dari pencegahan dan pemantauan hingga perawatan oleh dokter gigi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seorang anak bisa tetap makan, bermain, dan ke sekolah seperti biasa meski sudah memiliki karies. Karena belum terasa sakit, masalah tersebut mudah luput sampai akhirnya terdeteksi saat pemeriksaan gigi.

Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat 41 persen anak sekolah yang diperiksa mengalami karies atau gigi berlubang, menjadikannya masalah yang paling banyak ditemukan dalam pemeriksaan tersebut.

“Berita baiknya, pemeriksaan gigi adalah salah satu prioritas pemerintah dalam program Cek Kesehatan Gratis. Namun, kabar kurang baiknya, dari hasil pemeriksaan CKG anak sekolah, masalah karies justru menjadi yang paling banyak ditemukan,” kata Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono dalam Kick-off Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026, Kamis (17/9/2026), mengutip rilis Kemenkes.

Menemukan karies lebih awal jelas penting. Namun, pemeriksaan hanyalah satu bagian, setelah itu masih ada tahap memastikan anak yang membutuhkan perawatan benar-benar mendapat tindak lanjut.

1. Skrining bukan pengobatan

Pemeriksaan gigi di sekolah bertujuan menemukan anak yang memiliki atau berisiko mengalami masalah gigi sebelum penyakit menjadi lebih berat. Anak kemudian dapat diarahkan untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Prof. Dante menekankan bahwa pendekatan kesehatan gigi sebaiknya tidak menunggu sampai anak mengeluh sakit.

“Intervensi kesehatan gigi yang paling tepat adalah melalui promotif dan preventif, bukan menunggu sakit kemudian mengobatinya,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan oleh Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg. Tari Tritarayati.

“Kami ingin memperkuat upaya promotif dan preventif agar kepedulian terhadap kesehatan gigi tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi dilanjutkan dengan perawatan dan kebiasaan menjaga kesehatan gigi,” katanya.

2. Pemeriksaan saja belum tentu membawa anak ke dokter gigi

Cochrane Review yang diperbarui pada 2022 menganalisis delapan uji klinis dengan total 21.290 anak usia 4–15 tahun untuk melihat efektivitas program skrining gigi di sekolah.

Para peneliti menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia masih belum cukup untuk memastikan bahwa skrining gigi sekolah secara tradisional membuat lebih banyak anak kemudian mendatangi layanan dokter gigi. Tidak ada pula penelitian dalam tinjauan tersebut yang memiliki tindak lanjut jangka panjang untuk memastikan apakah skrining akhirnya benar-benar memperbaiki kesehatan mulut anak.

Beberapa strategi setelah skrining tampak lebih menjanjikan. Misalnya, surat rujukan yang dibuat lebih spesifik untuk kondisi anak serta skrining yang disertai edukasi dan tawaran perawatan dapat meningkatkan kemungkinan kunjungan ke dokter gigi. Namun, kepastian bukti untuk temuan tersebut masih rendah.

Studi besar lain terhadap lebih dari 16 ribu anak sekolah juga tidak menemukan penurunan karies aktif atau peningkatan kunjungan dokter gigi yang bermakna hanya dengan menerapkan beberapa model skrining sekolah.

Temuan-temuan tersebut bukan berarti pemeriksaan tidak berguna. Sebaliknya, hasilnya menunjukkan bahwa skrining perlu dihubungkan dengan langkah berikutnya—komunikasi kepada orang tua, akses ke dokter gigi, serta perawatan jika memang diperlukan.

3. Apa yang harus dilakukan jika ditemukan karies?

ilustrasi pemeriksaan gigi anak (pexels.com/cottonbro studio)

Tingkat keparahan karies bisa berbeda-beda. Lesi pada tahap awal yang belum membentuk lubang dapat ditangani berbeda dari gigi yang sudah mengalami lubang, kerusakan dalam, atau infeksi.

Penanganan perlu didasarkan risiko dan kondisi masing-masing anak. Pendekatannya dapat meliputi evaluasi berkala, penggunaan fluoride, konseling pola makan, dental sealant, hingga perawatan restoratif ketika terdapat lesi berlubang atau karies yang terus berkembang sesuai indikasi klinis.

Jadi, hasil CKG yang menunjukkan “ada karies” bukan diagnosis akhir mengenai seberapa berat kerusakannya atau tindakan apa yang harus dilakukan. Pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan gigi dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan setiap anak.

4. Jangan menunggu sampai anak sakit gigi

Salah satu masalah karies adalah penyakit ini dapat berkembang sebelum anak merasa sakit.

Ketika tidak ditangani dan kerusakan makin dalam, karies dapat menyebabkan sakit gigi, infeksi, hingga abses. Karies berat dapat mengganggu kemampuan anak untuk makan dan tidur serta membatasi aktivitas sehari-hari.

Dampaknya juga dapat menjalar ke kehidupan sekolah. Karies yang dibiarkan dapat memengaruhi kehadiran dan performa anak di sekolah.

Prof. Dante menganjurkan pemeriksaan rutin setiap enam bulan serta membangun kebiasaan menjaga kesehatan gigi setiap hari, termasuk menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur malam.

Sekolah pun dapat menjadi tempat menemukan masalah lebih awal. Namun, ketika pemeriksaan menunjukkan adanya karies, peran berikutnya beralih kepada orang tua, layanan kesehatan, sekolah, dan sistem rujukan untuk memastikan temuan tersebut tidak berhenti sebagai angka dalam hasil skrining.

Referensi

Donald M. Milsom et al., “The Effectiveness of School Dental Screening: A Cluster-Randomized Control Trial,” Journal of Dental Research 85, no. 10 (2006): 924–928, https://doi.org/10.1177/154405910608501009.

Ankita Arora et al., “School Dental Screening Programmes for Oral Health,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 7 (2022): CD012595, https://doi.org/10.1002/14651858.CD012595.pub4.

World Health Organization. "Ending Childhood Dental Caries: WHO Implementation Manual." Diakses September 2026.

World Health Organization. "WHO Guideline on Environmentally Friendly and Less Invasive Oral Health Care for Preventing and Managing Dental Caries." Diakses September 2026.

American Academy of Pediatric Dentistry. “Caries-Risk Assessment and Management for Infants, Children, and Adolescents.” The Reference Manual of Pediatric Dentistry, 2026–2027.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “4 dari 10 Anak Sekolah Alami Gigi Berlubang, Kemenkes Dorong Periksa Gigi Rutin.” Diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article