Comscore Tracker

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!

Padahal obat-obatan juga banyak membantu memulihkan pasien

Saat ini kita tidak hanya mengadapi pandemi COVID-19, tetapi juga hoaks dan disinformasi seputar penyakit akibat virus corona SARS-CoV-2. Kalau kamu perhatikan, di media sosial banyak sekali yang membagikan informasi tak ada dasar ilmiahnya, apalagi sampai menyebut-nyebut "suara kebenaran". Informasi yang diberikan pun dikemas sedemikian rupa hingga sukses menyesatkan masyarakat.

Satu disinformasi yang cukup banyak beredar adalah kematian pasien COVID-19 konon disebabkan oleh interaksi obat. Apa, sih, interaksi obat? Kenapa sampai dihubung-hubungkan dengan kematian pada pasien COVID-19? Simak penjelasannya berikut ini menurut penuturan ahli!

1. Apa itu interaksi obat?

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Mardya Shakti)

Guru besar departemen farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt., menjelaskan bahwa interaksi obat adalah pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain ketika digunakan bersama-sama pada seorang pasien. Interaksi obat umumnya dapat menyebabkan:

  • Peningkatan efek farmakologi obat lain (sinergis atau aditif)
  • Mengurangi efek obat lain (antagonis)
  • Peningkatan efek yang tidak diinginkan dari obat yang digunakan

Prof. Zullies menekankan kalau interaksi obat tidak selalu berbahaya. Ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan, sehingga tidak bisa dipukul rata dan harus dikaji secara individual.

2. Bagaimana interaksi obat bisa menguntungkan?

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Mardya Shakti)

Banyak kondisi yang membutuhkan lebih dari satu obat untuk terapi, terutama bila penyakit disertai penyakit penyerta atau komorbiditas. Prof. Zullies mencontohkan penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi yang butuh lebih dari satu obat.

"Dalam kasus ini, memang pemilihan obat yang akan dikombinasikan harus tepat, yaitu yang memiliki mekanisme yang berbeda, sehingga ibarat menangkap pencuri, dia bisa dihadang dari berbagai penjuru," kata Prof. Zullies lewat pernyataan tertulis yang diterima IDN Times

Dalam kasus hipertensi, interaksi obat dapat dikatakan menguntungkan karena bersifat sinergis dalam menurunkan tekanan darah. Meski begitu, efek samping juga harus diperhatikan karena semakin banyak obat, semakin tinggi risiko interaksi obatnya.

Baca Juga: WHO Rekomendasikan Tocilizumab dan Sarilumab untuk Pasien COVID-19

3. Interaksi obat dan COVID-19

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!ilustrasi obat COVID-19 (shutterstock.com/Zety Akhzar)

Prof. Zullies menjabarkan COVID-19 sebagai penyakit yang unik karena kondisi pasien-pasiennya bisa "sangat bervariasi". COVID-19 dengan gejala sedang sampai berat dapat menderita radang paru-paru (pneumonia), pembekuan darah (trombosis), gangguan pencernaan, dan variasi gejala lain.

Oleh karena itu, selain antivirus dan suplemen lain, berbagai macam obat diperlukan untuk mengatasi gejala. Jika tak mendapatkan obat yang sesuai, keadaan pasien dapat memburuk hingga menyebabkan kematian. Jadi, tenaga kesehatan pun pasti mempertimbangkan manfaat dan risiko obat pada pasien.

"Tidak ada dokter yang ingin pasiennya meninggal dengan obat-obat yang diberikannya," kata Prof. Zullies.

4. Bagaimana interaksi obat yang merugikan?

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!ilustrasi berbagai jenis obat (tehrantimes.com)

Interaksi obat yang merugikan terjadi jika satu obat malah mengurangi efek atau meningkatkan efek samping obat yang digunakan bersamanya. Jika efek sampingnya sudah berbahaya dari pertama, maka hasil akhirnya pun akan membahayakan nyawa pasien.

"Seperti contohnya obat azitromisin dan hidroksiklorokuin yang dulu digunakan untuk terapi COVID-19, atau azitromisin dengan levofloksasin. Mereka sama-sama memiliki efek samping mengganggu irama jantung. Jika digunakan bersama maka bisa terjadi efek total yang membahayakan," kata Prof. Zullies.

Sekadar mengingatkan, interaksi obat dapat meningkatkan efek terapi obat lain. Ini bisa menguntungkan bila seimbang dan merugikan jika berlebihan. Prof. Zullies memberi contoh efek penurunan kadar gula darah akibat penggunaan insulin dan obat diabetes oral dapat membahayakan pasien.

5. Bagaimana menghindari interaksi obat?

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!ilustrasi dokter dan obat-obatan (freegreatpicture.com)

Bagaimana jika perlu lebih dari satu obat? Perlu dipilih obat yang paling kecil risiko interaksi obatnya. Prof. Zullies mengingatkan tidak semua obat yang digunakan bersama-sama dapat menyebabkan interaksi obat yang signifikan, sehingga aman jika digunakan berbarengan.

Interaksi obat negatif dapat dihindari jika memahami mekanisme interaksi. Mekanisme interaksi obat terdiri dari aspek:

  • Farmakokinetik (memengaruhi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat lain)
  • Farmakodinamik (ikatan dengan reseptor atau target aksinya)

Sebagai contoh, interaksi obat yang terjadi jika bertemu secara fisik, seperti pembentukan ikatan kelat akibat interaksi fisik antibiotik kuinolon dan kalsium, dapat dihindari jika pemberian kedua obat diberi jeda waktu, sehingga tidak berinteraksi.

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!ilustrasi kombinasi obat-obatan (pexels.com/@karolina-grabowska)

Bagaimana kalau mekanismenya memengaruhi metabolisme obat sehingga menyebabkan peningkatan atau pengurangan kadar obat lain? Kalau begitu, tidak cukup hanya memberi jeda waktu. Dosis obat pun harus disesuaikan.

Lalu, bagaimana jika pemberian jeda waktu atau penyesuaian dosis tidak mencegah dampak interaksi? Pada kasus tersebut, obat harus diganti dengan yang manfaatnya sama, tetapi berinteraksi minim.

"Jika pemberian jeda pemberian dan penyesuaian dosis tidak dapat mencegah dampak interaksi, maka cara lain untuk menghindari interaksi obat adalah dengan mengganti obat yang berinteraksi dengan obat lain yang kegunaannya sama, tetapi kurang berinteraksi," ujar Prof. Zullies.

6. Kesimpulan: interaksi obat tidak semudah itu menyebabkan kematian!

Pasien COVID-19 Meninggal akibat Interaksi Obat? Ini Kata Ahli!ilustrasi obat-obatan (unsplash.com/Christine Sandu)

Jangan termakan informasi yang salah, karena tidak semua interaksi obat menyebabkan kematian. Prof. Zullies menegaskan bahwa jika ada yang menyebutkan kalau kematian pasien COVID-19 adalah semata-mata karena interaksi obat, maka "pernyataan itu tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan".

Jika penggunaan obat dapat menyebabkan interaksi secara klinis, maka Prof. Zullies menganjurkan pemantauan hasil terapi obat harus ditingkatkan. Selain itu, perlu kerja sama antar tenaga kesehatan saat memberikan terapi kepada pasien, sehingga pemantauan terapi obat tetap aman bagi pasien.

"Sehingga, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat interaksi obat, dapat segera dilakukan tindakan yang diperlukan, misal menghentikan atau mengganti obatnya," tanda Prof. Zullies.

Baca Juga: Kapan Pasien COVID-19 Membutuhkan Terapi Oksigen?

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya