Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Terjadi pada Gula Darah Setelah Mengonsumsi Stevia?

4 min read
Apa yang Terjadi pada Gula Darah Setelah Mengonsumsi Stevia?
ilustrasi produk stevia (unsplash.com/Tree of Life Seeds)
  • Stevia tidak menyumbang karbohidrat seperti gula pasir, sehingga saat menggantikan gula dalam minuman, respons gula darah cenderung lebih rendah karena asupan gula berkurang.

  • Uji klinis pada 69 orang menunjukkan stevia tidak memicu lonjakan gula darah akut, tetapi juga tidak menahan kenaikan gula darah dari minuman glukosa yang dikonsumsi bersamanya.

  • Beberapa studi menemukan penurunan kecil pada gula darah puasa, tetapi kepastian bukti masih rendah dan belum menunjukkan penurunan HbA1c yang bermakna.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat ingin mengurangi gula, sebagian orang mengganti gula pasir dalam kopi atau teh dengan stevia. Rasanya tetap manis, tetapi stevia bukan gula pasir dan tubuh tidak memproses keduanya dengan cara yang sama.

Lantas, apakah stevia membuat gula darah naik, stabil, atau justru turun? Terus baca untuk tahu jawabannya, ya.

  1. 1. Stevia bukan gula pasir

    Gula pasir mengandung karbohidrat yang dipecah tubuh menjadi glukosa. Di sisi lain, steviol glikosida digunakan dalam jumlah sangat sedikit untuk memberi rasa manis dan tidak menyumbang karbohidrat seperti gula.

    Karena itu, jika stevia menggantikan gula dalam teh atau kopi, respons gula darah bisa lebih rendah daripada jika minuman itu diberi gula. Efek tersebut terutama terjadi karena asupan gulanya berkurang.

  2. 2. Stevia tidak memicu lonjakan gula darah akut

    Dalam sebuah uji klinis yang terbit pada 2026, peneliti melibatkan 69 orang dewasa dengan berat badan normal, berat badan berlebih, atau diabetes tipe 2. Para peserta diminta mengonsumsi air putih, minuman yang mengandung stevia, minuman glukosa (gula), serta campuran glukosa dan stevia pada hari yang berbeda.

    Selama 3 jam setelah minum, kadar gula darah dan hormon pada peserta yang mengonsumsi stevia tidak terlalu berbeda dibandingkan saat mereka cuma minum air putih. Selain itu, menambahkan stevia ke dalam minuman glukosa juga tidak mengubah respons gula darah dibandingkan minuman glukosa tanpa stevia.

    Hasil ini menunjukkan bahwa stevia tidak menyebabkan lonjakan gula darah dalam jangka pendek. Namun, stevia juga tidak terbukti mengurangi atau menahan kenaikan gula darah dari minuman manis yang dikonsumsi bersamanya.

    Meski demikian, penelitian ini hanya melihat efek jangka pendek, melibatkan jumlah peserta yang relatif kecil, dan didanai oleh perusahaan pangan Cargill. Jadi, hasilnya belum menjawab bagaimana dampak konsumsi stevia dalam jangka panjang.

  3. 3. Apakah stevia bisa menurunkan gula darah?

    Ilustrasi pemanis stevia cair yang diteteskan ke dalam segelas minuman untuk menambah rasa manis.
    ilustrasi meneteskan produk pemanis stevia ke dalam minuman (magnific.com/magnific)

    Penelitian menemukan bahwa konsumsi steviol glikosida berkaitan dengan penurunan kecil gula darah puasa, sekitar 4,1 mg/dL, dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsinya. Namun, tidak ditemukan adanya perbaikan yang berarti pada HbA1c, yaitu ukuran yang menunjukkan rata-rata kadar gula darah selama beberapa bulan terakhir.

    Itu menunjukkan bahwa bukti yang ada saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa stevia bisa menjadi penurun gula darah atau terapi diabetes.

    Selain itu, efek stevia dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pola makan, kondisi kesehatan, dan jenis produk stevia yang digunakan.

  4. 4. Periksa komposisi produk

    Produk stevia berbentuk saset atau bubuk tidak selalu hanya berisi steviol glikosida. Beberapa produk juga bisa mengandung bahan pengisi.

    Sebagai contoh, informasi produk Splenda Stevia menyebut adanya dekstrosa pada saset dan maltodekstrin pada kemasan bubuk tertentu. Dekstrosa dan maltodekstrin termasuk karbohidrat yang dapat memengaruhi gula darah.

    Komposisi setiap merek berbeda. Cek daftar bahan dan jumlah karbohidrat total per sajian pada label, terutama jika sedang menghitung asupan karbohidrat atau menggunakan insulin.

  5. 5. Stevia bisa menjadi pengganti gula

    Standar perawatan diabetes American Diabetes Association 2026 menyebut pemanis nonnutritif bisa digunakan secara moderat dan untuk jangka pendek sebagai pengganti produk bergula, antara lain untuk mengurangi asupan kalori dan karbohidrat. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk minuman sehari-hari.

    Bagi orang dengan diabetes, stevia bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi gula tambahan, tetapi bukan pengganti obat, pemantauan gula darah, atau rencana makan yang disusun bersama dokter atau ahli gizi.

    Kalau kamu menggunakan stevia, perhatikan produk dan ukuran sajiannya karena mungkin saja isinya bukan cuma steviol glikosida.

    Referensi

    Corey E. Scott et al., “Acute Stevia Consumption Does Not Alter Endocrine Responses in Individuals with Normal Weight, Overweight, and Type 2 Diabetes Mellitus,” The Journal of Nutrition (dipublikasikan daring 31 Agustus 2026), artikel 101814, https://doi.org/10.1016/j.tjnut.2026.101814.

    Xuerui Bai et al., “Effect of Steviol Glycosides as Natural Sweeteners on Glucose Metabolism in Adult Participants,” Food & Function 15, no. 8 (2024): 3908–19, https://doi.org/10.1039/D3FO04695H.

    Splenda, “Where Do the Carbohydrates in Splenda Stevia Come From?,” diakses 29 Oktober 2026.

    Diabetes Canada, “Sugars and Sweeteners,” diakses 29 Oktober 2026.

    American Diabetes Association, “How to Read Nutrition Labels: Carbs, Fiber, and Total Carbohydrates,” diakses 29 Oktober 2026.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “CekBTP: Pencarian Global,” diakses 29 Oktober 2026.

    American Diabetes Association, “Facilitating Positive Health Behaviors and Well-being to Improve Health Outcomes: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care (2026), https://doi.org/10.2337/dc26-S005.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More