Dalam sebuah uji klinis yang terbit pada 2026, peneliti melibatkan 69 orang dewasa dengan berat badan normal, berat badan berlebih, atau diabetes tipe 2. Para peserta diminta mengonsumsi air putih, minuman yang mengandung stevia, minuman glukosa (gula), serta campuran glukosa dan stevia pada hari yang berbeda.
Selama 3 jam setelah minum, kadar gula darah dan hormon pada peserta yang mengonsumsi stevia tidak terlalu berbeda dibandingkan saat mereka cuma minum air putih. Selain itu, menambahkan stevia ke dalam minuman glukosa juga tidak mengubah respons gula darah dibandingkan minuman glukosa tanpa stevia.
Hasil ini menunjukkan bahwa stevia tidak menyebabkan lonjakan gula darah dalam jangka pendek. Namun, stevia juga tidak terbukti mengurangi atau menahan kenaikan gula darah dari minuman manis yang dikonsumsi bersamanya.
Meski demikian, penelitian ini hanya melihat efek jangka pendek, melibatkan jumlah peserta yang relatif kecil, dan didanai oleh perusahaan pangan Cargill. Jadi, hasilnya belum menjawab bagaimana dampak konsumsi stevia dalam jangka panjang.