ilustrasi mi instan rebus (vecteezy.com/ Onyengradar)
Mi instan sebenarnya tidak harus dihindari sepenuhnya. Yang lebih penting adalah frekuensi konsumsi dan cara mengombinasikannya dengan makanan lain.
Beberapa cara yang dapat membantu membuat mi instan lebih seimbang antara lain:
Tambahkan sayuran seperti sawi, bayam, atau wortel.
Tambahkan sumber protein seperti telur atau ayam.
Kurangi penggunaan bumbu yang terlalu tinggi natrium.
Batasi konsumsinya, sesekali saja.
Dengan cara ini, mi instan bisa menjadi bagian dari pola makan yang lebih seimbang, walaupun tetap bukan pilihan utama dalam menu harian jika kamu sedang fokus menurunkan berat badan.
Karakteristik nutrisi mi instan, seperti densitas kalori tinggi serta kandungan serat dan protein yang rendah, dapat memengaruhi rasa kenyang dan pola makan sehari-hari.
Kalau kamu sering makan mi instan tanpa mengimbanginya dengan makanan bergizi lainnya, mi instan berpotensi membuat asupan kalori menjadi lebih tinggi dari yang dibutuhkan tubuh. Dalam jangka panjang, ini bisa menghambat upaya menurunkan berat badan.
Pendekatan terbaik adalah menjadikan mi instan sebagai makanan sesekali, sambil tetap memprioritaskan makanan yang lebih tinggi serat, protein, dan nutrisi penting lainnya untuk mendukung kesehatan serta pengelolaan berat badan.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention. “Energy Density and Weight Loss.” Diakses Maret 2026.
Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Fiber.” Diakses Maret 2026.
Heather J Leidy et al., “The Role of Protein in Weight Loss and Maintenance,” American Journal of Clinical Nutrition 101, no. 6 (April 30, 2015): 1320S-1329S, https://doi.org/10.3945/ajcn.114.084038.
Kevin D. Hall et al., “Ultra-Processed Diets Cause Excess Calorie Intake and Weight Gain: An Inpatient Randomized Controlled Trial of Ad Libitum Food Intake,” Cell Metabolism 30, no. 1 (May 16, 2019): 67-77.e3, https://doi.org/10.1016/j.cmet.2019.05.008.
Joanne L. Slavin, “Dietary Fiber and Body Weight,” Nutrition 21, no. 3 (March 1, 2005): 411–18, https://doi.org/10.1016/j.nut.2004.08.018.