- Kunjungan rumah dan tes HIV. Tenaga kesehatan komunitas yang sudah bekerja dalam sistem pemerintah menawarkan pemeriksaan serta rujukan untuk pencegahan atau pengobatan.
- Layanan yang berpusat pada kebutuhan pengguna. Tenaga klinik mendapat pelatihan untuk membantu orang memilih pencegahan yang sesuai dengan kondisi dan kemungkinan paparannya.
- Pilihan pencegahan yang dapat berubah. Pilihan yang tersedia meliputi pre-exposure prophylaxis (PrEP) oral, post-exposure prophylaxis (PEP), dan cincin vagina dapivirine. Pengguna tidak harus bertahan pada satu pilihan ketika kebutuhannya berubah.
- Platform digital. Sistem yang kompatibel dengan layanan kementerian kesehatan menghubungkan pelayanan di rumah dengan fasilitas kesehatan, sehingga rujukan dan tindak lanjut tidak berhenti setelah pemeriksaan pertama.
Strategi Ini Turunkan Insiden HIV hingga 70 Persen

Uji acak pada 16 komunitas perdesaan di Kenya dan Uganda menemukan insiden HIV relatif 70 persen lebih rendah setelah dua tahun intervensi.
Keberhasilan tersebut bukan berasal dari aplikasi semata, melainkan gabungan tes dari rumah, tenaga komunitas, layanan yang disesuaikan, pilihan PrEP dan PEP, serta koordinasi digital dengan klinik.
Hasilnya menjanjikan, tetapi masih dilaporkan sebagai abstrak konferensi. Efek yang sama belum tentu terjadi di wilayah perkotaan atau negara lain tanpa penyesuaian dan penelitian lokal.
Obat untuk mencegah dan mengendalikan HIV sudah tersedia. Akan tetapi, di beberapa wilayah layanan tersebut tidak selalu mudah dijangkau.
Jarak ke klinik, kekhawatiran terhadap stigma, jadwal yang tidak fleksibel, dan putusnya komunikasi setelah tes juga dapat membuat seseorang tidak memperoleh perlindungan yang dibutuhkan.
Di perdesaan Kenya dan Uganda, tenaga kesehatan komunitas mendatangi rumah, menawarkan tes HIV, menilai kebutuhan pencegahan, lalu menghubungkan warga dengan klinik. Sebuah platform digital membantu layanan komunitas dan klinik tetap tersambung.
Hasil uji SEARCH Community Precision Health yang didukung National Institutes of Health (NIH) menunjukkan insiden HIV 70 persen lebih rendah pada komunitas yang menerima strategi tersebut dibandingkan dengan kelompok kontrol. Temuan ini dipresentasikan dalam Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections (CROI) pada Februari 2026.
Table of Content
Apa saja yang dilakukan?
Penelitian ini merupakan uji acak berbasis kelompok. Sebanyak 16 komunitas perdesaan dengan sekitar 80.000 orang dewasa dibagi menjadi kelompok intervensi dan perawatan biasa. Pengacakan dilakukan pada tingkat komunitas.
Intervensinya menggabungkan beberapa komponen:
Teknologi digunakan oleh petugas untuk membantu manusia, layanan, dan informasi kesehatan tetap terhubung.
Apa arti penurunan 70 persen?
Setelah dua tahun, estimasi insiden HIV pada kelompok intervensi adalah 0,06 persen, sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 0,19 persen. Analisis penelitian menghasilkan rasio risiko 0,30, yang berarti insiden pada kelompok intervensi secara relatif 70 persen lebih rendah.
Penurunan 70 persen adalah perbandingan relatif antara dua kelompok, sedangkan perbedaan absolutnya sebesar 0,13 poin persentase.
Penggunaan metode pencegahan biomedis juga sekitar empat kali lebih tinggi pada kelompok intervensi, yaitu 1,67 persen dibandingkan dengan 0,41 persen pada kelompok kontrol. Sementara itu, tingkat pengobatan dan supresi virus pada orang dengan HIV sudah tinggi dan relatif serupa pada kedua kelompok.
Para peneliti menilai peningkatan akses terhadap pencegahan kemungkinan menjadi pendorong utama perbedaan insiden tersebut.
Mengapa layanan yang fleksibel dapat membantu?

Satu jenis pencegahan tidak selalu cocok untuk semua orang sepanjang waktu. Seseorang mungkin butuh PrEP ketika memiliki risiko paparan berkelanjutan, tetapi memilih PEP setelah kejadian tertentu. Sebagian orang lebih nyaman melakukan tes sendiri atau menerima layanan di luar klinik.
Penelitian SEARCH sebelumnya memberikan peserta pilihan antara PrEP dan PEP, tes mandiri atau tes oleh petugas, serta kunjungan di klinik atau di luar fasilitas kesehatan. Pengguna juga dapat mengganti pilihan selama penelitian dan memperoleh rencana dukungan yang disesuaikan dengan hambatannya.
Dalam uji acak terhadap 429 orang di Kenya dan Uganda tersebut, cakupan penggunaan PrEP atau PEP selama 48 minggu mencapai rata-rata 28 persen pada kelompok intervensi, dibandingkan dengan 0,5 persen pada kelompok kontrol. Sedikitnya 98 persen peserta intervensi pernah memilih layanan di luar fasilitas kesehatan.
Temuan tersebut mendukung gagasan bahwa selain ketersediaan obat, lokasi pelayanan, kerahasiaan, pilihan produk, dukungan petugas, dan kemudahan untuk kembali ke layanan juga memengaruhi apakah perlindungan benar-benar digunakan.
Aplikasi saja tidak dapat mencegah HIV
Penelitian terbaru menguji satu paket intervensi, sehingga kontribusi masing-masing komponen tidak dapat dipisahkan. Data tersebut tidak dapat menunjukkan apakah aplikasi, kunjungan rumah, pilihan PrEP dan PEP, pelatihan petugas, atau kombinasi semuanya memberikan pengaruh paling besar.
Ada beberapa keterbatasan lain yang perlu diperhatikan:
- Penelitian hanya mencakup 16 komunitas perdesaan di Kenya dan Uganda.
- Kondisi layanan, pola penularan, dan penerimaan masyarakat dapat berbeda di wilayah perkotaan atau negara lain.
- Insiden dinilai menggunakan algoritme laboratorium yang mengidentifikasi infeksi yang diperkirakan baru terjadi.
- Hasil utama masih disampaikan sebagai abstrak konferensi. Sampai akhir Juli 2026, laporan lengkap hasil uji ini belum ditemukan dalam artikel jurnal yang telah melewati proses telaah sejawat.
Para peneliti juga menyebut dampaknya di daerah perkotaan belum diketahui, terutama karena komunitas penelitian sudah memiliki tingkat pengobatan dan supresi virus yang tinggi.
Apa pelajarannya untuk Indonesia?
Kementerian Kesehatan RI memperkirakan sekitar 564.000 orang hidup dengan HIV di Indonesia pada 2025, tetapi baru sekitar 63 persen yang mengetahui statusnya.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa tersedianya tes dan obat belum otomatis berarti semua orang dapat mengakses, memulai, dan bertahan dalam layanan.
Hasil SEARCH menunjukkan model yang layak diuji di Indonesia, yaitu mendekatkan pemeriksaan ke masyarakat, melibatkan pekerja komunitas, memberi pilihan pencegahan berdasarkan kebutuhan, serta memastikan rujukan tidak terputus setelah tes.
Penerapannya tetap memerlukan penelitian lokal, perlindungan kerahasiaan data, tenaga yang terlatih, dan ketersediaan obat yang berkelanjutan.
PrEP juga sudah tercantum sebagai pilihan pencegahan HIV, sementara PEP merupakan pertolongan darurat yang perlu dimulai secepatnya dan paling lambat dalam 72 jam setelah kemungkinan paparan.
Langkah yang dapat dilakukan secara pribadi
Penelitian ini menilai strategi pada tingkat komunitas. Namun, alat pencegahan di dalamnya juga dapat digunakan secara individual melalui pendampingan tenaga kesehatan:
- Jalani tes HIV jika belum mengetahui status atau pernah mengalami kemungkinan paparan.
- Tanyakan tentang PrEP jika kemungkinan terpapar HIV berlangsung terus atau berulang.
- Segera cari PEP setelah kejadian berisiko; jangan menunggu gejala dan jangan melewati batas 72 jam.
- Mulai dan jalani terapi antiretroviral (ARV) jika terdiagnosis HIV. Orang dengan HIV yang mengonsumsi ARV secara teratur dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.
Strategi penurunan insiden HIV sebesar 70 persen dalam studi di Kenya dan Uganda menggabungkan teknologi dengan hubungan manusia. Petugas mendatangi masyarakat, klinik menyediakan pilihan yang fleksibel, dan sistem digital menjaga agar pengguna tidak putus hubungan dari layanan.
Bisa disimpulkan bahwa keberhasilan pencegahan HIV bukan cuma ditentukan oleh seberapa efektif obat bekerja, tetapi juga apakah seseorang dapat menemukan layanan, merasa aman menggunakannya, memilih metode yang sesuai, dan memperoleh bantuan ketika kebutuhannya berubah.
Referensi
Gabriel Chamié et al., “The Impact of SEARCH Community Precision Health on HIV Incidence in Rural Kenya and Uganda,” abstract 163, 33rd Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections, Denver, February 22–25, 2026, diakses Juli 2026.
National Institutes of Health, “NIH-Supported Trial Reduces HIV Incidence by 70% in Rural Populations,” diakses Juli 2026.
Elijah R. Kakande et al., “A Community-Based Dynamic Choice Model for HIV Prevention Improves PrEP and PEP Coverage in Rural Uganda and Kenya: A Cluster Randomized Trial,” Journal of the International AIDS Society 26, no. 12 (2023): e26195, https://doi.org/10.1002/jia2.26195.
Kementerian Kesehatan RI, “Berani Tes, Berani Lindungi Diri, Kemenkes Targetkan Eliminasi HIV dan IMS Tahun 2030,” diakses Juli 2026.
Kementerian Kesehatan RI, “HIV,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, "The Role of HIV Viral Suppression in Improving Individual Health and Reducing Transmission," diakses Juli 2026.





![[QUIZ] Cek di Sini, Porsi Proteinmu Harian Kamu Sudah Cukup atau Belum?](https://image.idntimes.com/post/20230213/pexels-rodnae-productions-6646274-220ea01d21b91c430f62ef802a06e0a0-ec28e7292ad9728ad5077f754f8a568f.jpg)















![[QUIZ] Kapan Kamu Perlu Mulai Diet? Temukan Jawabannya dengan Tes Ini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)
