Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fakta Tenofovir untuk Mencegah Penularan Hepatitis B

Fakta Tenofovir untuk Mencegah Penularan Hepatitis B
ilustrasi seorang ibu hamil melakukan telemedicine dengan dokter kandungan (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Tenofovir digunakan untuk menekan jumlah virus pada ibu hamil dengan hepatitis B tertentu sehingga risiko penularan kepada bayi berkurang.

  • Obat ini bukan pengganti vaksin. Bayi tetap harus mendapat vaksin hepatitis B segera setelah lahir, disertai HBIG sesuai indikasi.

  • Tenofovir harus diberikan dan dihentikan di bawah pengawasan tenaga kesehatan karena kondisi hati dan fungsi ginjal perlu dipantau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hasil HBsAg reaktif selama kehamilan menimbulkan dua kekhawatiran sekaligus, yaitu kondisi kesehatan ibu hamil dan kemungkinan virus menulari bayi. Dalam situasi tertentu, tenaga kesehatan dapat menawarkan tenofovir sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Namun, perlu ditekankan bahwa tenofovir bukan obat yang rutin diminum orang sehat agar tidak tertular hepatitis B. Peran pencegahannya adalah menurunkan risiko penularan virus dari ibu yang terinfeksi kepada bayi, khususnya ketika jumlah virus dalam darah ibu sangat tinggi.

Berikut fakta penting yang perlu dipahami.

1. Tenofovir menekan virus, tetapi tidak menggantikan vaksin

Tenofovir merupakan antivirus yang menghambat perkembangbiakan virus hepatitis B (HBV). Ketika jumlah virus dalam darah ibu berkurang menjelang persalinan, kemungkinan bayi terpapar virus dalam jumlah besar juga menurun.

Obat ini tidak menghilangkan seluruh HBV dari tubuh dan tidak membuat seseorang kebal seperti vaksin. Tenofovir juga digunakan untuk mengobati hepatitis B kronis pada orang yang memenuhi kriteria.

Untuk orang yang belum terinfeksi, metode pencegahan utama tetap vaksin hepatitis B. Setelah paparan darah atau cairan tubuh berisiko, pencegahan yang direkomendasikan berupa vaksin dan, dalam kondisi tertentu, imunoglobulin hepatitis B (HBIG).

2. Tidak semua ibu dengan HBsAg reaktif membutuhkan tenofovir

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menganjurkan pemeriksaan HBsAg pada seluruh ibu hamil. Jika hasilnya reaktif, pemeriksaan dilanjutkan dengan HBV DNA untuk mengetahui jumlah virus.

HBeAg dapat digunakan sebagai penanda alternatif ketika pemeriksaan HBV DNA tidak tersedia.

Dalam pedoman nasional, profilaksis tenofovir dipertimbangkan apabila:

  • HBV DNA mencapai sedikitnya 200.000 IU/mL.
  • HBeAg positif sebagai alternatif penilaian ketika HBV DNA tidak tersedia.

Apabila jumlah virus berada di bawah batas tersebut, ibu hamil belum tentu membutuhkan tenofovir untuk mencegah penularan, meskipun tetap memerlukan evaluasi kondisi hati dan pemantauan hepatitis B.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggunakan ambang HBV DNA yang sama untuk mengidentifikasi ibu dengan risiko penularan lebih tinggi. Pada kelompok inilah vaksin dan HBIG untuk bayi kadang belum cukup memberikan perlindungan optimal tanpa penurunan jumlah virus pada ibu.

3. Tenofovir umumnya dimulai menjelang persalinan

Ilustrasi ibu hamil dengan janin bayi terlihat di dalam kandungan, menggambarkan perkembangan kehamilan.
ilustrasi ibu hamil dan janin, bayi dalam kandungan (IDN Times/NRF)

Menurut petunjuk teknis Kemenkes, tenofovir disoproxil fumarate (TDF) diberikan mulai usia kehamilan 28 minggu kepada ibu yang memenuhi kriteria. Dalam program nasional, obat diteruskan hingga satu bulan setelah melahirkan, kemudian kebutuhan terapi ibu dinilai kembali.

Penggunaan tersebut berbeda dengan terapi hepatitis B jangka panjang. Jika ibu sudah mengalami sirosis, peradangan hati persisten, atau memenuhi kriteria pengobatan hepatitis B kronis, tenofovir mungkin perlu dilanjutkan demi kesehatan ibu.

4. Penelitian menunjukkan risiko penularan dapat berkurang

Salah satu uji klinis penting melibatkan 200 ibu hamil dengan jumlah virus yang tinggi. Seluruh bayi mendapat vaksin hepatitis B dan HBIG. Pada analisis utama, penularan ditemukan pada 5 persen bayi dalam kelompok ibu yang menggunakan TDF, dibandingkan dengan 18 persen pada kelompok tanpa antivirus—sekitar tiga kali lebih rendah.

Sebuah metaanalisis juga mendukung manfaat tenofovir dalam mengurangi penularan dari ibu dengan jumlah virus tinggi kepada bayi, tanpa menemukan masalah keamanan yang bermakna pada kehamilan secara keseluruhan.

Penelitian yang lebih baru bahkan menemukan bahwa pemberian TDF lebih awal, mulai usia kehamilan 16 minggu, disertai vaksinasi bayi memberikan hasil yang tidak lebih buruk daripada standar pemberian mulai minggu ke-28 yang dikombinasikan dengan vaksin dan HBIG. Namun, penelitian tersebut dilakukan di rumah sakit di China dan belum otomatis mengubah jadwal dalam pedoman Indonesia.

5. Bayi tetap membutuhkan vaksin dan HBIG

Tenofovir merupakan perlindungan tambahan, bukan pengganti imunisasi.

WHO menyebut vaksin dosis lahir sebagai intervensi terpenting untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi dan pada masa kanak-kanak.

Dosis pertama perlu diberikan sesegera mungkin, paling lambat dalam 24 jam setelah lahir, kemudian dilanjutkan dengan seri vaksin lengkap.

Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif harus menerima:

  • Vaksin hepatitis B dosis lahir atau HB0.
  • HBIG segera setelah lahir, kurang dari 24 jam.
  • Rangkaian vaksin hepatitis B berikutnya sesuai jadwal.
  • Pemeriksaan HBsAg serta anti-HBs pada usia 9–12 bulan untuk memastikan bayi tidak terinfeksi dan telah memiliki perlindungan.

Memberikan tenofovir kepada ibu namun melewatkan vaksin untuk bayi dapat meninggalkan celah perlindungan yang besar.

6. Tenofovir dinilai aman, tetapi tetap perlu pemantauan

Ilustrasi ibu hamil berkonsultasi dengan dokter kandungan di ruang pemeriksaan sambil mendengarkan penjelasan medis.
ilustrasi ibu hamil berkonsultasi dengan dokter kandungan (pexels.com/mart_production)

Bukti yang tersedia tidak menunjukkan peningkatan bermakna dalam kejadian kelainan bawaan pada bayi setelah ibu menggunakan TDF. Penelitian juga tidak menemukan perbedaan berarti dalam pertumbuhan maupun kepadatan mineral tulang bayi pada data yang telah dipelajari.

Meski demikian, aman bukan berarti bebas pengawasan. TDF dikeluarkan melalui ginjal dan penggunaan jangka panjang dapat memengaruhi fungsi ginjal pada sebagian kecil pasien.

Tenaga kesehatan dapat memeriksa ureum, kreatinin, fungsi hati, dan kondisi klinis sebelum atau selama terapi, terutama jika obat akan digunakan dalam jangka panjang.

Dokter juga perlu mengetahui apabila pasien:

  • Memiliki penyakit ginjal.
  • Mengalami osteoporosis atau masalah tulang.
  • Mengonsumsi obat lain yang dapat memengaruhi ginjal.
  • Mengalami mual berat hingga sulit minum obat.
  • Melewatkan dosis berulang kali.

Jangan membeli atau menggunakan tenofovir tanpa resep hanya karena hasil HBsAg reaktif.

7. Obat tidak boleh dihentikan tanpa rencana pemantauan

Setelah tenofovir dihentikan, jumlah virus dapat kembali meningkat dan sebagian ibu dapat mengalami hepatitis flare, yaitu peningkatan peradangan hati. Kondisi ini belum tentu menimbulkan gejala pada awalnya.

Pedoman Kemenkes menyarankan pemantauan setiap 12 minggu selama sedikitnya 24 minggu setelah penghentian profilaksis. Pada tahap ini, dokter juga menentukan apakah ibu cukup berhenti atau justru memerlukan pengobatan hepatitis B jangka panjang.

Segera temui dokter jika setelah persalinan muncul kulit atau mata menguning, urine gelap, mual berat, nyeri perut kanan atas, lemas yang memburuk, atau penurunan kesadaran.

Apa yang harus dilakukan jika HBsAg reaktif saat hamil?

Langkah-langkah yang sangat direkomendasikan:

  • Konsultasikan hasil kepada dokter atau layanan antenatal.
  • Jalani pemeriksaan HBV DNA atau HBeAg.
  • Periksa ALT (enzim hati alanine aminotransferase; nilai ALT tinggi biasanya menandakan peradangan atau kerusakan sel hati) dan kondisi hati.
  • Tanyakan apakah memenuhi kriteria tenofovir.
  • Susun rencana pemberian vaksin dan HBIG kepada bayi sebelum persalinan.
  • Pastikan bayi menjalani pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs pada usia 9–12 bulan.

Ibu dengan HBsAg reaktif tetap diperbolehkan menyusui menurut pedoman nasional. Perlindungan bayi bergantung pada pemberian imunoprofilaksis tepat waktu dan tindak lanjut yang lengkap.

Tenofovir dapat membantu mencegah hepatitis B pada bayi dengan menekan jumlah virus pada ibu yang sudah terinfeksi. Manfaat utamanya terlihat pada ibu hamil dengan HBV DNA tinggi atau HBeAg positif.

Obat ini bukan vaksin, bukan pencegahan rutin bagi setiap orang, dan bukan satu-satunya pilihan tindakan. Keberhasilan pencegahan memerlukan tes selama kehamilan, penilaian jumlah virus, tenofovir jika memenuhi syarat, vaksin dan HBIG segera setelah bayi lahir, serta pemeriksaan bayi setelah rangkaian imunisasi selesai.

Referensi

World Health Organization, “Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Responding to HBV Exposures in Health Care Settings,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Viral Hepatitis: Hepatitis B,” STI Treatment Guidelines, diakses Juli 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Petunjuk Teknis Pemberian Antivirus pada Ibu Hamil untuk Pencegahan Transmisi Virus Hepatitis B dari Ibu ke Anak", Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/15/2023 (Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023).

World Health Organization, “Hepatitis: Preventing Mother-to-Child Transmission of the Hepatitis B Virus,” diakses Juli 2026.

Calvin Q. Pan et al., “Tenofovir to Prevent Hepatitis B Transmission in Mothers with High Viral Load,” New England Journal of Medicine 374, no. 24 (2016): 2324–2334, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1508660.

Calvin Q. Pan et al., “Tenofovir Alafenamide versus Tenofovir Disoproxil Fumarate for Preventing Vertical Transmission in Chronic Hepatitis B Mothers: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Clinical Infectious Diseases 79, no. 4 (2024): 953–964, https://doi.org/10.1093/cid/ciae288.

Calvin Q. Pan et al., “Tenofovir and Hepatitis B Virus Transmission During Pregnancy: A Randomized Clinical Trial,” JAMA 333, no. 5 (2025): 390–399, https://doi.org/10.1001/jama.2024.22952.

World Health Organization, “Mother-to-Child Transmission of Hepatitis B,” diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More