Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bayi Harus Dijemur Setiap Hari, Mitos atau Fakta?
ilustrasi menjemur bayi (pexels.com/Наталья Водопад)
  • Menjemur bayi bukan kewajiban medis rutin, terutama untuk bayi sehat.

  • Paparan sinar matahari berlebihan justru berisiko pada kulit bayi yang sensitif.

  • Vitamin D lebih aman dipenuhi melalui ASI, susu formula, atau suplemen, bukan paparan sinar matahari langsung tanpa perlindungan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi positif dari meningkatnya kesadaran orang tua terhadap kesehatan bayi melalui pemahaman ilmiah yang lebih baik. Tradisi lama menjemur bayi kini dilihat secara kritis, menunjukkan bahwa niat baik tetap dapat disertai pengetahuan medis yang tepat. Pendekatan ini mendorong perawatan bayi yang lebih aman, terukur, dan berfokus pada perlindungan kulit sensitif mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pagi hari sering menjadi waktu yang dianggap wajib bagi banyak orang tua untuk membawa bayi keluar rumah. Sinar matahari dipercaya bisa membuat bayi lebih sehat, tidak kuning, hingga membantu pertumbuhan tulang. Tradisi ini bisa dibilang sudah berlangsung lama, tak jarang diwariskan lintas generasi.

Namun di balik kebiasaan tersebut, banyak orang mulai mempertanyakan apakah menjemur bayi setiap hari secara medis dibutuhkan? Atau, ini cuma kebiasaan yang terus dilakukan tanpa dasar ilmiah yang kuat?

Memahami hal ini penting, karena tubuh bayi, terutama kulitnya, jauh lebih sensitif dibanding orang dewasa. Apa yang terlihat sederhana bisa membawa manfaat, tetapi juga risiko jika tidak dilakukan dengan tepat.

Perspektif medis kebiasaan menjemur bayi

Salah satu alasan paling umum bayi dijemur adalah untuk membantu produksi vitamin D. Secara biologis, paparan sinar ultraviolet B (UVB) memang merangsang kulit memproduksi vitamin D, yang penting untuk kesehatan tulang. Namun, paparan sinar matahari langsung tidak direkomendasikan sebagai sumber utama vitamin D untuk bayi, terutama bayi di bawah usia 6 bulan.

Alasannya sederhana, karena:

  • Kulit bayi sangat tipis dan sensitif.

  • Risiko kerusakan akibat sinar UV lebih tinggi.

  • Sulit mengontrol dosis paparan yang aman.

Sebagai gantinya, para ahli merekomendasikan suplementasi vitamin D 400 IU per hari untuk bayi.

Apakah menjemur bisa mencegah bayi kuning?

ilustrasi menjemur bayi (pexels.com/Tasnim Abo Elftoh)

Banyak orang tua percaya bahwa sinar matahari dapat mengatasi ikterus neonatorum (bayi kuning). Ada alasan di balik kepercayaan ini, tetapi konteksnya sering disalahpahami.

Penanganan utama bayi kuning adalah fototerapi medis, bukan sinar matahari langsung.

Fototerapi menggunakan panjang gelombang cahaya tertentu, intensitas terkontrol, dan pengawasan medis.

Studi menunjukkan bahwa paparan sinar matahari tidak konsisten dan sulit dikontrol, sehingga tidak dapat menggantikan terapi medis standar.

Risiko yang sering tidak disadari

Menjemur bayi mungkin terlihat aman, tetapi ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan:

  • Kulit terbakar (sunburn): Kulit bayi lebih tipis dan lebih rentan terhadap kerusakan UV.

  • Dehidrasi: Paparan panas bisa menyebabkan kehilangan cairan lebih cepat dan bayi menjadi rewel atau lemas.

  • Risiko jangka panjang: Paparan UV sejak dini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kulit di kemudian hari.

Paparan sinar UV berlebih adalah faktor risiko utama kerusakan kulit.

Jadi, perlu atau tidak bayi dijemur setiap hari?

ilustrasi menjemur bayi (pexels.com/Canary Islands)

Jawabannya: tidak wajib.

Bayi tidak perlu dijemur setiap hari untuk mendapatkan vitamin D atau menjaga kesehatannya secara umum.

Namun, bukan berarti bayi tidak boleh terkena sinar matahari sama sekali. Cara yang lebih tepat antara lain:

  • Paparan tidak langsung (misalnya dari dalam rumah).

  • Durasi singkat.

  • Menghindari jam terik (sekitar jam 10.00–16.00).

Pendekatan ini lebih aman dibanding menjemur bayi secara langsung tanpa perlindungan.

Walaupun lahir dari niat baik, tetapi perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa tradisi menjemur bayi tidak lagi relevan dalam konteks medis saat ini.

Kesehatan bayi tidak ditentukan oleh seberapa sering ia dijemur, tetapi oleh perawatan yang tepat, nutrisi yang cukup, dan perlindungan dari risiko yang tidak terlihat. Dengan memahami ini, orang tua dan pengasuh bisa mengambil keputusan yang lebih aman dan terukur.

Editorial Team