Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Bayi Kuning, Berisiko Mengalami Kerusakan Otak

Mengenal Bayi Kuning, Berisiko Mengalami Kerusakan Otak
ilustrasi bayi baru lahir sedang dalam pengawasan medis (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Bayi kuning (ikterus neonatorum) sangat umum, tetapi tetap perlu dipantau karena bisa menjadi berbahaya jika kadar bilirubin terlalu tinggi.

  • Sebagian besar kasus bersifat normal, tetapi ada beberapa kondisi serius yang memerlukan penanganan segera.

  • Deteksi dini dan pemantauan medis adalah kunci untuk mencegah komplikasi seperti kerusakan otak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Warna kekuningan pada kulit bayi sering menjadi pengalaman pertama yang bikin banyak orang tua cemas. Dalam banyak kasus, kondisi ini terlihat ringan dan bahkan dianggap normal. Namun, di balik kuningnya kulit bayi, ada proses biologis yang kompleks di dalam tubuh bayi.

Setelah keluar dari rahim, bayi mengalami berbagai penyesuaian. Salah satunya adalah bagaimana tubuh mereka memproses sel darah merah dan zat sisa yang dihasilkan. Pada fase ini, sistem tubuh, terutama hati, belum bekerja seefisien orang dewasa.

Di sinilah penyakit kuning pada bayi (ikterus neonatorum atau neonatal jaundice) muncul. Sebagian besar tidak berbahaya, tetapi dalam kondisi tertentu kadar bilirubin yang tinggi dapat berdampak serius. Memahami kapan kondisi ini normal dan kapan perlu diwaspadai sangat penting bagi orang tua.

Table of Content

1. Mengapa bayi bisa kuning?

1. Mengapa bayi bisa kuning?

Bayi kuning terjadi akibat penumpukan bilirubin, yaitu zat hasil pemecahan sel darah merah. Pada bayi baru lahir, produksi bilirubin lebih tinggi, sementara kemampuan hati untuk mengolahnya masih terbatas.

Penyebab umumnya antara lain:

  • Ikterus fisiologis: terjadi pada 2–3 hari setelah lahir dan biasanya membaik dalam 1–2 minggu.
  • Hati belum matang: bilirubin menumpuk sementara.

Kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar 60 persen bayi cukup bulan dan 80 persen bayi prematur.

Di sisi lain, berikut ini penyebab lain bayi kuning yang perlu perhatian lebih:

  • Breastfeeding jaundice: kurang asupan ASI di awal kehidupan.
  • Breast milk jaundice: dipengaruhi oleh komponen tertentu dalam ASI.
  • Ketidakcocokan golongan darah (ABO/rhesus incompatibility).
  • Infeksi.
  • Gangguan hati atau metabolisme.

Pada kondisi ini, kadar bilirubin bisa meningkat lebih cepat dan lebih tinggi.

2. Gejala bayi kuning

Ilustrasi bayi baru lahir.
ilustrasi bayi baru lahir (unsplash.com/Visualss)

Gejala utama bayi kuning tentunya adalah perubahan warna:

  • Kulit tampak kuning.
  • Bagian putih mata (sklera) menguning.

Biasanya dimulai dari wajah, lalu menyebar ke dada, perut, lalu lengan dan kaki.

Makin luas penyebarannya, biasanya menunjukkan kadar bilirubin yang lebih tinggi.

3. Tanda penyakit kuning yang berbahaya

Tidak semua bayi kuning berbahaya, tetapi ada tanda yang harus segera diperiksakan:

  • Muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir.
  • Warna kuning makin pekat dan cepat menyebar.
  • Bayi tampak lemas atau sulit bangun.
  • Bayi tidak mau menyusu.
  • Tangisan bayi bernada tinggi.
  • Kejang (pada kasus berat).

Tanda-tanda ini dapat mengindikasikan risiko komplikasi serius.

4. Diagnosis bayi kuning

Ilustrasi bayi baru lahir.
ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Hannah Barata)

Diagnosis dilakukan melalui:

  • Pemeriksaan fisik.
  • Pengukuran kadar bilirubin:
    • Tes darah (serum bilirubin).
    • Alat noninvasif (transcutaneous bilirubinometer).

Dokter juga akan mempertimbangkan:

  • Usia bayi (jam/hari).
  • Riwayat kelahiran.
  • Faktor risiko lain.

Pendekatan ini penting karena tingkat bilirubin yang aman berbeda tergantung usia bayi.

5. Komplikasi yang bisa terjadi

Jika tidak ditangani, kadar bilirubin tinggi dapat menyebabkan:

  • Kernikterus, yaitu kerusakan otak permanen akibat bilirubin yang menumpuk di otak.
  • Acute bilirubin encephalopathy, yaitu tahap awal sebelum kernikterus, dengan gejala: letargi, otot kaku atau lemas, serta gangguan makan.

Menurut penelitian, kernikterus masih menjadi penyebab disabilitas yang dapat dicegah di banyak negara.

6. Cara mengatasi bayi kuning

Bayi menjalani fototerapi di dalam inkubator.
ilustrasi bayi menjalani fototerapi di dalam inkubator (pexels.com/Luna Acieloo)

Penanganan tergantung pada tingkat keparahan:

  • Fototerapi (terapi utama). Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus untuk memecah bilirubin. Ini adalah metode yang terbukti efektif, aman, dan terstandarisasi.
  • Pemberian ASI yang cukup. Menyusui lebih sering membantu mengeluarkan bilirubin melalui tinja dan mencegah dehidrasi.
  • Transfusi tukar (exchange transfusion). Ini dilakukan pada kasus berat untuk menurunkan kadar bilirubin dengan cepat.
  • Pemantauan rutin. Kasus ringan biasanya hanya membutuhkan observasi.

Bayi kuning adalah kondisi yang umum dan dalam banyak kasus tidak berbahaya. Namun, tetap ada potensi risiko serius jika kadar bilirubin tidak terkontrol. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya mengandalkan pengamatan visual, tetapi juga pemeriksaan medis yang tepat.

Pendekatan modern menekankan deteksi dini, pemantauan, dan intervensi yang terukur. Dengan penanganan yang tepat, hampir semua kasus bayi kuning dapat diatasi tanpa komplikasi. Kuncinya adalah memahami kapan kondisi ini normal dan kapan harus segera membawa bayi ke dokter.

Referensi

Alex R. Kemper et al., “Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation,” PEDIATRICS 150, no. 3 (August 5, 2022), https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859.

World Health Organization. “Newborn Health: Guidelines on Neonatal Jaundice.” Diakses April 2026.

Tina M. Slusher and Yvonne E. Vaucher, “Management of Neonatal Jaundice in Low- and Middle-income Countries,” Paediatrics and International Child Health 40, no. 1 (December 25, 2019): 7–10, https://doi.org/10.1080/20469047.2019.1707397.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More