Sebagian besar orang dewasa dengan abses kulit berulang tidak memiliki defisiensi imun primer. Ada banyak penyebab yang lebih umum, seperti kolonisasi S. aureus, penyakit kulit kronis, diabetes, dan faktor lainnya.
Jadi, jika seseorang beberapa kali mengalami bisul, dokter tidak otomatis akan menyimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan sistem imun.
Pada furunkulosis (kondisi ketika seseorang mengalami banyak bisul atau infeksi bisul yang sering kambuh) berulang, faktor bakteri justru perlu diperhatikan. Studi menunjukkan kekambuhan dapat berkaitan dengan kolonisasi S. aureus, kontak dengan orang yang terinfeksi, faktor lingkungan serta kondisi tertentu pada pasien.
Satu bisul yang muncul sesekali tidak biasanya tidak cukup untuk menunjukkan masalah sistem imun. Namun, pemeriksaan dapat dipertimbangkan apabila seseorang mengalami bisul atau abses yang berulang, terutama jika disertai infeksi lain yang tidak biasa, infeksi berat, atau luka yang sulit sembuh.
Dokter dapat melihat pola infeksi, usia ketika keluhan mulai muncul, lokasi infeksi, jenis mikroorganisme yang ditemukan, riwayat keluarga, penyakit lain yang dimiliki, serta obat-obatan yang dikonsumsi.
Pada kondisi tertentu, pemeriksaan dapat mencakup cairan atau nanah, pemeriksaan darah, evaluasi kadar gula darah, hingga pemeriksaan sistem imun yang lebih spesifik sesuai dengan kondisi pasien.
Referensi
Nowicka, Danuta, and Ewelina Grywalska. “Staphylococcus aureus and Host Immunity in Recurrent Furunculosis.” Dermatology 235, no. 4 (January 1, 2019): 295–305.
"Folliculitis and Skin Abscesses". MSD MANUAL. Diakses Agustus 2026.
"Furuncles and Carbuncles". MERCK MANUAL. Diakses Agustus 2026.
"Staphylococcus aureus Infections". MSD MANUAL. Diakses Agustus 2026.