Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bisul dan Sistem Imun, Apakah Ada Hubungannya?
ilustrasi memencet bisul (magnific.com/pvproductions)
  • Bisul muncul akibat infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, setelah pertahanan kulit terganggu; kondisi ini memicu respons imun dan pembentukan nanah, bukan pengeluaran darah kotor.

  • Neutrofil, makrofag, dan sel T membantu tubuh mengendalikan bakteri penyebab bisul. Namun, satu atau beberapa bisul tidak otomatis menandakan sistem kekebalan tubuh lemah.

  • Bisul berulang lebih sering terkait kolonisasi bakteri, penyakit kulit kronis, diabetes, atau faktor lingkungan. Pemeriksaan dipertimbangkan bila disertai infeksi berat, tidak biasa, atau luka sulit sembuh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bisul kerap dianggap sebagai tanda bahwa tubuh sedang mengeluarkan darah kotor atau daya tahan tubuh sedang menurun. Tak sedikit pula yang mengira bahwa makin sering bisulan, makin lemah sistem imunnya.

Bisul memang berkaitan dengan sistem imun karena merupakan respons tubuh terhadap infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, tetapi kemunculannya tidak otomatis menunjukkan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Bisul bukan darah kotor

Kulit merupakan salah satu pertahanan pertama tubuh terhadap mikroorganisme. Ketika kulit mengalami kerusakan, bakteri seperti S. aureus dapat masuk dan berkembang biak.

Tubuh kemudian mengaktifkan respons imun bawaan. Salah satu pemain penting dalam proses ini adalah neutrofil, yaitu jenis sel darah putih yang berperan dalam melawan bakteri.

Neutrofil bergerak menuju lokasi infeksi dan membantu menghancurkan bakteri. Proses tersebut memicu peradangan yang menyebabkan area sekitar bisul menjadi merah, bengkak, terasa hangat dan nyeri.

Akumulasi sel imun, bakteri, jaringan yang mati, serta cairan di lokasi infeksi kemudian membentuk nanah. Jadi, nanah pada bisul bukanlah darah kotor yang sedang dikeluarkan tubuh, melainkan salah satu hasil dari proses peradangan dan respons tubuh terhadap infeksi.

Hubungan antara bisul dan sistem imun

ilustrasi bisul (magnific.com/magnific)

Hubungan antara bisul dengan sistem imun cukup erat karena tubuh membutuhkan sistem imun untuk mengendalikan S. aureus setelah bakteri tersebut melewati pertahanan kulit.

Penelitian mengenai infeksi kulit berulang akibat bakteri ini menunjukkan bahwa imunitas bawaan dan imunitas yang diperantarai sel T sama-sama berperan dalam pertahanan tubuh terhadap bakteri tersebut.

Dalam respons imun bawaan, sejumlah komponen seperti neutrofil dan makrofag membantu mengendalikan bakteri. Sementara itu, pada imunitas adaptif, sel T juga berperan dalam membentuk respons terhadap infeksi.

Salah satu jalur yang mendapat perhatian dalam penelitian adalah interleukin-17 (IL-17). Jalur Th17/IL-17 diketahui berperan dalam pertahanan terhadap infeksi S. aureus. Gangguan pada jalur ini, yang ditemukan pada kondisi imun tertentu seperti hyper-IgE syndrome dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi kulit berulang.

Sistem imun memang menjadi bagian dalam menentukan bagaimana tubuh menghadapi bakteri penyebab bisul. Namun, mengalami satu atau beberapa bisul tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa sistem imun seseorang lemah.

Belum tentu masalah imun

Sebagian besar orang dewasa dengan abses kulit berulang tidak memiliki defisiensi imun primer. Ada banyak penyebab yang lebih umum, seperti kolonisasi S. aureus, penyakit kulit kronis, diabetes, dan faktor lainnya.

Jadi, jika seseorang beberapa kali mengalami bisul, dokter tidak otomatis akan menyimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan sistem imun.

Pada furunkulosis (kondisi ketika seseorang mengalami banyak bisul atau infeksi bisul yang sering kambuh) berulang, faktor bakteri justru perlu diperhatikan. Studi menunjukkan kekambuhan dapat berkaitan dengan kolonisasi S. aureus, kontak dengan orang yang terinfeksi, faktor lingkungan serta kondisi tertentu pada pasien.

Satu bisul yang muncul sesekali tidak biasanya tidak cukup untuk menunjukkan masalah sistem imun. Namun, pemeriksaan dapat dipertimbangkan apabila seseorang mengalami bisul atau abses yang berulang, terutama jika disertai infeksi lain yang tidak biasa, infeksi berat, atau luka yang sulit sembuh.

Dokter dapat melihat pola infeksi, usia ketika keluhan mulai muncul, lokasi infeksi, jenis mikroorganisme yang ditemukan, riwayat keluarga, penyakit lain yang dimiliki, serta obat-obatan yang dikonsumsi.

Pada kondisi tertentu, pemeriksaan dapat mencakup cairan atau nanah, pemeriksaan darah, evaluasi kadar gula darah, hingga pemeriksaan sistem imun yang lebih spesifik sesuai dengan kondisi pasien.

Referensi

Nowicka, Danuta, and Ewelina Grywalska. “Staphylococcus aureus and Host Immunity in Recurrent Furunculosis.” Dermatology 235, no. 4 (January 1, 2019): 295–305.

"Folliculitis and Skin Abscesses". MSD MANUAL. Diakses Agustus 2026.

"Furuncles and Carbuncles". MERCK MANUAL. Diakses Agustus 2026.

"Staphylococcus aureus Infections". MSD MANUAL. Diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article