Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bisul di Ketiak, Kapan Bisa Sembuh Sendiri dan Kapan Berbahaya?

Bisul di Ketiak, Kapan Bisa Sembuh Sendiri dan Kapan Berbahaya?
ilustrasi bisul di ketiak (magnific.com/stockking)
Intinya Sih
  • Bisul di ketiak terjadi akibat infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada folikel rambut, dipicu kelembapan, gesekan, dan luka kecil yang memudahkan bakteri masuk ke kulit.

  • Sebagian besar bisul bisa sembuh dengan kompres hangat dan menjaga kebersihan, tapi perlu antibiotik atau tindakan medis bila besar, nyeri berat, disertai demam, atau tidak membaik dalam dua minggu.

  • Tidak semua benjolan di ketiak adalah bisul; jika sering kambuh atau membentuk terowongan di bawah kulit, bisa jadi hidradenitis suppurativa yang memerlukan evaluasi dokter.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Ketiak adalah area yang hangat, lembap, banyak mengandung kelenjar keringat, dan sering mengalami gesekan akibat gerakan lengan atau pakaian. Karena itulah ketiak menjadi tempat yang ideal bagi berbagai masalah kulit, termasuk bisul.

Awalnya mungkin bisul cuma terasa seperti benjolan kecil yang nyeri saat disentuh. Namun, dalam beberapa hari, benjolan bisa membesar, memerah, terasa panas, bahkan berisi nanah.

Tidak semua kasus bisul di ketiak merupakan infeksi kulit biasa. Pada sebagian orang, benjolan yang tampak seperti bisul justru bisa menjadi tanda penyakit kulit kronis.

Apa penyebab bisul di ketiak, bagaimana cara mengobatinya, dan kapan perlu mencari pertolongan medis? Berikut ini ulasannya.

Table of Content

Apa itu bisul?

Apa itu bisul?

Bisul (furunkel) adalah infeksi pada folikel rambut dan jaringan kulit di sekitarnya yang menyebabkan terbentuknya benjolan merah, nyeri, dan berisi nanah.

Penyebab terseringnya adalah bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini sebenarnya bisa hidup di kulit atau di dalam hidung tanpa menimbulkan masalah. Namun, ketika berhasil masuk ke dalam folikel rambut atau kulit yang mengalami luka kecil, infeksi dapat berkembang menjadi bisul.

Seiring waktu, tubuh mengirimkan sel-sel imun ke area tersebut untuk melawan infeksi. Pertarungan antara bakteri, sel imun, dan jaringan yang rusak menghasilkan nanah.

Penyebab bisul muncul di ketiak

Ada beberapa alasan mengapa ketiak menjadi lokasi yang umum untuk munculnya bisul.

  • Lingkungan yang aman dan lembap

Bakteri cenderung lebih mudah berkembang di area yang lembap.

Ketiak secara alami menghasilkan keringat dan sering tertutup pakaian, sehingga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme.

  • Banyak folikel rambut

Karena bisul biasanya berawal dari infeksi folikel rambut, area yang memiliki banyak rambut cenderung lebih rentan mengalami kondisi ini.

  • Gesekan berulang

Gesekan antara kulit dengan kulit atau pakaian dapat menyebabkan iritasi dan luka mikro yang mempermudah bakteri masuk ke dalam kulit.

  • Mencukur bulu ketiak

Mencukur dapat menimbulkan luka kecil yang tidak terlihat. Luka tersebut dapat menjadi pintu masuk bakteri dan meningkatkan risiko infeksi.

Faktor yang meningkatkan risiko bisul

Seorang perempuan mengenakan tank top berwarna netral sedang mencukur bulu ketiaknya menggunakan pisau cukur berwarna oranye.
ilustrasi mencukur buku ketiak (magnific.com/freepik)

Beberapa kondisi diketahui meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami bisul berulang, seperti:

  • Diabetes.
  • Obesitas.
  • Sistem imun yang lemah.
  • Kebersihan kulit yang buruk.
  • Merokok.
  • Riwayat bisul berulang.
  • Tinggal serumah dengan seseorang yang mengalami infeksi Staphylococcus aureus.

Diabetes menjadi salah satu faktor penting karena kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu fungsi sistem imun dan memperlambat penyembuhan luka.

Gejala bisul di ketiak

Bisul biasanya berkembang secara bertahap.

Gejala yang umum meliputi:

  • Benjolan merah di bawah kulit.
  • Nyeri saat disentuh.
  • Pembengkakan.
  • Kulit terasa hangat.
  • Muncul titik putih atau kuning berisi nanah di bagian tengah.
  • Kadang disertai demam jika infeksi cukup luas.

Ukurannya dapat bervariasi, mulai dari sebesar kacang polong hingga beberapa sentimeter.

Ketika nanah mulai keluar, nyeri biasanya berangsur berkurang.

Tidak semua benjolan di ketiak adalah bisul

Benjolan di ketiak bisa disebabkan oleh berbagai kondisi lain, seperti:

  • Kelenjar getah bening yang membesar.
  • Kista epidermoid.
  • Reaksi akibat mencukur.
  • Lipoma (benjolan lemak).
  • Infeksi jamur.
  • Hidradenitis suppurativa.

Di antara berbagai kemungkinan tersebut, hidradenitis suppurativa sering kali paling mudah tertukar dengan bisul.

Waspadai hidradenitis suppurativa

Kulit ketiak kiri dengan peradangan dan benjolan akibat hidradenitis suppurativa tahap II menurut klasifikasi Hurley.
Hidradenitis suppurativa (Hurley's Staging II) di aksila kiri. (commons.wikimedia.org/BMC Dermatology/Ziyad Alharbi, Jens Kauczok, Norbert Pallua)

Hidradenitis suppurativa (HS) adalah penyakit peradangan kronis yang biasanya muncul di area lipatan tubuh seperti ketiak, selangkangan, dan bawah payudara.

Pada tahap awal, HS sering terlihat seperti bisul berulang. Namun, ada beberapa tanda yang membedakannya, seperti:

  • Sering kambuh di lokasi yang sama.
  • Muncul lebih dari satu benjolan.
  • Membentuk terowongan di bawah kulit (sinus tract).
  • Menyebabkan jaringan parut.
  • Berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Karena penanganannya berbeda dari bisul biasa, diagnosis yang tepat sangat penting.

Cara mengobati bisul di ketiak

Ada beberapa cara mengobati bisul di ketiak:

  • Kompres hangat

Ini adalah langkah pertama yang paling sering direkomendasikan. Kompres hangat selama 10–15 menit beberapa kali sehari dapat membantu meningkatkan aliran darah ke area infeksi dan mempercepat pengeluaran nanah secara alami.

  • Jaga kebersihan area ketiak

Cuci area ketiak dengan sabun lembut dan air mengalir. Hindari menggosok terlalu keras karena dapat memperparah iritasi.

  • Jangan memencet bisul

Orang sering tergoda memencet bisul. Namun, tindakan ini justru dapat mendorong infeksi lebih dalam, menyebarkan bakteri ke jaringan sekitar, dan meningkatkan risiko terbentuknya jaringan parut.

  • Gunakan obat pereda nyeri jika diperlukan

Obat seperti parasetamol dapat membantu mengurangi nyeri jika digunakan sesuai petunjuk penggunaan.

  • Antibiotik jika diperlukan

Antibiotik biasanya dipertimbangkan jika bisul sangat besar, ada banyak lesi, infeksi menyebar, disertai demam, serta pasien memiliki gangguan imun.

Kapan bisul perlu dibedah?

Pada beberapa kasus, nanah tidak dapat keluar sendiri. Dokter mungkin perlu melakukan prosedur yang disebut insisi dan drainase, yaitu membuat sayatan kecil untuk mengeluarkan nanah. Prosedur ini sering menjadi terapi utama untuk bisul yang besar dan nyeri.

Kapan harus ke dokter?

Segera periksakan diri jika:

  • Bisul berukuran lebih dari 2–3 cm.
  • Nyeri makin berat.
  • Disertai demam.
  • Kemerahan menyebar.
  • Tidak membaik dalam 1–2 minggu.
  • Sering kambuh.
  • Muncul banyak bisul sekaligus.
  • Kamu memiliki diabetes atau gangguan imun.

Evaluasi medis juga penting bila benjolan tidak tampak seperti bisul biasa atau tidak pernah benar-benar sembuh.

Cara mencegah bisul kambuh

Seorang pria sedang mandi di bawah pancuran air di kamar mandi, dengan air mengalir di tubuhnya dan kedua tangan di kepala.
ilustrasi pria sedang mandi (magnific.com/freepik)

Beberapa langkah yang dapat membantu meliputi:

  • Menjaga kebersihan kulit.
  • Menghindari berbagi handuk atau alat cukur.
  • Mengganti pakaian yang basah oleh keringat.
  • Mengelola diabetes dengan baik.
  • Menurunkan berat badan jika diperlukan.
  • Berhenti merokok.

Pada kasus bisul berulang akibat kolonisasi S. aureus, dokter terkadang merekomendasikan strategi dekolonisasi menggunakan antiseptik atau antibiotik topikal tertentu.

Bisul di ketiak umumnya terjadi akibat infeksi bakteri pada folikel rambut dan sering dipicu oleh kombinasi kelembapan, gesekan, dan luka kecil pada kulit. Sebagian besar kasus dapat membaik dengan kompres hangat dan perawatan mandiri yang tepat. Namun, tidak semua benjolan di ketiak adalah bisul.

Jika benjolan sering kambuh, muncul dalam jumlah banyak, meninggalkan jaringan parut, atau membentuk terowongan di bawah kulit, ini dapat mengarah pada hidradenitis suppurativa atau masalah kesehatan lain yang perlu evaluasi medis.

Selain itu, hindari memencet bisul karena ini justru dapat memperburuk infeksi dan memperlambat proses penyembuhan.

Referensi

Ali Alikhan, Peter J. Lynch, and Daniel B. Eisen, “Hidradenitis Suppurativa: A Comprehensive Review,” Journal of the American Academy of Dermatology 60, no. 4 (March 17, 2009): 539–61, https://doi.org/10.1016/j.jaad.2008.11.911.

Dennis L. Stevens et al., “Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Skin and Soft Tissue Infections: 2014 Update by the Infectious Diseases Society of America,” Clinical Infectious Diseases 59, no. 2 (June 20, 2014): e10–52, https://doi.org/10.1093/cid/ciu296.

Steven Y. C. Tong et al., “Staphylococcus Aureus Infections: Epidemiology, Pathophysiology, Clinical Manifestations, and Management,” Clinical Microbiology Reviews 28, no. 3 (May 28, 2015): 603–61, https://doi.org/10.1128/cmr.00134-14.

Christos C. Zouboulis et al., “Hidradenitis Suppurativa/Acne Inversa: Criteria for Diagnosis, Severity Assessment, Classification and Disease Evaluation,” Dermatology 231, no. 2 (January 1, 2015): 184–90, https://doi.org/10.1159/000431175.

Addison K. May et al., “Treatment of Complicated Skin and Soft Tissue Infections,” Surgical Infections 10, no. 5 (October 1, 2009): 467–99, https://doi.org/10.1089/sur.2009.012.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More