Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Orang dengan Diabetes Lebih Rentan Bisulan?

Kenapa Orang dengan Diabetes Lebih Rentan Bisulan?
ilustrasi orang dengan diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Kadar gula darah tinggi melemahkan sistem imun, sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi bakteri penyebab bisul.

  • Sirkulasi darah yang terganggu membuat penyembuhan luka lebih lambat dan infeksi lebih mudah berkembang.

  • Kondisi kulit pada diabetes cenderung lebih rentan, termasuk lebih mudah mengalami luka kecil yang bisa berkembang jadi bisul.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kulit adalah garis pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi. Ketika sistem ini terganggu, masalah kecil seperti luka gores atau iritasi bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih serius, termasuk bisul. Pada sebagian orang, bisul muncul berulang tanpa sebab yang jelas, hingga akhirnya ditemukan kaitannya dengan gangguan metabolik seperti diabetes.

Bagi orang dengan diabetes, tubuh tidak hanya berjuang menjaga kadar gula darah tetap stabil, tetapi juga menghadapi berbagai komplikasi yang mungkin tidak langsung terasa. Salah satunya adalah meningkatnya kerentanan terhadap infeksi kulit, termasuk bisul (furunkel), yang sering disepelekan namun bisa menjadi pintu masuk infeksi yang lebih luas.

Ketahui apa saja alasan orang dengan diabetes lebih rentan bisulan.

Table of Content

1. Kadar gula yang tinggi melemahkan sistem imun

1. Kadar gula yang tinggi melemahkan sistem imun

Kadar glukosa yang tinggi dalam darah menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri, terutama Staphylococcus aureus, penyebab utama bisul. Lebih dari itu, hiperglikemia (gula darah tinggi) kronis juga mengganggu fungsi sel imun seperti neutrofil, yaitu sel yang berperan penting dalam melawan infeksi.

Menurut penelitian, hiperglikemia dapat menghambat kemotaksis, fagositosis, dan kemampuan membunuh mikroorganisme oleh neutrofil. Akibatnya, tubuh tidak hanya lebih mudah terinfeksi, tetapi juga kesulitan mengendalikan infeksi yang sudah terjadi.

2. Gangguan sirkulasi darah menghambat penyembuhan

Diabetes sering menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati), yang berdampak pada aliran darah ke jaringan perifer, termasuk kulit. Ketika aliran darah tidak optimal, suplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka juga ikut terganggu.

Gangguan sirkulasi ini membuat luka kecil sekalipun bisa bertahan lebih lama dan berisiko berkembang menjadi infeksi serius. Inilah alasan kenapa bisul pada pasien diabetes sering lebih besar, lebih nyeri, dan lebih lama sembuh.

3. Kulit lebih rentan dan mudah terluka

Ilustrasi bisul di tangan.
ilustrasi bisul di tangan (freepik.com/freepik

Kulit pada pasien diabetes cenderung lebih kering dan rapuh akibat gangguan fungsi kelenjar keringat dan saraf (neuropati). Kondisi ini membuat kulit lebih mudah mengalami retakan kecil, yang sering tidak disadari.

Retakan atau luka mikro ini menjadi pintu masuk bagi bakteri. Studi menegaskan bahwa perubahan struktur dan fungsi kulit pada diabetes meningkatkan risiko infeksi kulit berulang, termasuk furunkulosis (bisulan berulang).

4. Neuropati: luka tak terasa, infeksi tak disadari

Neuropati diabetik menyebabkan penurunan sensasi, terutama di area kaki dan ekstremitas. Akibatnya, luka kecil atau iritasi sering tidak terasa dan tidak segera ditangani.

Ketika luka tidak dibersihkan atau dilindungi dengan baik, bakteri dapat berkembang tanpa hambatan. Dalam banyak kasus, pasien baru menyadari adanya bisul ketika sudah membesar atau terasa nyeri hebat.

5. Kolonisasi bakteri lebih tinggi

Menurut beberapa penelitian, orang dengan diabetes memiliki tingkat kolonisasi bakteri Staphylococcus aureus yang lebih tinggi di kulit dan rongga hidung.

Ini berarti “cadangan” bakteri penyebab infeksi sudah lebih banyak sejak awal, sehingga risiko berkembangnya bisul juga meningkat.

Kenapa bisul pada orang dengan diabetes perlu diwaspadai?

Ilustrasi pasien diabetes.
ilustrasi pasien diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)

Bisul mungkin terlihat seperti masalah kulit ringan, tetapi pada orang dengan diabetes, kondisi ini bisa berkembang menjadi komplikasi serius seperti selulitis, abses dalam, hingga infeksi sistemik.

Infeksi kulit pada diabetes harus ditangani lebih agresif karena risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Diabetes dapat memengaruhi seluruh tubuh, termasuk kulit. Bisul yang tampak ringan bisa menjadi sinyal bahwa sistem pertahanan tubuh sedang tidak bekerja optimal.

Pendekatan terbaik adalah pencegahan, dengan cara menjaga kontrol glikemik, merawat kebersihan kulit, serta segera menangani luka sekecil apa pun. Dalam konteks diabetes, perhatian terhadap detail kecil sering menjadi pembeda antara kondisi yang cepat pulih dan komplikasi serius.

Referensi

Cresio Alves, Juliana Casqueiro, and Janine Casqueiro, “Infections in Patients With Diabetes Mellitus: A Review of Pathogenesis,” Indian Journal of Endocrinology and Metabolism 16, no. 7 (January 1, 2012): 27, https://doi.org/10.4103/2230-8210.94253.

American Diabetes Association. “Standards of Medical Care in Diabetes—2024.” Diabetes Care 47, Supplement_1 (2024). Diakses April 2026.

Andrew Jm Boulton et al., “The Global Burden of Diabetic Foot Disease,” The Lancet 366, no. 9498 (November 1, 2005): 1719–24, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(05)67698-2.

Matthew S. Dryden, “Skin and Soft Tissue Infection: Microbiology and Epidemiology,” International Journal of Antimicrobial Agents 34 (June 27, 2009): S2–7, https://doi.org/10.1016/s0924-8579(09)70541-2.

World Health Organization. “Diabetes.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More