Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BMI Normal, tapi Berisiko Gagal Jantung? Ini Penyebabnya

BMI Normal, tapi Berisiko Gagal Jantung? Ini Penyebabnya
ilustrasi mengukur lingkar pinggang (unsplash.com/Beyza Yılmaz)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Lemak perut (lemak viseral) lebih akurat memprediksi risiko gagal jantung dibanding indeks massa tubuh.

  • Peradangan kronis menjadi mekanisme utama yang mengaitkan lemak perut dengan penyakit jantung.

  • Seseorang dengan berat badan normal tetap bisa berisiko jika memiliki lingkar perut berlebih.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang merasa tenang ketika angka di timbangan masih dalam batas normal. Body mass index (BMI)/indeks massa tubuh (IMT) sering dijadikan patokan sederhana untuk menilai apakah seseorang sehat atau tidak. Namun, pendekatan ini ternyata tidak selalu memberikan gambaran utuh tentang kondisi tubuh.

Temuan terbaru yang dipresentasikan dalam American Heart Association EPI Lifestyle Scientific Sessions 2026 menunjukkan bahwa distribusi lemak dalam tubuh, terutama di area perut, bisa lebih menentukan risiko kesehatan dibanding sekadar berat badan total. Artinya, seseorang bisa terlihat “ideal” secara BMI, tetapi tetap menyimpan risiko tersembunyi.

Dalam penelitian tersebut, lemak di sekitar perut (disebut lemak viseral) terbukti memiliki kaitan kuat dengan risiko gagal jantung.

Table of Content

Lemak Perut vs BMI

Lemak Perut vs BMI

Menurut temuan penelitian ini, ukuran lingkar pinggang dan rasio pinggang terhadap tinggi badan lebih berkaitan dengan risiko gagal jantung dibanding BMI. Bahkan pada orang dengan BMI normal, lingkar perut yang besar tetap dikaitkan dengan peningkatan risiko.

Mengapa? Lemak viseral berbeda dari lemak biasa. Lemak ini aktif secara metabolik dan menghasilkan zat-zat yang memicu peradangan (inflamasi) dalam tubuh. Peradangan sistemik memainkan peran besar dalam perkembangan penyakit jantung, termasuk gagal jantung.

Peradangan ini dapat:

  • Merusak pembuluh darah.
  • Mengganggu fungsi sistem imun.
  • Memicu pembentukan jaringan parut pada jantung.

Dalam studi tersebut, sekitar seperempat hingga sepertiga hubungan antara lemak perut dan gagal jantung dijelaskan oleh faktor peradangan. Artinya, lemak perut bukan sekadar cadangan energi, tetapi juga sumber masalah biologis yang serius.

Lebih lanjut, penelitian yang melibatkan hampir 2.000 orang dewasa ini menemukan bahwa peserta dengan tingkat peradangan lebih tinggi (yang diukur melalui biomarker darah seperti C-reactive protein) memiliki risiko lebih besar mengalami gagal jantung dalam masa tindak lanjut hampir tujuh tahun.

Apa artinya bagi kesehatan?

Ilustrasi pengukuran lingkar pinggang.
ilustrasi pengukuran lingkar pinggang (pexels.com/Anna Tarazevich)

Pesan penting dari penelitian ini adalah fokus pada berat badan saja tidak cukup. Mengukur lingkar pinggang bisa menjadi cara sederhana namun lebih akurat untuk menilai risiko kesehatan jantung.

Para peneliti menekankan bahwa pendekatan pencegahan perlu bergeser. Tidak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga:

  • Mengurangi lemak perut.
  • Mengontrol peradangan.
  • Memperbaiki pola makan dan gaya hidup.

Menurut pernyataan ilmiah terbaru dari American Heart Association (2025), pencegahan gagal jantung harus mempertimbangkan faktor risiko sejak dini, termasuk distribusi lemak tubuh dan tingkat inflamasi.

Ke depannya, pengukuran sederhana seperti lingkar pinggang berpotensi menjadi bagian rutin dalam evaluasi kesehatan, bukan hanya BMI. Pendekatan ini diharapkan bisa membantu mendeteksi risiko lebih awal, bahkan sebelum gejala muncul.

Ternyata, berat badan yang terlihat normal bisa menyembunyikan risiko jika lemak terkonsentrasi di area tertentu, terutama perut. Itulah sebabnya pendekatan kesehatan modern makin menekankan kualitas komposisi tubuh, bukan cuma berat badan.

Dengan memperhatikan lingkar pinggang, pola makan, dan gaya hidup, risiko gagal jantung bisa diminimalkan sejak dini. Kesehatan jantung bukan hanya tentang seberapa ringan tubuhmu, tetapi bagaimana tubuhmu menyimpan dan mengelola lemak.

Referensi

"Extra belly weight, not BMI, was a stronger predictor of heart failure risk, inflammation." American Heart Association. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More