Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bolehkah Anak dengan Obesitas Menjalani Diet Keto?

3 min read
Bolehkah Anak dengan Obesitas Menjalani Diet Keto?
ilustrasi anak makan (pexels.com/Alex Green)
  • WHO tidak menetapkan diet keto, rendah karbohidrat, atau tinggi protein sebagai pola makan terbaik untuk semua anak dengan obesitas.

  • Bukti mengenai diet-diet tersebut masih terbatas; beberapa studi kecil bahkan memberi sinyal bahwa ukuran tubuh tertentu bisa meningkat pada pola tinggi protein.

  • WHO menganjurkan intervensi diet terstruktur yang diawasi tenaga kesehatan dan disesuaikan dengan usia, kebutuhan, serta kebiasaan makan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat mencari cara mendukung anak yang hidup dengan obesitas, keluarga mungkin disarankan beragam diet, mulai dari mengurangi kalori hingga menghindari karbohidrat atau menambah protein. Namun, panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru tidak menetapkan satu pola makan khusus sebagai standar untuk semua anak.

Panduan ini mencakup anak usia 29 hari hingga kurang dari 10 tahun; rekomendasi intervensi diet terstrukturnya ditujukan bagi anak berusia di atas 2 tahun.

  1. 1. WHO menganjurkan diet terstruktur

    WHO merekomendasikan intervensi diet yang menjadi bagian dari penanganan obesitas terpadu. Rencananya perlu mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, pilihan dan frekuensi makan, pemahaman gizi, serta konteks budaya anak. Tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan gizi perlu mengawasi intervensi, dengan orang tua atau pengasuh ikut terlibat.

    Panduan tersebut tidak menjadikan diet keto atau tinggi protein sebagai resep umum. Kebutuhan makan anak perlu dinilai secara individual dan menjadi bagian dari perawatan yang terencana.

  2. 2. Bukti tentang diet keto masih belum pasti

    WHO menilai bukti mengenai diet ketogenik masih sangat rendah kepastiannya. Dalam perbandingan diet ketogenik dengan pengurangan kalori, hasilnya belum jelas. Bukti yang tersedia hanya menunjukkan kemungkinan perubahan kadar trigliserida, tanpa memastikan besarnya manfaat atau arah dampaknya.

    Karena itu, panduan ini menyebut bahwa bukti yang ada belum cukup untuk menetapkannya sebagai pilihan terbaik.

  3. 3. Diet rendah karbohidrat menunjukkan hasil yang belum konsisten

    Sejumlah anak duduk bersama di meja sekolah sambil menikmati makanan dalam ilustrasi kegiatan makan di sekolah.
    ilustrasi anak-anak makan di sekolah (pexels.com/Yan Krukau)

    Tinjauan sistematis yang dirujuk WHO menemukan penurunan indeks massa tubuh (IMT/BMI) lebih besar segera setelah intervensi pada diet rendah karbohidrat dibanding diet rendah lemak. Namun, kualitas penelitian terbatas dan dampaknya terhadap faktor risiko kardiometabolik tidak konsisten. Pesertanya berusia 6–18 tahun, sehingga hasilnya juga tidak khusus menggambarkan anak di bawah 10 tahun.

    Tinjauan sistematis lain yang mencakup 125 studi pada anak dan remaja usia 2–18 tahun menemukan bahwa perubahan IMT berbeda menurut target energi diet. Namun, cakupan usia dan jenis intervensinya beragam, dan hasilnya tidak menetapkan satu pola makan seperti keto atau rendah karbohidrat sebagai standar terapi.

  4. 4. Pola makan tinggi protein belum terbukti lebih baik

    Dalam panduan WHO, bukti dengan kepastian sangat rendah dari dua uji klinis kecil—145 peserta, termasuk anak dan sebagian remaja—menunjukkan pola makan tinggi protein mungkin sedikit meningkatkan berat badan, IMT, lingkar pinggang, dan tekanan darah sistolik.

    Temuan ini tidak membuktikan bahwa makanan berprotein berbahaya bagi anak. Yang dinilai adalah pola diet tinggi protein sebagai intervensi untuk obesitas. Hasil dari penelitian kecil belum cukup untuk memastikan dampak pola tersebut pada anak secara umum.

  5. 5. Pembatasan makan perlu mempertimbangkan tumbuh kembang

    Anak masih bertumbuh, sehingga rencana makan perlu memenuhi kebutuhan gizinya. WHO menyebut penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui dampak jangka panjang diet yang ketat—seperti diet sangat rendah kalori atau keto—terhadap pertumbuhan serta kesejahteraan fisik dan mental.

    Panduan tersebut juga meminta tenaga kesehatan menilai risiko gangguan makan dan berkomunikasi tanpa stigma.

    WHO menggambarkan pola makan sehat sebagai pola yang cukup, seimbang, moderat, dan beragam, dengan penyesuaian pada usia, kondisi individu, budaya, serta makanan yang tersedia. Dalam penanganan obesitas anak, keputusan untuk mengubah pola makan sebaiknya dibuat bersama tenaga kesehatan yang memahami gizi anak, bukan dengan mengikuti diet orang dewasa atau tren di media sosial.

    Referensi

    World Health Organization, "WHO Guideline on the Integrated Management of Obesity in Children (Geneva: World Health Organization, 2026)", https://www.who.int/publications/i/item/9789240123397.

    Megan L. Gow et al., “Impact of Dietary Macronutrient Distribution on BMI and Cardiometabolic Outcomes in Overweight and Obese Children and Adolescents: A Systematic Review,” Nutrition Reviews 72, no. 7 (2014): 453–70, https://doi.org/10.1111/nure.12111.

    Faye Southcombe et al., “Targeted Dietary Approaches for the Management of Obesity and Severe Obesity in Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-analysis,” Clinical Obesity 13, no. 2 (2023): e12564, https://doi.org/10.1111/cob.12564.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More