Referensi
National Cancer Institute, “Cancer Treatment Vaccines,” diakses 8 Oktober 2026, https://www.cancer.gov/about-cancer/treatment/types/immunotherapy/cancer-treatment-vaccines; Neeha Zaidi, Elizabeth M. Jaffee, and Mark Yarchoan, “Recent Advances in Therapeutic Cancer Vaccines,” Nature Reviews Cancer 25 (2025): 517–33, https://doi.org/10.1038/s41568-025-00820-z.
National Cancer Institute, “How mRNA Vaccines Might Help Treat Cancer,” Cancer Currents, diakses 8 Oktober 2026, https://www.cancer.gov/news-events/cancer-currents-blog/2022/mrna-vaccines-to-treat-cancer; National Cancer Institute, “mRNA-Based Personalized Cancer Vaccine mRNA-4157,” NCI Drug Dictionary, diakses 8 Oktober 2026, https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-drug/def/intismeran-autogene.
National Cancer Institute, “How mRNA Vaccines Might Help Treat Cancer”; Zaidi, Jaffee, and Yarchoan, “Recent Advances in Therapeutic Cancer Vaccines.”
Jeffrey S. Weber et al., “Individualised Neoantigen Therapy mRNA-4157 (V940) Plus Pembrolizumab versus Pembrolizumab Monotherapy in Resected Melanoma (KEYNOTE-942): A Randomised, Phase 2b Study,” The Lancet 403, no. 10427 (2024): 632–44, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)02268-7.
Merck & Co. and Moderna, “Merck and Moderna Announce Phase 3 INTerpath-001 Trial of Intismeran Autogene Plus KEYTRUDA® Met Endpoints of Recurrence-Free Survival (RFS) and Distant Metastasis-Free Survival (DMFS) in Patients With Completely Resected Stage IIB-IV Melanoma,” siaran pers, 19 Agustus 2026, https://www.merck.com/news/merck-and-moderna-announce-phase-3-interpath-001-trial-of-intismeran-autogene-plus-keytruda-met-endpoints-of-recurrence-free-survival-rfs-and-distant-metastasis-free-survival-dmfs-in-patient/.
Moderna, “Moderna Announces Late-Breaking Data to Be Presented at ESMO Congress 2026,” siaran pers, 21 September 2026, https://www.nasdaq.com/press-release/moderna-announces-late-breaking-data-be-presented-esmo-congress-2026-2026-09-21.
Cara Kerja Vaksin mRNA untuk Terapi Kanker

Vaksin mRNA terapeutik dirancang untuk membantu sistem imun mengenali tanda tertentu pada sel kanker. Vaksin ini berbeda dari vaksin pencegah kanker seperti vaksin HPV.
Pada pendekatan personal, sampel tumor dianalisis untuk mencari perubahan yang bisa menjadi target. mRNA lalu memberi instruksi agar sel tubuh membuat bagian protein tersebut dan “memperkenalkannya” kepada sel imun.
Hasil uji fase 3 untuk salah satu kandidat vaksin mRNA kanker menunjukkan sinyal awal yang menjanjikan pada melanoma. Namun, rincian angkanya belum tersedia dalam pengumuman awal dan terapi tersebut masih diteliti.
Sel kanker berasal dari jaringan tubuh sendiri. Karena itu, sebagian sel kanker dapat luput dari pengawasan sistem imun. Namun, perubahan genetik pada tumor juga bisa menghasilkan protein yang berbeda dari protein pada sel normal. Perbedaan itu dapat menjadi semacam tanda pengenal.
Vaksin mRNA terapeutik dirancang untuk mengajari sistem imun mengenali tanda tersebut. Pendekatannya berbeda dari vaksin HPV yang diberikan untuk membantu mencegah infeksi penyebab kanker. Vaksin terapi ditujukan kepada orang yang sudah didiagnosis kanker atau sedang menjalani perawatan untuk mengurangi risiko kanker muncul kembali.
Table of Content
1. Prosesnya dimulai dengan membaca “sidik jari” tumor
Pada vaksin mRNA yang dibuat khusus untuk pasien, dokter dan peneliti memulai dengan menganalisis sampel tumor, misalnya jaringan yang diambil saat operasi atau biopsi. Pemeriksaan genetik membantu menemukan perubahan pada tumor yang mungkin menghasilkan protein berbeda dari protein di sel normal.
Potongan protein khas tumor ini disebut neoantigen. Tidak semua perubahan genetik menghasilkan neoantigen yang bisa dikenali sistem imun. Karena itu, peneliti perlu memilih mana yang paling mungkin memicu respons imun. Dalam salah satu kandidat vaksin, intismeran autogene atau V940, mRNA dirancang untuk mengode hingga 34 neoantigen yang dipilih berdasarkan karakteristik tumor pasien.
Dengan pendekatan ini, resep vaksinnya tidak selalu sama untuk setiap orang. Targetnya disesuaikan dengan tanda yang ditemukan pada tumor masing-masing pasien.
2. mRNA memberi instruksi sementara kepada sel
Setelah dirancang, mRNA sintetis diberikan sebagai vaksin. mRNA berfungsi seperti pesan sementara, yaitu dengan membawa instruksi agar sel membuat bagian protein yang sesuai dengan neoantigen terpilih. mRNA bukan sel kanker dan tidak mengandung seluruh tumor.
Sel penyaji antigen, termasuk sel dendritik, dapat mengambil mRNA dan menghasilkan protein tersebut. Sel dendritik kemudian memecah protein menjadi bagian kecil dan menampilkannya kepada sel imun. Proses ini membantu sel T mengenali target yang perlu dicari.
Secara sederhana, vaksin mRNA membantu memasang “tanda pengenal” tumor di hadapan sistem imun. Sel T yang terlatih kemudian dapat mencari sel kanker yang menampilkan tanda serupa dan menyerangnya.
3. Vaksin dapat dipadukan dengan obat imunoterapi

ilustrasi vaksin (IDN Times/NRF) Kanker dapat mencari cara untuk menghindari serangan sistem imun. Karena itu, vaksin mRNA tidak selalu digunakan sendirian. Salah satu kombinasi yang sedang diteliti adalah V940 bersama pembrolizumab, obat imunoterapi yang membantu mengurangi sinyal “rem” pada sel T.
Dalam kombinasi ini, vaksin membantu mengarahkan respons imun kepada target tumor tertentu, sementara pembrolizumab membantu sel imun tetap aktif. Kombinasi tersebut diuji, antara lain, pada pasien melanoma berisiko tinggi yang tumornya telah diangkat melalui operasi.
4. Hasil penelitian mulai terlihat, tetapi belum menjadi terapi rutin
Dalam uji acak fase 2b yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet pada 2024, 157 pasien melanoma yang tumornya telah diangkat menerima pembrolizumab saja atau pembrolizumab bersama vaksin mRNA-4157/V940. Pada 18 bulan, sekitar 79 persen kelompok kombinasi belum mengalami kekambuhan, dibandingkan 62 persen pada kelompok pembrolizumab saja. Namun, rentang ketidakpastian hasilnya masih lebar.
Perkembangan terbaru datang dari uji fase 3 INTerpath-001. Pada 19 Agustus 2026, Merck dan Moderna mengumumkan bahwa kombinasi V940 dan pembrolizumab memenuhi sasaran utama penelitian, yaitu memperpanjang waktu tanpa kekambuhan, serta sasaran penting lain berupa waktu tanpa penyebaran kanker jauh. Uji ini melibatkan 1.137 pasien dengan melanoma kulit stadium IIB–IV yang tumornya telah diangkat.
Pengumuman awal perusahaan tersebut belum mencantumkan angka rinci besarnya manfaat. Hasil lengkap dijadwalkan untuk dipresentasikan pada pertemuan medis internasional pada 24 Oktober 2026, sementara penelitian masih berlanjut untuk menilai kelangsungan hidup secara keseluruhan.
Vaksin mRNA kanker belum menjadi terapi rutin untuk semua pasien kanker. Manfaat, risiko, dan penggunaannya masih harus dinilai melalui hasil lengkap penelitian serta proses penilaian regulator.






















