Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pasangan Terkena Kutil Kelamin, Harus Bagaimana?

Pasangan Terkena Kutil Kelamin, Harus Bagaimana?
ilustrasi berbicara dengan pasangan mengenai diagnosis kutil kelamin (pexels.com/cottonbro studio)
  • Diagnosis kutil kelamin tidak dapat membuktikan kapan HPV menular ataupun menunjukkan adanya perselingkuhan.

  • Pasangan tidak dianjurkan menjalani tes HPV secara rutin, tetapi dapat memperoleh manfaat dari pemeriksaan fisik dan tes infeksi menular seksual lainnya.

  • Hubungan seksual sebaiknya dihentikan sementara sampai kutil tidak terlihat. Kondom mengurangi risiko, tetapi tidak memberikan perlindungan penuh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Diagnosis kutil kelamin bisa memicu ketegangan pada pasangan. Kekhawatiran tentang penularan, kanker, termasuk kesetiaan sering muncul pada saat yang bersamaan.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memisahkan fakta medis dari dugaan. Kutil kelamin disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), tetapi itu tidak dapat menjelaskan secara pasti kapan dan dari siapa virus berasal.

  1. Jangan langsung menyimpulkan terjadi perselingkuhan

    HPV dapat berada di tubuh tanpa menimbulkan gejala. Kutil baru mungkin terlihat beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah seseorang tertular. Karena itu, munculnya kutil sekarang tidak otomatis berarti penularan baru saja terjadi.

    Pasangan seksual juga cenderung berbagi HPV meskipun kutil hanya terlihat pada salah satu orang, atau tidak terlihat pada keduanya.

    Penelitian terhadap pasangan heteroseksual yang baru menjalin hubungan menemukan bahwa penularan HPV genital dapat berlangsung dari laki-laki ke perempuan maupun sebaliknya, dengan laju yang hampir serupa. Temuan tersebut tidak menentukan siapa yang menularkan HPV.

    Ketidakpastian ini dapat menjadi beban tersendiri. Dalam sebuah studi kualitatif kecil, peserta dengan kutil kelamin melaporkan rasa malu, kekhawatiran tentang perselingkuhan, serta terganggunya hubungan seksual dan emosional. Studi tersebut hanya melibatkan 10 orang, sehingga tidak menggambarkan pengalaman semua pasien. Namun, hasilnya menunjukkan pentingnya informasi yang benar dan percakapan tanpa saling menuduh.

  2. Apakah pasangan harus menjalani tes HPV?

    Ilustrasi partikel virus human papillomavirus (HPV) berbentuk bulat dengan permukaan bertekstur pada latar warna gelap.
    ilustrasi virus human papillomavirus atau HPV (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Disease)

    Pasangan tidak perlu langsung mencari tes HPV. Pedoman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tidak menganjurkan tes HPV bagi pasangan dari orang yang memiliki kutil kelamin. Hasil tes tidak dapat menentukan kapan penularan terjadi dan tidak membantu menentukan penanganan kutil.

    Langkah yang lebih bermanfaat meliputi:

    1. Pastikan diagnosis pasangan telah diberikan oleh tenaga kesehatan. Sejumlah benjolan atau kelainan kulit di area genital dapat menyerupai kutil kelamin. Lesi yang mudah berdarah, berwarna tidak biasa, keras, melekat pada jaringan, atau menjadi luka mungkin memerlukan pemeriksaan lanjutan.
    2. Periksa diri apabila terdapat kelainan. Temui dokter apabila muncul benjolan, gatal, nyeri, perdarahan, atau luka di sekitar alat kelamin maupun anus. Pasangan tanpa gejala juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan fisik setelah berdiskusi dengan dokter.
    3. Diskusikan pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Orang dengan kutil kelamin dan pasangannya dapat memperoleh manfaat dari tes IMS lain sesuai riwayat serta jenis paparan seksual.
    4. Tetap menjalani skrining kanker serviks. Perempuan perlu menjalani skrining sesuai usia dan anjuran yang berlaku. Memiliki pasangan dengan kutil kelamin tidak berarti pemeriksaan Pap smear harus dilakukan lebih sering dari jadwal rutin.

    Tidak ada obat pencegahan yang perlu diberikan kepada pasangan tanpa kutil. Pengobatan yang tersedia ditujukan untuk menghilangkan kutil yang terlihat, bukan membersihkan HPV dari tubuh.

  3. Perlukah berhenti berhubungan seksual?

    Anjurannya, hentikan hubungan seksual ketika salah satu masih memiliki kutil kelamin. Ini karena HPV dapat menyebar melalui hubungan vaginal, anal, oral, maupun sentuhan kulit yang dekat di area genital.

    Hubungan seksual dapat dipertimbangkan kembali setelah kutil tidak terlihat dan area yang mendapat perawatan telah pulih sesuai penilaian dokter. Meski demikian, belum diketahui secara pasti berapa lama HPV masih dapat menular setelah kutil menghilang.

    Kondom yang digunakan dengan benar dan konsisten dapat mengurangi risiko penularan. Namun, kondom tidak menutupi seluruh kulit genital sehingga tidak memberikan perlindungan penuh terhadap HPV.

  4. Vaksinasi HPV masih dapat dibicarakan

    Vaksin HPV tidak dapat menghilangkan virus yang telah berada di tubuh atau mengobati kutil yang sudah muncul. Namun, seseorang belum tentu pernah terpapar semua tipe HPV yang tercakup dalam vaksin. Vaksinasi masih dapat memberikan perlindungan terhadap tipe yang belum didapatkan.

    Jika salah satu atau kedua pasangan belum menyelesaikan vaksinasi, tanyakan kepada dokter apakah vaksin masih sesuai berdasarkan usia, riwayat vaksinasi, dan kondisi kesehatan masing-masing.

    Kutil kelamin umumnya disebabkan oleh HPV tipe risiko rendah yang berbeda dari tipe penyebab kanker. Meski demikian, seseorang dapat membawa lebih dari satu tipe HPV. Oleh sebab itu, vaksinasi dan skrining kanker serviks tetap memiliki fungsi tersendiri.

  5. Kutil dapat muncul kembali setelah diobati

    Ilustrasi medis kutil kelamin kambuh berupa benjolan kecil bertekstur pada area genital sebagai tanda infeksi HPV.
    Kutil kelamin yang kambuh. (cdc.gov/CDC/ Susan Lindsley/ID# 1586)1

    Pengobatan dapat menghilangkan kutil, tetapi tidak langsung memberantas virus. Kutil cukup sering kambuh, terutama dalam tiga bulan pertama setelah perawatan.

    Kekambuhan tersebut tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa pasangan kembali menularkan HPV. Pasangan yang sedang hamil, memiliki HIV, mengonsumsi obat penekan daya tahan tubuh, atau mengalami kutil yang terus bertambah perlu memberi tahu dokter karena kondisinya dapat memengaruhi pilihan dan hasil pengobatan.

    Menghadapi kutil kelamin sebagai pasangan memerlukan beberapa langkah nyata, meliputi menunda hubungan seksual ketika kutil masih terlihat, menjalani pemeriksaan yang memang dibutuhkan, mempertimbangkan vaksinasi, dan membicarakan diagnosis tanpa tuduhan yang tidak dapat dibuktikan secara medis.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, “About Genital HPV Infection,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Anogenital Warts,” Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, diakses September 2026.

    Ann N. Burchell, François Coutlée, Pierre-Paul Tellier, James Hanley, and Eduardo L. Franco, “Genital Transmission of Human Papillomavirus in Recently Formed Heterosexual Couples,” Journal of Infectious Diseases 204, no. 11 (2011): 1723–29, https://doi.org/10.1093/infdis/jir644.

    Gitte Lee Mortensen and Helle K. Larsen, “The Quality of Life of Patients with Genital Warts: A Qualitative Study,” BMC Public Health 10 (2010): 113, https://doi.org/10.1186/1471-2458-10-113.

    Centers for Disease Control and Prevention, “HPV Vaccine Recommendations,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More