ilustrasi masak nasi (commons.wikimedia.org/One Salient Oversight)
Metode yang paling banyak didukung bukti adalah memasak beras menggunakan air dalam jumlah besar, kemudian membuang air yang tersisa.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyarankan perbandingan sekitar 6–10 bagian air untuk 1 bagian beras. Setelah nasi matang, buang air rebusannya. Cara ini dapat menurunkan arsenik anorganik sekitar 40–60 persen, tergantung jenis beras.
Kekurangannya, sebagian vitamin dan mineral yang larut dalam air juga ikut terbuang. Pada beras putih atau pratanak yang telah diperkaya, metode ini dapat menurunkan folat, zat besi, niasin, dan tiamin sekitar 50–70 persen. Karena itu, cara ini dapat digunakan terutama oleh orang yang makan nasi sangat sering, menyiapkan makanan anak, atau memiliki kekhawatiran mengenai sumber beras dan airnya.
Para peneliti dari Universitas Sheffield mengembangkan metode parboiling with absorption (PBA):
Didihkan air bersih.
Masukkan beras dan rebus selama 5 menit.
Buang seluruh air rebusan.
Tambahkan air bersih yang baru.
Masak dengan api kecil sampai air terserap dan nasi matang.
Dalam penelitian laboratorium, metode ini mengurangi sekitar 73 persen arsenik anorganik pada beras putih dan 54 persen pada beras cokelat, sambil mempertahankan sebagian besar unsur zat gizi yang diukur. Namun, hasilnya dapat berbeda menurut varietas beras dan kualitas air yang digunakan.
Mencuci beras tetap berguna untuk membersihkan debu dan sisa pati di permukaannya. Namun, FDA menyatakan bahwa membilas beras sebelum dimasak hanya memberikan pengaruh minimal terhadap kadar arsenik pada nasi matang. Pembilasan juga dapat menghilangkan sebagian zat gizi yang ditambahkan pada beras putih yang diperkaya.
Sejumlah penelitian memang menemukan penurunan arsenik setelah beberapa kali pencucian, tetapi efeknya lebih kecil dan tidak sekonsisten memasak dengan banyak air lalu membuang air rebusannya.