Penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara skor kuesioner dan frekuensi kategori kata. Temuannya tidak membuktikan bahwa pilihan kata menyebabkan suatu sifat, atau bahwa satu kata tertentu menandakan psikopati. Tujuan studi ini juga bukan mendiagnosis psikopati lewat tulisan.
Psikopati sendiri merupakan konstruk kepribadian yang diteliti, bukan diagnosis tersendiri dalam DSM-5-TR. Gangguan kepribadian antisosial merupakan diagnosis berbeda yang memiliki sejumlah ciri tumpang tindih, tetapi keduanya tidak sama.
Karena studi ini menganalisis cerita berbahasa dan konteks tertentu, hasilnya juga perlu diuji sebelum diterapkan pada jenis tulisan lain, termasuk percakapan singkat atau bahasa yang berbeda. Penilaian klinis memerlukan pertimbangan lebih luas daripada pilihan kata dalam satu tulisan.
Studi ini memberi petunjuk bahwa bahasa dapat berkaitan dengan dimensi kepribadian, tetapi satu tulisan tidak cukup untuk menjelaskan siapa penulisnya, apalagi menetapkan diagnosis.
Referensi
Ky Bray dan Laura E. Drislane, “Investigating Interpersonal and Affective Features of Psychopathy through Language Use,” Personality and Individual Differences (advance online publication, 2026), https://doi.org/10.1016/j.paid.2026.113978.
University of Mississippi, “Researchers Study How Psychopathic Traits Shape Language,” diakses 11 Oktober 2026.
American Psychological Association, “Speaking of Psychology: Why Psychopathy Is More Common than You Think, with Abigail Marsh, PhD,” diakses 11 Oktober 2026.
Jaime L. Anderson dan Shannon E. Kelley, “Antisocial Personality Disorder and Psychopathy: The AMPD in Review,” Personality Disorders: Theory, Research, and Treatment 13, no. 4 (2022): 397–401, https://doi.org/10.1037/per0000525.