Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Ciri-Ciri Psikopati Bisa Tampak dalam Tulisan Seseorang

3 min read
Studi: Ciri-Ciri Psikopati Bisa Tampak dalam Tulisan Seseorang
ilustrasi psikopati (pexels.com/Samer Daboul)
  • Studi terbaru menganalisis cerita tertulis tentang pengalaman hidup, lalu membandingkan pola kata dengan skor tiga dimensi psikopati.

  • Hubungannya berbeda-beda menurut dimensi dan jenis cerita. Temuan itu berupa kecenderungan pada kelompok, bukan daftar kata yang menandai seseorang.

  • Tulisan tidak dapat digunakan sendiri untuk mendiagnosis psikopati. Penelitian ini mengukur dimensi kepribadian melalui kuesioner, bukan mendiagnosis peserta dari tulisannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebuah studi yang terbit dalam jurnal Personality and Individual Differences meneliti hubungan antara beberapa dimensi psikopati dan pilihan kata dalam cerita tentang pengalaman hidup.

Temuannya menarik, tetapi ini bukan cara untuk mendiagnosis ataupun melabeli seseorang dari pesan singkat, unggahan, ataupun tulisan tangan.

  1. 1. Peneliti menganalisis cerita tentang pengalaman hidup

    Studi yang dilakukan Ky Bray dan Laura E. Drislane melibatkan 307 mahasiswa dan 144 orang dewasa yang pernah dipenjara.

    Peserta diminta menulis tentang tiga bagian hidup mereka: pengalaman terbaik, pengalaman terburuk, dan titik balik. Mereka juga mengisi kuesioner TriPM, alat ukur penelitian yang menilai tiga dimensi kepribadian.

    Peneliti lalu menggunakan perangkat lunak untuk menghitung frekuensi kategori kata dalam tulisan, seperti kata yang berkaitan dengan kecemasan atau emosi positif. Jadi, yang dikaji adalah pola statistik dalam cerita yang ditulis berdasarkan instruksi tertentu. Peneliti tidak menilai tulisan spontan seperti chat atau catatan pribadi.

  2. 2. Tiga dimensi menunjukkan pola yang berbeda

    Ilustrasi aktivitas menulis sebagai gambaran proses menuangkan ide dan menyusun tulisan di atas kertas secara kreatif.
    ilustrasi menulis (unsplash.com/Nguyen Dang Hoang Nhu)

    Dalam model triarki psikopati yang digunakan studi ini, boldness berkaitan dengan keberanian dan dominansi sosial; meanness mencakup sikap antagonistik dan rendahnya kepedulian terhadap orang lain; sedangkan disinhibition menggambarkan kesulitan mengendalikan dorongan.

    Peneliti menemukan hubungan yang berbeda antara dimensi-dimensi tersebut dan bahasa yang dipakai:

    • Skor boldness yang lebih tinggi berkaitan dengan lebih sedikit kata tentang kecemasan dan gangguan mental di ketiga jenis cerita.
    • Skor meanness menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan gambaran stereotip. Dimensi ini berkaitan dengan lebih banyak kata bernada positif dan pencapaian. Pada cerita tentang titik balik, skornya juga berkaitan dengan lebih sedikit kata bernada negatif.
    • Disinhibition menjadi dimensi yang paling kuat hubungannya dengan pola bahasa. Skor yang lebih tinggi berkaitan dengan nada emosional yang lebih negatif saat peserta menceritakan pengalaman terbaik dan titik balik, tetapi pola itu tidak muncul dalam cerita tentang pengalaman terburuk. Hubungan dengan kata terkait zat juga berubah menurut jenis cerita.

    Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara kepribadian dan penggunaan bahasa tidak sesederhana anggapan bahwa orang yang kurang berempati akan selalu menulis dengan cara yang dingin atau tanpa emosi. Pilihan kata juga dipengaruhi oleh jenis cerita atau situasi yang dibahas. Peneliti bahkan menemukan bahwa dimensi meanness dalam kondisi tertentu dapat dikaitkan dengan penggunaan bahasa yang bernada positif.

  3. 3. Temuan ini tidak untuk melabeli seseorang

    Penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara skor kuesioner dan frekuensi kategori kata. Temuannya tidak membuktikan bahwa pilihan kata menyebabkan suatu sifat, atau bahwa satu kata tertentu menandakan psikopati. Tujuan studi ini juga bukan mendiagnosis psikopati lewat tulisan.

    Psikopati sendiri merupakan konstruk kepribadian yang diteliti, bukan diagnosis tersendiri dalam DSM-5-TR. Gangguan kepribadian antisosial merupakan diagnosis berbeda yang memiliki sejumlah ciri tumpang tindih, tetapi keduanya tidak sama.

    Karena studi ini menganalisis cerita berbahasa dan konteks tertentu, hasilnya juga perlu diuji sebelum diterapkan pada jenis tulisan lain, termasuk percakapan singkat atau bahasa yang berbeda. Penilaian klinis memerlukan pertimbangan lebih luas daripada pilihan kata dalam satu tulisan.

    Studi ini memberi petunjuk bahwa bahasa dapat berkaitan dengan dimensi kepribadian, tetapi satu tulisan tidak cukup untuk menjelaskan siapa penulisnya, apalagi menetapkan diagnosis.

    Referensi

    Ky Bray dan Laura E. Drislane, “Investigating Interpersonal and Affective Features of Psychopathy through Language Use,” Personality and Individual Differences (advance online publication, 2026), https://doi.org/10.1016/j.paid.2026.113978.

    University of Mississippi, “Researchers Study How Psychopathic Traits Shape Language,” diakses 11 Oktober 2026.

    American Psychological Association, “Speaking of Psychology: Why Psychopathy Is More Common than You Think, with Abigail Marsh, PhD,” diakses 11 Oktober 2026.

    Jaime L. Anderson dan Shannon E. Kelley, “Antisocial Personality Disorder and Psychopathy: The AMPD in Review,” Personality Disorders: Theory, Research, and Treatment 13, no. 4 (2022): 397–401, https://doi.org/10.1037/per0000525.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More