Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi obesitas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Survei terhadap 1.000 orang dewasa dengan obesitas menemukan hanya 30 persen membahas berat badan dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.

  • Hambatan utama peserta ialah kekhawatiran biaya pengelolaan berat badan (45 persen), menganggapnya sebagai tanggung jawab pribadi (43 persen), serta merasa sudah tahu langkah yang diperlukan (32 persen).

  • Dokter menyoroti ketakutan terhadap stigma sebagai penghambat; sementara 53 persen tenaga kesehatan pernah memulai percakapan, tetapi sebagian menilai pasien kurang termotivasi atau meragukan keberhasilan penurunan berat badan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masalah berat badan tidak selalu mudah dibicarakan, bahkan saat seseorang sedang berkonsultasi tentang kesehatan. Ada yang khawatir biaya penanganannya, ada pula yang merasa harus mengatasinya sendiri. Dalam survei daring di Indonesia, kedua hal itu termasuk alasan yang disebut ketika peserta ditanya mengapa mereka tidak membahas berat badan dengan tenaga kesehatan.

Studi yang terbit dalam jurnal PLOS ONE pada Juni 2026 itu melibatkan 1.000 orang dewasa yang dikategorikan peneliti sebagai orang dengan obesitas dan 200 tenaga kesehatan. Hasilnya, hanya 30 persen peserta dengan obesitas mengatakan pernah membicarakan berat badan dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.

Biaya dan anggapan harus mengatasinya sendiri

Kekhawatiran soal kemampuan membiayai upaya pengelolaan berat badan menjadi alasan yang paling banyak disebut, yaitu 45 persen.

Sebanyak 43 persen peserta menyebut mereka menganggap pengelolaan berat badan sebagai tanggung jawab pribadi.

Alasan lain, yang disebut oleh 32 persen peserta, adalah merasa sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Survei dilakukan secara daring pada April hingga Mei 2022. Peserta dewasa dikategorikan sebagai orang dengan obesitas jika IMT yang dihitung dari tinggi dan berat badan yang mereka laporkan sendiri mencapai 25 atau lebih. Karena itu, hasilnya tidak dapat dianggap sebagai angka prevalensi nasional.

Rasa takut bisa menjadi hambatan

Psikiater dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ dalam Diskusi media "Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental" dan peluncuran kampanye "Hidup Lebih Ringan" untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas pada Kamis (5/11) di Jakarta. (Dok. Novo Indonesia)

Psikiater dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan bahwa orang bisa takut mendapat komentar yang tidak menyenangkan saat berkonsultasi. Rasa takut terhadap stigma yang belum tentu terjadi ini disebut stigma yang diantisipasi.

“Faktor terbesarnya memang adalah ketakutan itu tadi. Itu namanya stigma yang diantisipasi. Sebenarnya mungkin stigma itu belum kita rasakan, tetapi sudah ada antisipasi duluan nih, ‘Aku takut nanti dibilang ini, aku takut nanti dokternya mengatakan hal yang tidak enak’, dan lain sebagainya. Itu berkontribusi terhadap rendahnya angka pembicaraan mengenai obesitas kepada tenaga kesehatan profesional,” kata dr. Putri dalam acara peluncuran kampanye "Hidup Lebih Ringan" serta diskusi media Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental, pada Kamis (5/11), di Jakarta.

Ia juga mengingatkan bahwa komentar yang memberi stigma tidak membantu seseorang mencari pertolongan.

“Jadi sebenarnya perkataan-perkataan yang bersifat stigmatis seperti itu bukannya membuat kita lebih termotivasi, justru counterproductive,” ujarnya.

Percakapan juga bisa dimulai dari tenaga kesehatan

Survei tersebut turut menanyakan pandangan dari tenaga kesehatan. Sebanyak 53 persen tenaga kesehatan yang disurvei mengatakan mereka pernah memulai percakapan soal berat badan. Di antara alasan yang mereka sebut untuk tidak memulai percakapan, 55 persen merasa pasien kurang termotivasi, sedangkan 51 persen meragukan pasien dapat menurunkan berat badan.

Temuan ini menunjukkan bahwa percakapan dapat terhambat dari dua arah, yakni seseorang mungkin takut dinilai atau merasa harus mengatasinya sendiri, sementara tenaga kesehatan bisa menunggu pasien menunjukkan kesiapan. Membicarakan berat badan dengan tenaga kesehatan bisa menjadi kesempatan untuk menyampaikan kondisi, kekhawatiran, dan kendala yang dihadapi.

Referensi

Sidartawan Soegondo et al., “Perceptions, Attitudes, Behaviours and Barriers towards Obesity among People with Obesity and Health Care Professionals in Indonesia: An Exploratory Online Survey,” PLOS ONE 21, no. 6 (2026): e0350857, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0350857.

Curated For You

Editorial Team

Related Article