Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi: Hampir 1 dari 5 Anak Indonesia Overweight atau Obesitas

3 min read
Studi: Hampir 1 dari 5 Anak Indonesia Overweight atau Obesitas
ilustrasi anak doyan makan, rentan mengalami kegemukan atau obesitas (IDN Times/NRF)
  • Metaanalisis 152 penelitian memperkirakan 18,13 persen anak usia sekolah dan remaja di Indonesia mengalami berat badan berlebih atau obesitas.

  • Angka itu bukan prevalensi obesitas saja. Dalam metaanalisis tersebut, obesitas saja diperkirakan sebesar 7,49 persen.

  • Data SKI 2023 yang dirangkum UNICEF juga menunjukkan masalah ini pada anak dan remaja, dengan angka berbeda menurut kelompok usia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat berat badan anak membengkak, angka timbangan saja tidak bisa menjelaskan apakah pertumbuhannya sehat atau tidak. Tinggi badan, usia, dan pola tumbuh anak juga perlu diperhatikan. Ini penting karena kategori berat badan pada anak tidak memakai batas indeks massa tubuh (IMT atau BMI) orang dewasa.

Sebuah metaanalisis yang terbit pada Mei 2026 memperkirakan 18,13 persen anak usia sekolah dan remaja Indonesia mengalami berat badan berlebih atau obesitas. Artinya, angkanya mendekati 1 dari 5 anak. Namun, angka ini merujuk pada dua kategori yang digabung, bukan obesitas saja. Dalam analisis yang sama, prevalensi obesitas saja diperkirakan sebesar 7,49 persen.

  1. Temuan studi

    Peneliti menggabungkan hasil 152 penelitian potong lintang yang datanya dikumpulkan hingga 10 September 2025. Penelitian-penelitian tersebut mencakup anak usia sekolah dan remaja, dengan cara pengukuran, rentang usia, dan lokasi yang beragam.

    Setelah melakukan penyesuaian untuk memperhitungkan kemungkinan bias publikasi, peneliti memperoleh perkiraan 18,13 persen untuk gabungan berat badan berlebih dan obesitas. Mereka juga melaporkan bahwa angka gabungan itu paling tinggi pada kelompok siswa sekolah dasar, yakni 18,97 persen.

    Ada pula gambaran lain. Menurut data nasional SKI 2023 yang dirangkum UNICEF, pada tahun tersebut, sekitar 19,8 persen anak usia 5–12 tahun dan 14 persen remaja usia 13–18 tahun mengalami berat badan berlebih atau obesitas.

  2. Apakah temuan studi ini adalah gambaran pasti?

    Peneliti mencatat variasi yang besar di antara studi yang dihimpun, nilai heterogenitasnya berkisar 77,5–99,9 persen. Banyak penelitian berskala kecil (kurang dari 1.000 peserta) dan terkonsentrasi di wilayah Jawa serta Sumatra. Cara menentukan kategori berat badan juga tidak selalu sama.

    Karena itu, angka 18,13 persen sebaiknya dipahami sebagai perkiraan gabungan yang menunjukkan besarnya persoalan. Penulis pun meminta agar estimasi dan proyeksi penelitian ditafsirkan dengan hati-hati.

  3. Berat badan anak dinilai sesuai usia dan pertumbuhannya

    Seorang anak laki-laki berdiri di samping papan tulis saat tinggi badannya diukur dengan alat pengukur tinggi.
    ilustrasi tinggi badan anak (magnific.com/jcomp)

    Pada anak usia 5–19 tahun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggunakan IMT menurut usia. Berat badan berlebih dan obesitas dibedakan berdasarkan posisi IMT anak terhadap acuan pertumbuhan. Untuk anak di bawah 5 tahun, penilaiannya menggunakan berat badan menurut tinggi badan, bukan cuma angka timbangan.

    Jika orang tua khawatir dengan pola pertumbuhan anak, pengukuran berat dan tinggi badan dapat dibahas bersama dokter atau tenaga kesehatan yang memantau tumbuh kembangnya.

  4. Berat badan dan kesehatan anak dalam jangka panjang

    Berat badan berlebih dan obesitas pada masa anak dapat berkaitan dengan kesehatan fisik, mental, dan sosial. WHO menyebut anak dapat menghadapi stigma, diskriminasi, perundungan, kualitas hidup yang lebih rendah, hingga hambatan dalam performa sekolah.

    Obesitas juga dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 serta penyakit kardiovaskular.

    Namun, faktor yang memengaruhi berat badan beragam, yang merupakan hasil interaksi berbagai faktor biologis, lingkungan, dan psikososial. Akses terhadap makanan sehat, kesempatan bergerak dengan aman, kebiasaan tidur, serta lingkungan keluarga dan sekolah ikut berperan.

    Dukungan sehari-hari bisa dimulai dari kebiasaan keluarga, mulai dari menyediakan makanan beragam, mengajak anak aktif bergerak, menjaga waktu tidur, memberi ruang untuk bermain, serta pengurangan waktu sedenter (duduk lama) dan penggunaan layar sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.

    Pendekatan ini membantu orang tua mendampingi kesehatan anak tanpa menyalahkan atau mempermalukan mereka. Fokusnya adalah mendukung pertumbuhan yang sehat.

    Referensi

    Azza Fithra Alhanifa, Tresna Ananda Dewi Purbasari, dan Putu Cintya Denny Yuliyatni, “Prevalence, Trends, and Projections of Overweight and Obesity Among Children and Adolescents in Indonesia, 1993–2050: A Meta-Analysis of Observational Studies,” Majalah Kesehatan Indonesia 7, no. 3 (2026): 131–154, https://doi.org/10.47679/makein.2026326.

    UNICEF Indonesia, "The Cost of Inaction on Childhood Obesity in Indonesia: Summary for Policymakers," (Jakarta: UNICEF Indonesia, 2026), diakses 23 Oktober 2026.

    World Health Organization, “BMI-for-Age (5–19 Years),” diakses 23 Oktober 2026.

    World Health Organization, “Obesity and Overweight,” diakses 23 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More