Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemenkes: Tak Hanya Medis, Dampak Diabetes Juga Bersifat Finansial
ilustrasi konsultasi dokter mengenai kesehatan ginjal (IDN Times/NRF)
  • Kasus diabetes di Indonesia meningkat pesat, memicu lonjakan biaya kesehatan hingga 476 persen untuk gagal ginjal dan menambah beban ekonomi nasional.
  • Penyakit ini kini banyak menyerang usia produktif akibat gaya hidup tidak sehat, sehingga deteksi dini dan edukasi masyarakat menjadi langkah penting pencegahan.
  • Pengelolaan diabetes harus dilakukan jangka panjang melalui perubahan gaya hidup, kepatuhan pengobatan, serta edukasi berkelanjutan agar risiko komplikasi dapat ditekan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Diabetes bukan hanya soal kadar gula darah yang tinggi, tetapi juga pintu masuk bagi berbagai penyakit serius lainnya. Banyak orang belum menyadari bahwa ketika diabetes tidak terkontrol dengan baik, dampaknya bisa menjalar ke berbagai organ tubuh dan memicu komplikasi yang berbahaya.

Di Indonesia, jumlah orang yang hidup dengan diabetes terus meningkat dan menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup pasien, tetapi juga memperbesar risiko munculnya penyakit lain seperti hipertensi, gangguan jantung, hingga kerusakan organ vital.

Jika tidak ditangani sejak dini, komplikasi seperti gagal ginjal, gangguan penglihatan, hingga penyakit kardiovaskular dapat terjadi dan membutuhkan penanganan jangka panjang.

1. Biaya penanganan gagal ginjal meningkat 476 persen

Menurut Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, diabetes tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memberi tekanan besar pada sistem kesehatan nasional. Penyakit ini menjadi pintu masuk berbagai komplikasi serius, mulai dari hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal dan katarak jika tidak ditangani dengan baik.

Hal ini ia sampaikan dalam diskusi media bersama Kemenkes, PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), dan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) pada Jumat (17/4/2026) di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa peningkatan kasus diabetes berjalan seiring dengan melonjaknya beban pembiayaan kesehatan. Data BPJS menunjukkan adanya kenaikan kasus diabetes hingga 40 persen, sementara biaya penanganan gagal ginjal bahkan meningkat drastis hingga 476 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dampak diabetes tidak hanya bersifat medis, tetapi juga ekonomi.

"Penanganan diabetes membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Mulai dari faktor risikonya, deteksi dini dan pengobatan,” ujar dr. Nadia.

Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif, serta kolaborasi lintas sektor agar penanganan diabetes bisa lebih efektif dan berkelanjutan.

2. Diabetes mulai menyerang usia produktif

Diskusi media Kemenkes RI, PERKENI, dan Kalbe (17/4/2026) di Jakarta (IDN Times/Rifki Wuda)

Lebih lanjut, dr. Nadia memaparkan bahwa peningkatan kasus diabetes kini tidak lagi didominasi kelompok usia lanjut. Secara perlahan, penyakit ini mulai banyak ditemukan pada usia produktif bahkan anak-anak. Perubahan gaya hidup menjadi faktor utama, mulai dari kurangnya aktivitas fisik hingga pola makan tidak seimbang yang tinggi gula dan kalori.

Kondisi ini membuat risiko komplikasi muncul lebih cepat jika tidak dikendalikan sejak dini. Karena itu, edukasi masyarakat menjadi langkah penting agar lebih sadar terhadap faktor risiko dan mampu menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini, mengingat masih banyak kasus diabetes yang belum terdiagnosis.

"Deteksi dini merupakan langkah penting dalam pengendalian diabetes. Masyarakat perlu lebih proaktif dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala," ujarnya.

Dengan diagnosis yang lebih cepat, risiko komplikasi dapat ditekan secara signifikan.

3. Pentingnya pengelolaan jangka panjang

Ketua Umum PB PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., menekankan bahwa diabetes adalah penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang, bukan sekadar mengontrol gula darah sesaat. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap penyakit ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengendalian.

"Diabetes bukan hanya tentang kadar gula darah, tetapi juga berkaitan dengan risiko komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perubahan gaya hidup, seperti menjaga pola makan dan rutin beraktivitas fisik, menjadi bagian penting dalam terapi diabetes.

Selain itu, kepatuhan terhadap pengobatan dan edukasi yang berkelanjutan juga sangat menentukan keberhasilan pengelolaan penyakit ini. Dengan pemahaman yang baik dan pengelolaan yang tepat, pasien diabetes tetap dapat menjalani hidup yang produktif sekaligus menekan risiko komplikasi di masa depan.

Diabetes bukan hanya penyakit yang berdiri sendiri, tetapi dapat memicu berbagai komplikasi serius jika tidak dikendalikan dengan baik. Karena itu, kombinasi antara deteksi dini, perubahan gaya hidup, serta pengelolaan yang tepat menjadi kunci untuk memutus efek domino penyakit ini.

Editorial Team