Secara medis, sahur berfungsi sebagai "sarapan" saat puasa Ramadhan, makanan terakhir sebelum tubuh mengalami periode puasa panjang. Jika terlewat dan tubuh langsung berpuasa dari malam sebelumnya hingga waktu berbuka, rentang tanpa asupan energi menjadi sangat panjang. Bagi sebagian orang, tubuh bereaksi secara fisiologis ketika tidak ada nutrisi yang masuk dalam waktu yang lama.
Beragam penelitian tentang meal skipping, khususnya melewatkan sarapan, menunjukkan bahwa meninggalkan makanan utama pagi hari dapat berpengaruh pada metabolisme, gula darah, respons hormonal, dan bahkan keseimbangan energi tubuh. Ini memiliki kesesuaian konsep dengan situasi puasa tanpa sahur, karena tubuh berada dalam keadaan berpuasa berkepanjangan yang serupa dengan breakfast skipping dalam penelitian nutrisi.
Puasa membawa banyak manfaat jika dilakukan dengan benar dan tubuh menerima energi cukup saat waktu makan dan minum. Namun, ketika kamu tidak sahur, tubuh menghadapi sejumlah tantangan fisiologis yang penting dipahami, terutama bagi anak-anak, orang dengan kondisi kesehatan tertentu, atau mereka yang menjalankan aktivitas berat sepanjang hari.
