Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Kita Tetap Kuat Puasa meski Gak Sahur?

Mengapa Kita Tetap Kuat Puasa meski Gak Sahur?
ilustrasi lupa sahur (unsplash.com/Christian Erfurt)

Lupa sahur sering membuat orang langsung khawatir tidak kuat menjalani puasa Ramadan. Padahal sebenarnya, tubuh sebenarnya masih memiliki cadangan energi dari makanan yang dikonsumsi saat berbuka dan makan malam. Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak orang tetap bisa beraktivitas normal hingga siang bahkan sore hari meskipun tidak makan di pagi hari.

Umumnya, kita tidak akan langsung kehabisan tenaga saat melewatkan sahur. Ini karena manusia memiliki sistem penyimpanan dan penggunaan energi yang bekerja otomatis saat tidak ada asupan makanan. Pemahaman ini penting supaya tidak muncul anggapan keliru bahwa melewatkan sahur selalu berdampak buruk dalam jangka pendek. Yuk, simak penjelasan kenapa kita tetap bisa kuat puasa walau melewatkan sahur.

1. Tubuh menyimpan cadangan energi sejak malam hari

ilustrasi buka puasa
ilustrasi buka puasa (unsplash.com/Andrik Langfield)

Setelah makan malam atau berbuka, karbohidrat yang masuk tidak langsung habis dipakai menjadi tenaga. Sebagian besar justru disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot sebagai persediaan energi jangka pendek. Simpanan ini dapat bertahan hingga sekitar 12 jam tergantung aktivitas dan kondisi tubuh. Itulah sebabnya banyak orang masih merasa cukup bertenaga pada pagi hingga siang hari meski tidak makan saat sahur.

Cadangan glikogen bekerja seperti tabungan energi yang bisa diambil kapan saja ketika tubuh tidak mendapat asupan makanan baru. Selama persediaan tersebut masih cukup, tubuh tetap mampu menjalankan fungsi dasar seperti bergerak, menjaga suhu, dan berpikir. Kondisi ini membuat puasa tanpa sahur tidak langsung menyebabkan tubuh lemas. Namun, cadangan tersebut tetap memiliki batas waktu pemakaian.

2. Hati melepaskan gula darah secara terkontrol

ilustrasi gula darah
ilustrasi gula darah (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

Hati memiliki peran penting dalam menjaga kadar gula darah tetap normal saat tidak makan. Organ ini mampu memecah glikogen menjadi glukosa lalu melepaskannya sedikit demi sedikit ke aliran darah. Proses tersebut berlangsung otomatis tanpa disadari. Karena pelepasannya bertahap, energi tubuh tetap stabil meskipun tidak ada makanan baru yang masuk.

Sistem ini juga mencegah penurunan gula darah secara mendadak. Itulah alasan seseorang masih bisa beraktivitas normal di pagi hari walaupun tidak sahur. Biasanya rasa lemas baru muncul ketika simpanan di hati mulai menipis. Waktu kemunculannya berbeda pada setiap orang.

3. Tubuh beralih memakai lemak sebagai sumber tenaga

ilustrasi beraktivitas
ilustrasi beraktivitas (unsplash.com/Creative Christians)

Ketika cadangan glikogen mulai berkurang, tubuh tidak langsung kehilangan energi. Tubuh akan beralih menggunakan lemak sebagai bahan bakar melalui proses pembakaran lemak alami. Mekanisme ini membuat energi tetap tersedia meskipun tidak ada asupan makanan. Bahkan, proses ini justru menjadi salah satu alasan puasa sering dikaitkan dengan penurunan berat badan.

Pembakaran lemak menghasilkan energi lebih lambat dibanding glukosa, tetapi jumlahnya jauh lebih besar. Karena itu, tubuh masih mampu menjalankan aktivitas ringan hingga sedang. Perubahan sumber energi ini terjadi secara bertahap tanpa menimbulkan gangguan berarti. Selama tubuh sehat, mekanisme ini berjalan aman.

4. Hormon tubuh membantu menghemat energi

ilustrasi insulin
ilustrasi insulin (commons.wikimedia.org/Роман Беккер)

Saat tidak makan dalam waktu lama, tubuh menyesuaikan produksi hormon. Insulin menurun, sementara hormon seperti glucagon meningkat untuk membantu tubuh menggunakan cadangan energi. Perubahan ini membuat penggunaan energi menjadi lebih efisien. Tubuh juga cenderung mengurangi pemborosan tenaga yang tidak diperlukan.

Penyesuaian hormon ini membantu menjaga kadar gula darah tetap seimbang. Itulah sebabnya banyak orang masih merasa cukup fokus dan tidak langsung lemas meski tidak sahur. Sistem tersebut merupakan bagian dari mekanisme bertahan alami tubuh manusia. Efeknya akan terasa hingga cadangan energi mulai berkurang.

5. Kondisi tubuh dan kualitas makan malam menentukan daya tahan

ilustrasi makan malam
ilustrasi makan malam (unsplash.com/Stephen Han)

Kemampuan bertahan tanpa sahur sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi saat berbuka dan makan malam. Karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta cairan yang cukup membantu tubuh menyimpan energi lebih lama. Sebaliknya, makanan tinggi gula sederhana cepat habis sehingga energi lebih cepat turun. Kualitas tidur juga ikut memengaruhi stamina saat puasa.

Selain itu, aktivitas fisik dan kondisi kesehatan memiliki peran besar. Orang dengan aktivitas berat biasanya lebih cepat merasa lemas ketika tidak sahur. Sementara mereka yang aktivitasnya ringan cenderung bertahan lebih lama. Perbedaan ini wajar karena kebutuhan energi tiap tubuh tidak sama.

Puasa tetap bisa dijalani meski sahur terlewat karena tubuh memiliki sistem cadangan energi yang bekerja otomatis sejak malam hari. Meski begitu, sahur tetap penting untuk menjaga stamina, mencegah dehidrasi, dan menghindari penurunan energi terlalu cepat. Baiknya tetap upayakan untuk sahur ya, guys!

Referensi

"What to do if you missed suhoor or fajr prayer" Islamic Relief. Diakses pada Februari 2026.

"What Happens If You Don’t Eat for a Full Day? (24-hour fast)" Healthline. Diakses pada Februari 2026.

"Fasting During Ramadan: Is It Valid Without Sahur?" Zeed Sharia. Diakses pada Februari 2026.

"How long can you go without food?" Within. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More

Kesalahan Nge-gym saat Puasa yang Perlu Dihindari. Awas, Tumbang!

28 Feb 2026, 18:15 WIBHealth