Perdebatan low-carbohydrate (rendah karbohidrat) versus low-fat (rendah lemak) sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sebagian orang menghindari nasi dan roti, sebagian lain takut pada minyak dan lemak. Namun, studi besar terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology (JACC) menunjukkan bahwa fokus perdebatan mungkin selama ini kurang tepat.
Para peneliti menganalisis data dari hampir 200 ribu orang dewasa di Amerika Serikat yang diikuti selama lebih dari 30 tahun. Data tersebut berasal dari tiga kohort besar: Nurses’ Health Study, Nurses’ Health Study II, dan Health Professionals Follow-up Study. Selama periode observasi, lebih dari 5,2 juta tahun pengamatan (person‑years), tercatat lebih dari 20 ribu kasus penyakit jantung koroner.
Temuannya, bukan cuma berapa gram karbohidrat atau lemak yang dikonsumsi, melainkan dari mana sumbernya.
Diet rendah karbo atau rendah lemak dari makanan yang berkualitas tinggi memiliki dampak protektif terhadap jantung. Sebaliknya, pola makan rendah karbo yang didominasi lemak hewani dan protein hewani, atau diet rendah lemak yang tinggi karbohidrat olahan, justru berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.
Dengan kata lain, mengurangi makronutrien tanpa memperbaiki kualitas makanan tidak otomatis membuat jantung lebih sehat.
