Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi larutan oralit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Wabah kolera 1971 di kamp pengungsi Bongaon, India, membanjiri pusat perawatan hingga sekitar 200 pasien baru per hari, saat infus dan tenaga terlatih sangat terbatas.

  • Dilip Mahalanabis dan tim menerapkan larutan glukosa-elektrolit oral secara massal, melibatkan keluarga pasien.

  • Selama delapan minggu, 3.703 pasien kolera ditangani di Bongaon; pengalaman ini mendukung adopsi oralit dalam program global WHO pada 1978, dengan formula diperbarui sejak 2003.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada musim panas tahun1971, wabah kolera menyebar di kamp-kamp pengungsi di India. Jutaan orang meninggalkan Pakistan Timur—wilayah yang kemudian menjadi Bangladesh—karena perang kemerdekaan. Di Bongaon, dekat perbatasan, jumlah orang yang sakit terus bertambah. Pusat perawatan yang hanya memiliki dua bangunan kecil dengan 16 tempat tidur kewalahan. Saat wabah mencapai puncaknya, sekitar 200 pasien baru datang setiap hari.

Kolera dapat menyebabkan diare cair hebat dan membuat tubuh kehilangan banyak air serta garam mineral. Saat itu, cairan infus dan tenaga terlatih untuk memberikannya sangat terbatas. Dokter Dilip Mahalanabis dan rekan-rekannya dari Johns Hopkins Center for Medical Research and Training di Kolkata pun mengandalkan larutan yang dapat diminum, yaitu terapi rehidrasi oral, yang dikenal kemudian masyarakat sebagai oralit.

Gagasan yang tumbuh dari banyak penelitian

Oralit tidak ditemukan secara tiba-tiba oleh Mahalanabis. Dasar ilmiahnya dibangun selama bertahun-tahun. Para peneliti mengetahui bahwa penyerapan glukosa di usus membantu penyerapan natrium dan air. Pada pasien kolera, jalur penyerapan tersebut tetap bekerja meski tubuh kehilangan banyak cairan.

Peneliti di laboratorium kolera di Dhaka dan kelompok riset Johns Hopkins di Kolkata menguji larutan glukosa dan elektrolit pada pasien. Nama-nama seperti David Nalin, Richard Cash, Norbert Hirschhorn, serta banyak peneliti dan tenaga kesehatan lainnya ikut membangun bukti bahwa cairan yang diminum dapat membantu mengganti kehilangan cairan akibat diare.

Sumbangan penting Mahalanabis dan timnya terjadi saat gagasan itu dibawa ke situasi yang jauh lebih berat, yaitu wabah besar dengan persediaan infus yang tidak mencukupi. Mereka menyiapkan paket berisi glukosa, garam, dan soda kue untuk dilarutkan dalam air bersih. Larutan dibagikan dari drum, sementara keluarga pasien membantu memberikannya kepada kerabat yang sakit dan masih bisa minum.

Larutan oral bukan pengganti infus bagi semua pasien. Pasien dengan dehidrasi berat atau syok tetap membutuhkan cairan infus jika tersedia. Dalam catatan tim, pasien tanpa tanda syok dapat menerima larutan oral sejak awal, sedangkan pasien yang sangat parah mendapat infus terlebih dahulu sebelum cairan oral digunakan untuk mengganti kehilangan yang berlanjut.

Rehidrasi oral diterapkan secara massal

ilustrasi perawat memberikan oralit atau larutan rehidrasi oral kepada pasien saat wabah kolera (commons.wikimedia.org/Centers for Disease Control and Prevention)

Selama delapan minggu, pusat perawatan di Bongaon menangani 3.703 pasien dengan diagnosis klinis kolera. Catatan tim menyebut angka kematian kasus sebesar 3,6 persen secara keseluruhan; di satu unit percontohan, angkanya 1 persen. Namun, hasil tersebut berasal dari laporan pengamatan. Sekitar setengah pasien yang meninggal sudah wafat sebelum terapi rehidrasi dimulai.

Jadi, angka-angka tersebut bukan bukti oralit sendirian menurunkan angka kematian dari satu tingkat tertentu ke tingkat lainnya. Nilai penting pengalaman Bongaon adalah menunjukkan bahwa larutan rehidrasi oral dapat digunakan dalam skala besar di tengah keterbatasan, termasuk dengan bantuan keluarga pasien dan tenaga yang tidak semuanya memiliki pelatihan medis sebelumnya.

Dari respons darurat menjadi bagian dari penanganan diare

Temuan klinis dari Bangladesh dan India membantu mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan oralit ke dalam program global penanganan penyakit diare pada tahun 1978. Sejak itu, terapi rehidrasi oral menjadi salah satu cara penting untuk mengganti air dan elektrolit yang hilang akibat diare.

Formulasi oralit juga berkembang. WHO dan UNICEF merekomendasikan formula baru sejak 2003. Jadi, larutan yang digunakan di Bongaon pada 1971 tidak persis sama dengan oralit saset yang digunakan sekarang. Untuk penggunaan saat ini, oralit sachet perlu dilarutkan sesuai petunjuk kemasan. Dehidrasi berat atau syok memerlukan pertolongan medis segera.

Wabah Kolera di Bongaon ini mempertemukan penelitian dasar, uji klinis, kerja tim, dan bantuan keluarga pasien dalam kondisi darurat. Di tengah ruang perawatan yang penuh, kemampuan memberi cairan lewat mulut membuka cara lain untuk menyelamatkan pasien dan pada akhirnya membentuk respons dunia terhadap diare.

Referensi

Dilip Mahalanabis, A. B. Choudhuri, N. G. Bagchi, A. K. Bhattacharya, dan T. W. Simpson, “Oral Fluid Therapy of Cholera among Bangladesh Refugees,” Johns Hopkins Medical Journal 132, no. 4 (1973): 197–205; dicetak ulang dalam WHO South-East Asia Journal of Public Health 1, no. 1 (2012): 105–12.

U.S. National Library of Medicine, “A Simple Solution,” Against the Odds: Making a Difference in Global Health, diakses 7 November 2026.

J. N. Ruxin, “Magic Bullet: The History of Oral Rehydration Therapy,” Medical History 38, no. 4 (1994): 363–97, https://doi.org/10.1017/S0025727300036905.

William B. Greenough III, Niloufar Shababi, dan Sanaz Nourmohammadi Abadchi, “Taking Science to Cholera in Bangladesh: The Personal Odyssey of Dr William B Greenough III and His Colleagues,” eGastroenterology 1, no. 1 (2023): e000002, https://doi.org/10.1136/egastro-2023-000002.

S. K. Bhattacharya, “History of Development of Oral Rehydration Therapy,” Indian Journal of Public Health 38, no. 2 (1994): 39–43, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7530695/.

World Health Organization, “Diarrhoeal Disease,” diakses 7 November 2026.

World Health Organization dan UNICEF, "Oral Rehydration Salts: Production of the New ORS," diakses 7 November 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article