Pada musim panas tahun1971, wabah kolera menyebar di kamp-kamp pengungsi di India. Jutaan orang meninggalkan Pakistan Timur—wilayah yang kemudian menjadi Bangladesh—karena perang kemerdekaan. Di Bongaon, dekat perbatasan, jumlah orang yang sakit terus bertambah. Pusat perawatan yang hanya memiliki dua bangunan kecil dengan 16 tempat tidur kewalahan. Saat wabah mencapai puncaknya, sekitar 200 pasien baru datang setiap hari.
Kolera dapat menyebabkan diare cair hebat dan membuat tubuh kehilangan banyak air serta garam mineral. Saat itu, cairan infus dan tenaga terlatih untuk memberikannya sangat terbatas. Dokter Dilip Mahalanabis dan rekan-rekannya dari Johns Hopkins Center for Medical Research and Training di Kolkata pun mengandalkan larutan yang dapat diminum, yaitu terapi rehidrasi oral, yang dikenal kemudian masyarakat sebagai oralit.