Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Duduk Aktif Berkaitan dengan Kesehatan Otak, Ini Penjelasannya

Potret ayah, ibu, dan anak menyusun puzzle.
ilustrasi menyusun puzzle (pexels.com/Tara Winstead)
Intinya sih...
  • Tidak semua aktivitas duduk berdampak sama pada kesehatan otak.
  • Duduk sambil berpikir aktif berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih baik.
  • Pilihan kecil sehari-hari dapat membantu menjaga daya ingat seiring usia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Duduk rasanya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dari bekerja, bepergian, hingga bersantai di rumah, sebagian besar waktu dihabiskan dalam posisi ini. Selama ini, banyak ahli dan penelitian mengingatkan untuk mengurangi waktu duduk karena terbukti bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa mekanismenya tidak sesederhana itu.

Sebuah studi besar yang melibatkan lebih dari satu juta orang dewasa paruh baya dan lanjut usia dari 30 negara menemukan bahwa dampak duduk terhadap kesehatan otak sangat bergantung pada jenis aktivitas yang dilakukan saat duduk. Artinya, duduk bukan satu kebiasaan tunggal.

Para peneliti menemukan perbedaan jelas antara duduk pasif, seperti menonton televisi, dan duduk aktif secara mental, seperti membaca buku, bermain kartu, atau mengerjakan teka-teki. Perbedaan kecil dalam aktivitas ini ternyata bisa membawa dampak besar bagi fungsi kognitif.

Duduk pasif vs duduk aktif: otak meresponsnya secara berbeda

Aktivitas duduk pasif, terutama menonton televisi dalam waktu lama, berkaitan dengan daya ingat yang lebih buruk dan penurunan kemampuan kognitif. Dalam kondisi ini, otak cenderung menjadi penerima informasi tanpa banyak keterlibatan aktif, sehingga stimulasi mental yang dibutuhkan untuk menjaga ketajaman fungsi otak menjadi minim.

Sebaliknya, aktivitas duduk yang melibatkan proses berpikir aktif menunjukkan hubungan yang lebih positif dengan kesehatan otak. Membaca, bermain kartu, mengerjakan puzzle, menggunakan komputer, bahkan mengemudi, dikaitkan dengan fungsi eksekutif, memori, dan fleksibilitas kognitif yang lebih terjaga.

Associate Professor Paul Gardiner dari University of Queensland menekankan bahwa temuan ini membuka peluang untuk memperbarui pesan kesehatan publik. Alih-alih hanya menyarankan seseorang untuk mengurangi duduk, anjuran ini bisa bergeser menjadi saran untuk memilih aktivitas duduk yang lebih menstimulasi otak, yang mana ini merupakan perubahan kecil yang terasa lebih realistis bagi banyak orang.

Langkah kecil namun bisa berdampak panjang bagi kesehatan otak

ilustrasi lansia sedang berolahraga
ilustrasi lansia sedang berolahraga (pexels.com/Vlada Karpovich)

Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti kamu dianjurkan untuk lebih banyak duduk. Aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama kesehatan tubuh dan otak. Namun, kenyataannya, duduk tetap tak terhindarkan dalam rutinitas harian, khususnya pada kelompok usia lanjut.

Dalam konteks populasi global yang semakin menua, temuan ini menjadi sangat relevan. Fungsi kognitif cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sementara waktu duduk justru meningkat. Demensia sendiri merupakan penyebab kematian ketujuh di dunia dan salah satu penyebab utama disabilitas pada lansia.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa aktivitas yang menuntut berpikir aktif, pemecahan masalah, dan pembelajaran berkelanjutan dapat membantu membangun cognitive reserve. Cadangan kognitif ini diyakini berperan penting dalam memperlambat penurunan fungsi otak. Maka, memilih membaca buku ketimbang menonton televisi bukan sekadar soal selera, itu bisa menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan otak.

Referensi

"Not all sitting is the same when it comes to brain health." The University of Queensland. Diakses Januari 2026.

Jiatong Chen et al., “Individual Sedentary Activities and Cognitive Function in Middle-aged and Older Adults: A Systematic Review,” Journal of Alzheimer S Disease, December 22, 2025, 13872877251394751, https://doi.org/10.1177/13872877251394751.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Ramai soal Susu UHT di MBG, Ini Fakta Gizi Susu Rekombinasi

23 Jan 2026, 19:13 WIBHealth