Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Saja Manfaat Puasa pada Pasien Kanker?

Apa Saja Manfaat Puasa pada Pasien Kanker?
ilustrasi manfaat puasa untuk pasien kanker (freepik.com/Queenmoonlite Studio)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Menurut penelitian, puasa dapat memengaruhi metabolisme sel kanker dan respons terhadap terapi.

  • Puasa jangka pendek atau pembatasan kalori sedang diteliti sebagai strategi pendukung dalam pengobatan kanker.

  • Praktik puasa pada pasien kanker harus dilakukan dengan pengawasan medis karena kebutuhan nutrisi tetap sangat penting.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan mulai meneliti dampak puasa terhadap kesehatan, termasuk kemungkinan perannya dalam pengobatan kanker. Minat terhadap topik ini muncul karena puasa dapat memengaruhi metabolisme tubuh, hormon, serta proses biologis yang berkaitan dengan pertumbuhan sel.

Beberapa penelitian awal menunjukkan perubahan metabolisme selama puasa mungkin membuat sel kanker lebih rentan terhadap terapi tertentu. Namun, penting dipahami bahwa puasa bukanlah pengobatan kanker. Para peneliti menekankan bahwa puasa hanya sedang diteliti sebagai pendekatan tambahan yang mungkin mendukung terapi medis seperti kemoterapi atau radioterapi.

Berikut ini potensi manfaat puasa bagi pasien kanker.

Table of Content

1. Puasa dapat memengaruhi metabolisme sel kanker

1. Puasa dapat memengaruhi metabolisme sel kanker

Salah satu alasan puasa menarik perhatian para peneliti adalah kemampuannya mengubah cara tubuh menggunakan energi.

Saat berpuasa, tubuh beralih dari menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama menjadi menggunakan cadangan lemak. Proses ini memicu perubahan metabolik yang dapat memengaruhi pertumbuhan sel.

Penelitian menunjukkan bahwa pembatasan kalori atau puasa dapat mengurangi kadar hormon pertumbuhan seperti insulin-like growth factor 1 (IGF-1) yang berperan dalam proliferasi sel. Penurunan hormon ini diduga dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker dalam kondisi tertentu.

Perubahan metabolisme ini juga dapat meningkatkan ketahanan sel normal terhadap stres metabolik.

2. Puasa mungkin meningkatkan respons terhadap kemoterapi

Ilustrasi pasien kanker.
ilustrasi pasien kanker (pexels.com/Thirdman)

Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa puasa jangka pendek dapat memengaruhi respons tubuh terhadap kemoterapi.

Studi menemukan bahwa puasa selama periode tertentu sebelum kemoterapi dapat meningkatkan perlindungan sel sehat terhadap efek toksik obat, sekaligus membuat sel kanker lebih sensitif terhadap terapi.

Fenomena ini dikenal sebagai differential stress resistance, yaitu kondisi ketika sel normal menjadi lebih tahan terhadap stres, sementara sel kanker justru menjadi lebih rentan.

Mekanisme ini masih terus diteliti untuk memastikan apakah manfaat yang sama terjadi secara konsisten pada pasien manusia.

3. Puasa dapat memengaruhi proses peradangan dan sistem imun

Selain memengaruhi metabolisme, puasa juga dapat memengaruhi sistem imun dan peradangan dalam tubuh.

Studi menemukan, pembatasan kalori dapat memicu proses biologis seperti autofagi, yaitu mekanisme pembersihan sel yang membantu tubuh menghilangkan komponen sel yang rusak.

Autofagi berperan penting dalam menjaga kesehatan sel dan dapat memengaruhi perkembangan berbagai penyakit, termasuk kanker.

Selain itu, puasa dapat membantu menurunkan peradangan kronis, yang sering dikaitkan dengan perkembangan tumor.

4. Potensi manfaat ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut

Ilustrasi pasien kanker.
ilustrasi pasien kanker (pexels.com/Ivan Samkov)

Walaupun hasil penelitian awal terlihat menjanjikan, tetapi para ahli menekankan bahwa manfaat puasa pada kanker masih berada dalam tahap penelitian.

Sebagian besar studi yang menunjukkan manfaat puasa dilakukan pada model hewan atau uji klinis berskala kecil. Artinya, masih diperlukan penelitian yang lebih besar dan lebih panjang untuk memastikan efektivitas serta keamanannya pada pasien kanker.

Selain itu, banyak pasien kanker mengalami kondisi seperti penurunan berat badan atau kekurangan nutrisi. Dalam situasi tersebut, puasa justru dapat memperburuk kondisi kesehatan.

Karena itu, puasa tidak boleh dilakukan sebagai terapi kanker tanpa pengawasan medis.

Puasa telah menarik perhatian dunia medis karena kemampuannya memengaruhi metabolisme tubuh, hormon, dan proses biologis yang berkaitan dengan pertumbuhan sel.

Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa puasa jangka pendek mungkin membantu meningkatkan respons terhadap terapi kanker atau melindungi sel sehat dari efek samping pengobatan. Namun, puasa bukanlah pengobatan kanker. Bukti ilmiah yang ada masih terus berkembang, dan praktik ini harus dipertimbangkan secara hati-hati.

Bagi pasien kanker, keputusan untuk berpuasa sebaiknya selalu didiskusikan dengan dokter. Dengan pengawasan medis yang tepat, pasien dapat memastikan bahwa kebutuhan nutrisi dan kesehatan tetap terjaga selama menjalani pengobatan.

Referensi

Valter D. Longo and Mark P. Mattson, “Fasting: Molecular Mechanisms and Clinical Applications,” Cell Metabolism 19, no. 2 (January 16, 2014): 181–92, https://doi.org/10.1016/j.cmet.2013.12.008.

Safdie, Fernando M., Tanya Dorff, David Quinn, Luigi Fontana, Min Wei, Changhan Lee, Pinchas Cohen, and Valter D. Longo. “Fasting and Cancer Treatment in Humans: A Case Series Report.” Aging 1, no. 12 (December 31, 2009): 988–1007. https://doi.org/10.18632/aging.100114.

Federico Pietrocola et al., “Caloric Restriction Mimetics Enhance Anticancer Immunosurveillance,” Cancer Cell 30, no. 1 (July 1, 2016): 147–60, https://doi.org/10.1016/j.ccell.2016.05.016.

National Cancer Institute. “Fasting and Cancer Research.” Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More