Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Bahaya Jika Orang Tua Merokok Dekat Anak, Ancamannya Nyata

7 Bahaya Jika Orang Tua Merokok Dekat Anak, Ancamannya Nyata
ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Ron Lach)
Intinya Sih

  • Paparan asap rokok pada anak meningkatkan risiko infeksi pernapasan, asma, dan SIDS karena sistem pernapasan mereka masih berkembang dan lebih rentan terhadap zat beracun.
  • Asap rokok menghambat pertumbuhan paru-paru, memicu infeksi telinga, serta menurunkan fungsi kognitif anak akibat gangguan perkembangan otak oleh nikotin dan bahan kimia toksik.
  • Residu thirdhand smoke tetap berbahaya meski rokok sudah padam, menempel di pakaian dan permukaan rumah, sehingga anak tetap terpapar racun yang bisa berdampak jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Di banyak rumah, rokok masih menjadi bagian dari keseharian. Kadang dinyalakan di teras, ruang tamu, bahkan di dekat anak-anak.

Niatnya mungkin cuma merokok sebentar, menganggap asapnya tidak langsung mengenai anak. Akan tetapi, tubuh anak tidak butuh paparan besar untuk terdampak. Bahkan paparan kecil, tetapi berulang, bisa meninggalkan jejak yang tidak terlihat dalam jangka pendek, tetapi signifikan dalam jangka panjang.

Perlu diingat bahwa sistem pernapasan anak masih berkembang, frekuensi napas lebih cepat, dan kemampuan detoksifikasi tubuh belum seoptimal orang dewasa. Itu sebabnya, ketika orang tua merokok di dekat anak, risikonya bukan cuma bau asap rokok, melainkan paparan zat berbahaya yang dapat memengaruhi organ vital, mulai dari paru-paru hingga otak.

Jangan biarkan anak terpapar rokok dan asapnya, ketahui berbagai risiko bahaya orang tua yang merokok dekat anak.

Table of Content

1. Infeksi saluran pernapasan meningkat (ISPA, pneumonia, bronkitis)

1. Infeksi saluran pernapasan meningkat (ISPA, pneumonia, bronkitis)

Paparan asap rokok meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan pada anak secara signifikan. Zat beracun seperti formaldehida, benzena, dan partikel halus (PM2.5) merusak lapisan pelindung saluran napas, membuat tubuh lebih rentan terhadap virus dan bakteri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa anak yang terpapar asap rokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia dan bronkitis.

Secara biologis, asap rokok melemahkan fungsi silia, yaitu struktur kecil di saluran napas yang bertugas menyapu partikel asing. Ketika silia terganggu, patogen lebih mudah masuk dan berkembang. Studi menunjukkan hubungan kuat antara paparan asap rokok pasif dengan peningkatan rawat inap akibat infeksi pernapasan pada anak.

Dalam jangka panjang, infeksi berulang bisa membuat anak mengalami gangguan pertumbuhan paru-paru dan fungsi pernapasan yang tidak optimal hingga dewasa.

2. Memicu dan memperparah asma

Seorang anak duduk di sofa menggunakan masker nebulizer sambil ditemani seorang wanita di ruang tamu yang remang dengan cahaya alami.
ilustrasi asma pada anak (pexels.com/cottonbro studio)

Asap rokok adalah salah satu pemicu utama asma pada anak. Paparan kronis menyebabkan peradangan saluran napas, meningkatkan sensitivitas terhadap alergen seperti debu dan polusi. Asap rokok yang dihirup orang di sekitar perokok (secondhand smoke) dapat memicu serangan asma yang lebih sering dan lebih berat.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang terpapar asap rokok memiliki fungsi paru yang lebih rendah dan risiko eksaserbasi asma (perburukan tiba‑tiba gejala asma) yang lebih tinggi. Bahkan, pada anak tanpa riwayat asma, paparan ini bisa menjadi faktor pencetus munculnya penyakit tersebut.

Yang sering tidak disadari, serangan asma tidak selalu langsung terjadi setelah paparan. Efek inflamasi bisa berlangsung lama, sehingga anak tetap berisiko meskipun asap sudah tidak terlihat.

3. Risiko sudden infant death syndrome (SIDS)

Pada bayi, paparan asap rokok sangat terkait dengan peningkatan risiko sudden infant death syndrome (SIDS), yaitu kematian mendadak tanpa penyebab jelas saat tidur. Paparan asap rokok, baik selama kehamilan maupun setelah lahir, merupakan faktor risiko SIDS.

Mekanismenya melibatkan gangguan pada sistem saraf pusat yang mengatur pernapasan dan respons terhadap kekurangan oksigen. Nikotin dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, terutama bagian yang mengontrol fungsi vital.

Risiko ini meningkat jika bayi tinggal di lingkungan dengan perokok aktif, bahkan jika merokok dilakukan di ruangan terpisah. Partikel asap dapat bertahan di udara dan permukaan, sehingga bayi tetap terpapar.

4. Gangguan perkembangan paru-paru

ilustrasi anak-anak sedang belajar (pixabay.com/12019)
ilustrasi anak-anak sedang belajar (pixabay.com/12019)

Paru-paru anak berkembang hingga usia remaja. Paparan asap rokok selama masa ini dapat menghambat pertumbuhan paru secara optimal. Anak yang terpapar memiliki kapasitas paru lebih rendah dibandingkan yang tidak terpapar, menurut WHO.

Studi menunjukkan bahwa paparan asap rokok berhubungan dengan penurunan fungsi paru jangka panjang. Ini berarti dampaknya tidak hanya sementara, tetapi bisa menetap hingga dewasa. Akibatnya, anak lebih mudah lelah saat aktivitas fisik, lebih rentan terhadap penyakit pernapasan, dan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dalam jangka panjang.

5. Infeksi telinga (otitis media)

Anak yang terpapar asap rokok lebih sering mengalami infeksi telinga tengah. Hal ini terjadi karena asap rokok memengaruhi fungsi saluran eustachius, yang menghubungkan telinga tengah dengan tenggorokan.

Paparan secondhand smoke meningkatkan risiko otitis media dan kebutuhan tindakan medis seperti pemasangan tabung telinga.

Infeksi telinga yang berulang dapat menyebabkan gangguan pendengaran sementara atau permanen, yang pada akhirnya memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan belajar anak.

6. Dampak pada perkembangan otak dan kognitif

Seorang ayah mengenakan piyama bergaris merah putih sedang membacakan buku kepada anak perempuannya di dalam tenda selimut.
ilustrasi ayah membacakan buku kepada anak perempuannya (pexels.com/RDNE Stock project)

Paparan nikotin dan zat toksik lain dalam asap rokok dapat memengaruhi perkembangan otak anak. Menurut penelitian, anak yang terpapar memiliki skor kognitif lebih rendah dan peningkatan risiko gangguan perilaku.

Nikotin dapat mengganggu pembentukan sinapsis dan neurotransmiter di otak yang sedang berkembang. Ini berdampak pada kemampuan belajar, memori, dan regulasi emosi.

Efek ini sering kali tidak langsung terlihat, tetapi muncul dalam bentuk kesulitan konsentrasi, performa akademik yang menurun, atau masalah perilaku.

7. Thirdhand smoke: residu beracun yang menetap

Bahaya tidak berhenti saat rokok dipadamkan. Partikel beracun menempel pada pakaian, rambut, furnitur, dan permukaan lainnya, dikenal sebagai thirdhand smoke.

Penelitian menunjukkan bahwa residu ini dapat bereaksi dengan zat lain di udara dan membentuk senyawa karsinogenik baru. Anak, terutama balita, lebih rentan karena sering menyentuh permukaan lalu memasukkan tangannya ke mulut.

Artinya, merokok di luar rumah sekalipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko jika residu masih terbawa masuk ke lingkungan anak.

Paparan asap rokok pada anak bukan hanya masalah jangka pendek seperti batuk atau iritasi. Dampaknya mencakup berbagai sistem tubuh—paru-paru, otak, hingga sistem imun—dengan konsekuensi yang bisa berlangsung seumur hidup.

Menghindarkan anak dari asap rokok bukan sekadar pilihan gaya hidup, tetapi langkah perlindungan kesehatan yang mendasar. Lingkungan bebas asap rokok adalah salah satu intervensi paling efektif untuk memastikan anak tumbuh dengan optimal—baik secara fisik maupun kognitif.

Referensi

World Health Organization. “Tobacco and Its Environmental Impact.” https://www.who.int/publications/i/item/9789241512497

Laura L Jones et al., “Parental and Household Smoking and the Increased Risk of Bronchitis, Bronchiolitis and Other Lower Respiratory Infections in Infancy: Systematic Review and Meta-analysis,” Respiratory Research 12, no. 1 (January 19, 2011): 5, https://doi.org/10.1186/1465-9921-12-5.

Centers for Disease Control and Prevention. “Health Effects of Secondhand Smoke.” https://www.cdc.gov/tobacco/secondhand-smoke/health.html

Zhen Wang et al., “Effects of Secondhand Smoke Exposure on Asthma Morbidity and Health Care Utilization in Children: A Systematic Review and Meta-analysis,” Annals of Allergy Asthma & Immunology 115, no. 5 (September 26, 2015): 396-401.e2, https://doi.org/10.1016/j.anai.2015.08.005.

Rachel Y. Moon, Rebecca F. Carlin, and Ivan Hand, “Sleep-Related Infant Deaths: Updated 2022 Recommendations for Reducing Infant Deaths in the Sleep Environment,” PEDIATRICS 150, no. 1 (June 21, 2022), https://doi.org/10.1542/peds.2022-057990.

Ira B. Tager et al., “Longitudinal Study of the Effects of Maternal Smoking on Pulmonary Function in Children,” New England Journal of Medicine 309, no. 12 (September 22, 1983): 699–703, https://doi.org/10.1056/nejm198309223091204.

Kimberly Yolton et al., “Exposure to Environmental Tobacco Smoke and Cognitive Abilities Among U.S. Children and Adolescents,” Environmental Health Perspectives 113, no. 1 (October 7, 2004): 98–103, https://doi.org/10.1289/ehp.7210.

Mohamad Sleiman et al., “Formation of Carcinogens Indoors by Surface-mediated Reactions of Nicotine With Nitrous Acid, Leading to Potential Thirdhand Smoke Hazards,” Proceedings of the National Academy of Sciences 107, no. 15 (February 8, 2010): 6576–81, https://doi.org/10.1073/pnas.0912820107.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Eka Amira Yasien
3+
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More