Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Nafsu Makan Naik setelah Berhenti Merokok, Kapan Kembali Normal?

Nafsu Makan Naik setelah Berhenti Merokok, Kapan Kembali Normal?
ilustrasi pria makan, nafsu makannya naik setelah berhenti merokok (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Nikotin menekan nafsu makan dan memengaruhi metabolisme; saat berhenti, efek ini hilang sehingga rasa lapar meningkat.

  • Kenaikan nafsu makan biasanya bersifat sementara, umumnya membaik dalam beberapa minggu hingga bulan.

  • Strategi pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen kebiasaan sangat membantu mengontrol berat badan tanpa mengganggu proses berhenti merokok.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Berhenti merokok adalah sebuah keputusan penting yang membawa banyak perubahan, baik yang terasa maupun yang diam-diam bekerja di dalam tubuh. Salah satu perubahan yang paling cepat disadari adalah rasa lapar yang datang lebih sering, bahkan pada orang yang sebelumnya merasa biasa saja dengan makanan.

Di satu sisi, ini bisa terasa mengganggu. Di sisi lain, ini justru menandakan tubuh sedang menyesuaikan diri dengan kondisi yang lebih sehat. Pertanyaannya, kenapa hal ini terjadi, dan kapan nafsu makan akan kembali seperti semula setelah berhenti merokok?

Table of Content

Kenapa nafsu makan meningkat setelah berhenti merokok?

Kenapa nafsu makan meningkat setelah berhenti merokok?

Nikotin, zat adiktif utama dalam rokok, memiliki efek langsung pada sistem saraf pusat. Zat ini bekerja menekan nafsu makan melalui pengaruhnya terhadap hipotalamus, bagian otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Selain itu, nikotin juga meningkatkan laju metabolisme basal, sehingga tubuh membakar kalori lebih cepat.

Ketika kamu berhenti merokok, dua hal terjadi sekaligus: sinyal lapar tidak lagi ditekan, dan metabolisme sedikit melambat. Kombinasi ini membuat tubuh merasa lebih lapar dibanding sebelumnya. Studi menunjukkan bahwa penghentian nikotin berkaitan dengan peningkatan asupan energi dan perubahan regulasi berat badan.

Ada juga faktor perilaku yang tak kalah penting. Banyak perokok memiliki kebiasaan oral. Misalnya, tangan dan mulut sibuk dengan rokok. Saat kebiasaan ini hilang, makanan sering menjadi pengganti yang paling mudah diakses. Jadi, ini bukan cuma lapar fisik, tetapi juga respons psikologis terhadap perubahan rutinitas.

Berapa lama nafsu makan akan meningkat?

Ilustrasi seorang laki-laki menikmati makanan.
ilustrasi menikmati makanan (pexels.com/RDNE Stock project)

Kabar baiknya, peningkatan nafsu makan ini tidak berlangsung selamanya.

Lonjakan rasa lapar biasanya paling terasa dalam beberapa minggu pertama setelah berhenti merokok. Pada periode ini, tubuh masih beradaptasi terhadap ketiadaan nikotin.

Sebagian besar orang mulai melihat pola makan yang lebih stabil dalam waktu 4–8 minggu. Namun, pada beberapa kasus, penyesuaian bisa berlangsung hingga tiga bulan atau lebih, tergantung pada faktor seperti lama merokok, tingkat ketergantungan nikotin, serta pola hidup individu.

Yang juga perlu dipahami, kenaikan berat badan ringan (sekitar 2–5 kg) cukup umum dalam beberapa bulan pertama. Meski demikian, penelitian menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari berhenti merokok jauh lebih besar dibandingkan risiko kenaikan berat badan tersebut.

Apa yang terjadi pada tubuh selama proses ini?

Setelah berhenti merokok, tubuh mulai memperbaiki berbagai fungsi biologis. Sensitivitas terhadap rasa dan aroma meningkat, sehingga makanan terasa lebih nikmat. Ini secara tidak langsung dapat meningkatkan keinginan untuk makan.

Selain itu, hormon yang mengatur rasa lapar, seperti grelin dan leptin, juga mengalami perubahan. Studi menunjukkan bahwa penghentian nikotin dapat memengaruhi keseimbangan hormon ini, sehingga meningkatkan rasa lapar, terutama pada fase awal.

Tubuh juga berusaha menyeimbangkan kembali sistem reward di otak. Nikotin sebelumnya memberikan “hadiah instan” berupa pelepasan dopamin. Tanpanya, otak cenderung mencari sumber lain, termasuk makanan, terutama yang tinggi gula dan lemak.

Cara mengelola nafsu makan tanpa mengganggu proses berhenti merokok

Ilustrasi seorang pria makan burger.
ilustrasi pria makan burger (unsplash.com/Fares Hamouche)

Merasa lebih lapar dari biasanya bukan berarti kamu harus menyerah pada keinginan makan berlebihan. Pendekatan yang tepat justru bisa membantu menjaga keseimbangan.

  • Pertama, fokus pada kualitas makanan. Pilih makanan tinggi serat dan protein seperti sayur, buah, kacang-kacangan, dan sumber protein tanpa lemak. Jenis makanan ini memberikan rasa kenyang lebih lama tanpa meningkatkan asupan kalori secara drastis.
  • Kedua, tetap aktif secara fisik. Aktivitas seperti berjalan kaki, lari ringan, atau latihan kekuatan tidak hanya membantu mengontrol berat badan, tetapi juga mengurangi keinginan merokok.
  • Ketiga, kenali perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional. Jika keinginan makan muncul tiba-tiba dan spesifik (misalnya ingin makanan manis), bisa jadi itu respons terhadap kebiasaan lama, bukan kebutuhan energi tubuh.

Peningkatan nafsu makan setelah berhenti merokok adalah respons biologis yang normal. Tubuh sedang beradaptasi dari kondisi yang sebelumnya dipengaruhi nikotin menuju ke kondisi yang lebih sehat. Rasa lapar yang meningkat biasanya paling terasa di awal dan akan berangsur membaik dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan.

Yang terpenting, fase ini bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses pemulihan. Dengan strategi yang tepat, kenaikan nafsu makan dapat dikelola tanpa mengorbankan tujuan utama, yaitu hidup tanpa rokok dan dengan kesehatan yang lebih baik.

Referensi

Young‐Hwan Jo, David A. Talmage, and Lorna W. Role, “Nicotinic Receptor‐mediated Effects on Appetite and Food Intake,” Journal of Neurobiology 53, no. 4 (November 15, 2002): 618–32, https://doi.org/10.1002/neu.10147.

J Audrain-McGovern and N L Benowitz, “Cigarette Smoking, Nicotine, and Body Weight,” Clinical Pharmacology & Therapeutics 90, no. 1 (June 1, 2011): 164–68, https://doi.org/10.1038/clpt.2011.105.

J Audrain-McGovern and N L Benowitz, “Cigarette Smoking, Nicotine, and Body Weight,” Clinical Pharmacology & Therapeutics 90, no. 1 (June 1, 2011): 164–68, https://doi.org/10.1038/clpt.2011.105.

"Smoking Cessation: A Report of the Surgeon General." U.S. Department of Health and Human Services. Atlanta: CDC, 2020. Diakses April 2026.

“Managing Weight Gain After Quitting Smoking.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses April 2026.

“Weight Gain After Smoking Cessation." National Institutes of Health (NIH). Diakses April 2026.

F. Pistelli, F. Aquilini, and L. Carrozzi, “Weight Gain After Smoking Cessation,” Monaldi Archives for Chest Disease 71, no. 2 (January 22, 2016): 81–87, https://doi.org/10.4081/monaldi.2009.367.

Allessandra Da Ré et al., “Tobacco Influence on Taste and Smell: Systematic Review of the Literature,” International Archives of Otorhinolaryngology 22, no. 01 (February 13, 2017): 081–087, https://doi.org/10.1055/s-0036-1597921.

“The Nutrition Source: Protein.” Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses April 2026.

“Physical Activity and Health.” World Health Organization. Diakses April 2026.

Share
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More