Comscore Tracker

Balantidiasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Gangguan pencernaan langka namun akut dan menular

Ada banyak gangguan yang dapat terjadi pada sistem pencernaan, salah satunya adalah balantidiasis atau balantidiosis. Ini merupakan infeksi langka pada usus akibat infeksi Balantidium coli, parasit bersel tunggal yang sering menginfeksi babi.

Balantidium coli dapat ditemukan di seluruh dunia, tetapi paling banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis serta negara berkembang.

Meskipun angka kejadiannya cukup jarang, tetapi balantidiasis harus diwaspadai. Untuk memahami lebih dalam mengenai kondisi ini, simak informasinya di bawah ini yang telah dirangkum dari laman National Organization for Rare Disorders dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

1. Gejala

Balantidiasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi sakit perut (pexels.com/cottonbro)

Mayoritas individu dengan balantidiasis tidak menunjukkan gejala atau kalaupun ada gejalanya ringan. Sementara itu, beberapa orang lainnya mungkin mengalami sakit akut dengan gejala berupa temperatur tinggi yang tidak normal, mual, muntah, sakit perut, dan diare berdarah.

Gejala-gejala tersebut dapat menyebabkan dehidrasi dan kelelahan yang ekstrem, terutama jika B. coli menyerang lapisan usus yang menyebabkan peradangan dan ulserasi.

Dalam kasus yang sangat parah, ulkus atau luka mungkin cukup dalam hingga membuat dinding usus berlubang, yang dapat mengakibatkan peradangan akut pada peritoneum, selaput yang melapisi perut. Kadang-kadang, ulkus dapat mengurangi fungsi paru-paru.

2. Penyebab

Balantidiasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi babi (pexels.com/Matthias Zomer)

Balantidiasis adalah penyakit menular dan langka yang disebabkan oleh protozoa B. coli. Parasit protozoa tersebut dapat ditularkan ke manusia secara langsung melalui kontak dengan kotoran hewan. Hewan pembawa B. coli yang utama adalah babi, sehingga infeksi manusia lebih sering terjadi di daerah yang terdapat babi, terutama jika tidak mempraktikkan kebersihan yang baik. 

Selain itu, manusia juga dapat terinfeksi secara tidak langsung lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi. Infeksi dapat terjadi dalam beberapa cara, seperti:

  • Makan daging, buah-buahan, dan sayuran yang telah terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi atau kotoran hewan yang terinfeksi.
  • Minum dan mencuci makanan dengan air yang terkontaminasi.
  • Memiliki kebiasaan kebersihan yang buruk.

Baca Juga: Piebaldisme: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

3. Diagnosis

Balantidiasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi diagnosis balantidiasis di laboratorium (pixabay.com/ernestoeslava)

Balantidiasis biasanya didiagnosis dengan pemeriksaan tinja yang dilakukan di laboratorium. Parasit protozoa B. coli yang belum matang atau trofozoit biasanya dapat diperoleh dari tinja. Dalam pemeriksaan ini, sampel tinja harus dikumpulkan dan diperiksa segera untuk membuat diagnosis yang tepat.

Diagnosis trofozoit juga dapat dideteksi dalam jaringan. Untuk mengumpulkan spesimen jaringan dari usus besar, prosedur sigmoidoskopi biasanya digunakan. Pemeriksaan ini melibatkan penggunaan instrumen tipis berongga yang disebut sigmoidoskop untuk memeriksa secara visual bagian terakhir dari usus besar, yaitu rektum dan kolon sigmoid. Lewat cara ini, dokter dapat mencari perdarahan, luka, dan peradangan untuk mendiagnosis penyebab diare dan keluhan lainnya, dan dapat mengambil biopsi jaringan untuk diperiksa.

4. Pengobatan

Balantidiasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi antibiotik (pexels.com/Pixabay)

Balantidiasis biasanya dirawat dengan menggunakan antibiotik. Obat antibiotik yang paling sering digunakan untuk mengobati balantidiasis adalah tetrasiklin. Apabila pasien tidak dapat diberikan tetrasiklin, misalnya karena alergi, pasien mungkin akan diberi obat pengganti seperti iodoquinol atau metronidazol.

Dalam pengobatannya, pasien balantidiasis tidak perlu diisolasi. Namun, pasien harus benar-benar dijaga agar kotorannya tidak bersentuhan dengan air minum atau persediaan makanan.

5. Pencegahan

Balantidiasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi mencuci tangan (pexels.com/Burst)

Tidak ada vaksin untuk mencegah infeksi balantidiasis dan seseorang yang pernah terkena bisa mengalami infeksi ulang.

Infeksi B. coli dapat dicegah dengan mengikuti praktik kebersihan yang baik. Cuci tangan dengan sabun dan air setelah menggunakan toilet, mengganti popok, sebelum memegang makanan, atau kapan saja saat merasa tangan kotor.

Meningkatkan kebersihan serta sanitasi juga dapat mencegah penyebaran penyakit, karena penularan terjadi melalui konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi. Jadi, pemurnian air minum sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, penanganan dan pengolahan makanan dengan tepat juga dapat membantu mencegah infeksi.

6. Kondisi terkait

Balantidiasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi sakit perut (freepik.com/diana.grytsku)

Ada beberapa gangguan kesehatan yang sering disalahartikan sebagai balantidiasis karena memiliki gejala yang mirip. Berikut ini beberapa di antaranya:

  • Kolitis ulseratif: penyakit radang usus akut yang ditandai dengan diare dan darah dalam tinja karena ulserasi usus. Gejala awal gangguan berupa kelemahan dan kelelahan. Orang dengan masalah ini juga mungkin mengalami ketidaknyamanan perut dan perubahan frekuensi serta konsistensi tinja.

  • Penyakit Crohn: penyakit radang usus yang ditandai dengan peradangan kronis yang parah pada dinding usus dan bagian lain dari saluran pencernaan. Gejala penyakit Crohn termasuk mual, muntah, demam, keringat malam, kehilangan nafsu makan, perasaan lemah secara umum, diare, dan pendarahan dubur.

  • Sindrom iritasi usus besar: gangguan pencernaan yang terjadi di usus kecil dan usus besar. Gangguan ini ditandai dengan sakit perut, sembelit, kembung, mual, sakit kepala, dan diare.

  • Gastritis erosif kronis: gangguan inflamasi yang ditandai dengan lesi multipel pada lapisan mukosa lambung. Gejalanya meliputi rasa terbakar atau berat di perut, mual ringan, muntah, kehilangan nafsu makan dan kelemahan umum.

Meskipun langka, tetapi infeksi balantidiasis cukup kronis sehingga tidak boleh disepelekan. Jadi, jangan lupa praktikkan sanitasi yang baik dan bila perlu lakukan pemeriksaan tinja secara teratur untuk mendeteksi segala jenis gangguan pada sistem pencernaan.

Baca Juga: 5 Gangguan Pencernaan yang Menyebabkan Berat Badan Meningkat Drastis

Topic:

  • Nurulia
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya