Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
El Niño 2026 Berpotensi Picu Lonjakan Kasus DBD di Indonesia, Kenapa?
Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A (K), Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (IDN Times/Misrohatun)
  • Peluang terbentuknya El Niño 2026 mencapai lebih dari 80 persen dan diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun, dengan intensitas sedang hingga kuat yang memengaruhi suhu serta curah hujan di Indonesia.
  • Kenaikan suhu akibat El Niño mempercepat siklus hidup nyamuk aedes aegypti, membuat frekuensi menghisap darah meningkat dari lima hari menjadi dua hari sehingga risiko penularan DBD makin tinggi.
  • Kebiasaan masyarakat menampung air saat kemarau turut memperluas tempat berkembang biak nyamuk pembawa virus DBD, meningkatkan potensi wabah di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Urgensi pencegahan demam berdarah dengue (DBD) makin meningkat seiring dampak perubahan iklim yang kian nyata. Peluang terbentuknya El Niño mencapai 80 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026, dan berpotensi berlanjut dengan probabilitas di atas 90 persen sampai akhir tahun. 

Sebagian besar model prakiraan iklim memperkirakan El Niño kali ini akan mencapai intensitas sedang hingga kuat. Kondisi ini diperkirakan memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, berpotensi memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga meningkatkan risiko penyebaran DBD secara lebih luas dan potensi wabah yang berkepanjangan.

Nyamuk mudah berkembang biak

El Niño adalah fenomena anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur dan tengah yang menjadi lebih panas dari rata-rata normalnya. Fenomena iklim ini akan membuat suhu air laut meningkat akibat adanya pemanasan temperatur bumi

"Setiap kenaikan suhu bumi, itu akan memberikan kemudahan bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak," ujar Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A (K), Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam konferensi pers "ABCD Land—Ayo Bersama Cegah DBD!" di Jakarta, Jumat (19/06/2026).

Akibat dari fenomena perubahan iklim ini adalah angka kejadian DBD di dunia meningkat, termasuk Indonesia, sehingga harus diwaspadai. Hal ini didukung dengan penelitian di Amerika Selatan, Asia Selatan, serta Asia Tenggara. Kejadian luar biasa (KLB) DBD akan terjadi akibat El Niño.

Kenapa kasusnya meningkat?

ilustrasi nyamuk demam berdarah Aedes aegypti (pixabay.com/MikuAalto)

Mengapa peningkatan suhu berpengaruh terhadap kemampuan nyamuk berkembang biak?

Nyamuk Aedes aegypti betina menjadi sebuah vektor yang mengeluarkan DBD dalam menghisap darah.

Pada suhu normal (sekitar 28 derajat Celcius), nyamuk akan mengisap darah setiap lima hari. Namun, karena suhu yang meningkat, jangka waktunya jadi lebih pendek, bisa sekitar setiap dua hari.

"Jadi setiap dua hari, probabilitasnya lebih sering mengisapnya dibanding yang lima hari. Otomatis akan meningkatkan risiko kasus DBD," jelas dr. Budi Setiawan, M.Epid, Kepala Seksi (Kasi) Surveilans, Epidemiologi, Dinas Kesehatan Provinsi DKI.

Kebiasaan menampung air

El Niño yang meningkatkan suhu bumi akan mempermudah nyamuk pembawa virus DBD untuk berkembang biak.

"Nyamuk semakin banyak. Yang tadinya di negara itu tidak ada kasus demam berdarah, jadi ada dan makin luas daerah tropis karena peningkatan suhu Bumi. Merupakan salah satu dampak perubahan iklim ke penyakit," Prof. Hartono menjelaskan.

Hal ini juga berhubungan dengan kebiasaan menampung air di mana masyarakat cenderung melakukannya di tengah cuaca kemarau untuk mengantisipasi kelangkaan sumber daya air. Perilaku ini tentu mendukung akses perkembangbiakkan nyamuk.

Editorial Team

Related Article