Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Berbahaya?

Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Berbahaya?
ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)
Intinya Sih
  • Perubahan iklim tidak membuat nyamuk penyebab DBD menjadi lebih ganas, melainkan menciptakan kondisi yang membuat nyamuk berkembang biak lebih cepat, hidup lebih lama, dan menyebarkan virus dengue lebih efisien.

  • Kenaikan suhu, perubahan pola hujan, banjir, serta cuaca ekstrem dapat memperluas wilayah penyebaran nyamuk Aedes aegypti dan meningkatkan risiko wabah DBD.

  • Organisasi kesehatan dunia dan berbagai penelitian memperkirakan perubahan iklim akan menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar beban penyakit yang ditularkan nyamuk dalam beberapa dekade mendatang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Demam berdarah dengue (DBD) bukan lagi penyakit yang muncul pada musim tertentu. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara melaporkan peningkatan kasus, termasuk wilayah yang sebelumnya tidak dikenal sebagai daerah endemik dengue. Apakah penyebabnya karena perubahan iklim membuat nyamuk penyebab DBD menjadi lebih ganas?

Sebetulnya perubahan iklim tidak mengubah nyamuk Aedes aegypti menjadi spesies baru yang lebih agresif. Namun, perubahan suhu, curah hujan, dan kelembapan dapat menciptakan kondisi yang membuat nyamuk lebih mudah berkembang biak, lebih sering menggigit manusia, dan lebih efektif menularkan virus dengue.

Table of Content

Hubungan antara perubahan iklim dan DBD

Hubungan antara perubahan iklim dan DBD

DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Siklus hidup nyamuk sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Beda dengan manusia yang mampu mengatur suhu tubuh, nyamuk merupakan organisme berdarah dingin. Suhu udara di sekitarnya memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupannya, mulai dari pertumbuhan, reproduksi, hingga kemampuan menyebarkan virus.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perubahan iklim merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit yang ditularkan vektor, termasuk DBD.

Apakah perubahan iklim membuat nyamuk menjadi lebih ganas?

Tidak ada bukti perubahan iklim membuat nyamuk dengue berevolusi menjadi lebih agresif dalam waktu singkat. Namun, perubahan iklim dapat membuat nyamuk menjadi lebih efektif sebagai penular penyakit.

Bagi masyarakat, dampaknya mungkin terasa seperti nyamuk menjadi lebih berbahaya, meski penyebabnya adalah perubahan kondisi lingkungan.

1. Suhu yang lebih hangat mempercepat siklus hidup nyamuk

Nyamuk Aedes aegypti dengan tubuh hitam dan belang putih sedang hinggap di kulit manusia untuk mengisap darah.
ilustrasi nyamuk aedes aegypti (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Salah satu dampak perubahan iklim adalah kenaikan suhu rata-rata global. Bagi nyamuk, suhu yang lebih hangat dapat mempercepat perkembangan dari telur menjadi larva, pupa, hingga nyamuk dewasa.

Penelitian menunjukkan bahwa suhu memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan nyamuk menularkan virus dengue. Pada rentang suhu tertentu, populasi nyamuk dapat tumbuh lebih cepat sehingga jumlah nyamuk dewasa meningkat.

Makin banyak nyamuk, makin besar pula peluang penularan virus.

2. Virus dengue bereplikasi lebih cepat di dalam tubuh nyamuk

Agar dapat menularkan dengue, virus harus berkembang terlebih dahulu di dalam tubuh nyamuk. Proses ini disebut masa inkubasi ekstrinsik. Pada suhu yang lebih hangat, waktu yang dibutuhkan virus untuk berkembang menjadi lebih singkat. Artinya, nyamuk dapat menjadi infeksius lebih cepat setelah menggigit orang yang terinfeksi dengue.

Menurut sejumlah studi pemodelan iklim dan penyakit menular, fenomena ini dapat meningkatkan efisiensi penularan virus di populasi manusia.

3. Nyamuk bisa hidup di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin

Menurut para ilmuwan, dulunya, suhu yang terlalu rendah membatasi penyebaran Aedes aegypti di beberapa wilayah. Sekarang, meningkatnya suhu global memungkinkan nyamuk bertahan hidup di daerah yang sebelumnya kurang mendukung.

Sebuah penelitian memperkirakan ratusan juta orang tambahan dapat terpapar risiko penyakit yang ditularkan nyamuk pada akhir abad ini akibat perubahan iklim.

4. Curah hujan yang yang berubah membantu perkembangbiakan nyamuk

Jentik nyamuk terlihat di dalam wadah berisi air yang dipegang dengan gagang kayu di area luar ruangan.
ilustrasi jentik nyamuk dalam wadah yang terisi air (pexels.com/Helena Jankovičová Kováčová)

Nyamuk Aedes butuh genangan air untuk berkembang biak. Perubahan pola hujan dapat menciptakan lebih banyak tempat perkembangbiakan melalui:

  • Genangan setelah hujan deras.
  • Banjir.
  • Wadah penampungan air.
  • Sampah yang menampung air hujan.

Di sisi lain, kekeringan juga dapat meningkatkan risiko. Saat pasokan air terbatas, orang sering menyimpan air dalam wadah terbuka yang dapat menjadi tempat ideal bagi nyamuk bertelur.

Karena itu, baik hujan ekstrem maupun kekeringan dapat berkontribusi terhadap peningkatan populasi nyamuk.

5. Musim penularan menjadi lebih panjang

Di banyak wilayah tropis dan subtropis, aktivitas nyamuk biasanya meningkat pada musim tertentu. Namun, perubahan iklim berpotensi memperpanjang periode perkembangbiakan dan aktivitas nyamuk. Akibatnya, musim penularan dengue dapat berlangsung lebih lama dibandingkan sebelumnya.

Itu artinya kamu terpapar risiko DBD dalam jangka waktu yang lebih panjang setiap tahunnya.

Kenapa kasus DBD global terus meningkat?

Perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab. Menurut WHO, peningkatan kasus dengue global juga dipengaruhi oleh:

  • Urbanisasi yang cepat.
  • Pertumbuhan populasi.
  • Mobilitas manusia yang tinggi.
  • Sanitasi yang kurang memadai.
  • Perubahan penggunaan lahan.

Namun, perubahan iklim dianggap sebagai faktor yang memperparah kondisi tersebut. WHO bahkan menyebut dengue sebagai salah satu penyakit sensitif iklim yang paling penting saat ini.

Sebuah studi menyebut perubahan iklim diperkirakan akan terus meningkatkan potensi penyebaran dengue di banyak wilayah dunia, sementara studi lainnya memperkirakan risiko paparan populasi terhadap dengue dapat meningkat secara signifikan seiring kenaikan suhu global.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hubungan antara iklim dan dengue sangat kompleks. Faktor sosial, ekonomi, perilaku manusia, serta sistem kesehatan juga berperan.

Cara mengurangi risiko DBD

Petugas mengenakan pakaian pelindung merah melakukan fogging di area perumahan untuk membasmi nyamuk penyebab demam berdarah.
ilustrasi fogging untuk membasmi nyamuk (pexels.com/Garda Pest Control Indonesia)

Ada banyak langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko DBD, seperti:

  • Menghilangkan tempat perkembangan nyamuk: Langkah ini tetap menjadi strategi paling efektif. Fokus pada menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air hujan.
  • Menggunakan perlindungan pribadi: Misalnya obat antinyamuk, pakaian lengan panjang, dan kelambu jika diperlukan.
  • Memperkuat surveilans dan pengendalian vektor: Para ahli menilai bahwa sistem pemantauan berbasis iklim dapat membantu memprediksi lonjakan kasus sebelum wabah terjadi.
  • Mendukung upaya adaptasi perubahan iklim: Mulai dari perencanaan kota yang lebih baik hingga peningkatan sistem kesehatan masyarakat.

Referensi

Sadie J. Ryan et al., “Global Expansion and Redistribution of Aedes-borne Virus Transmission Risk With Climate Change,” PLoS Neglected Tropical Diseases 13, no. 3 (March 28, 2019): e0007213, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0007213.

Erin A. Mordecai et al., “Detecting the Impact of Temperature on Transmission of Zika, Dengue, and Chikungunya Using Mechanistic Models,” PLoS Neglected Tropical Diseases 11, no. 4 (April 27, 2017): e0005568, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0005568.

Jane P. Messina et al., “The Current and Future Global Distribution and Population at Risk of Dengue,” Nature Microbiology 4, no. 9 (June 10, 2019): 1508–15, https://doi.org/10.1038/s41564-019-0476-8.

Felipe J Colón-González et al., “Projecting the Risk of Mosquito-borne Diseases in a Warmer and More Populated World: A Multi-model, Multi-scenario Intercomparison Modelling Study,” The Lancet Planetary Health 5, no. 7 (July 1, 2021): e404–14, https://doi.org/10.1016/s2542-5196(21)00132-7.

Duane J. Gubler, “Dengue, Urbanization and Globalization: The Unholy Trinity of the 21st Century,” Tropical Medicine and Health 39, no. 4SUPPLEMENT (January 1, 2011): S3–11, https://doi.org/10.2149/tmh.2011-s05.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More