Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan menguap.
ilustrasi menguap (freepik.com/cookie_studio)

Intinya sih...

  • Menguap adalah refleks biologis kompleks, bukan cuma tanda kantuk atau bosan.

  • Fungsi menguap berkaitan dengan otak, emosi, dan regulasi tubuh, termasuk suhu otak dan empati sosial.

  • Frekuensi menguap tertentu bisa menjadi petunjuk kondisi kesehatan, walaupun bukan alat diagnosis tunggal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Hampir semua orang menguap, dari bayi hingga lansia, dari manusia hingga berbagai spesies hewan. Meski sering diasosiasikan dengan rasa kantuk atau kebosanan, tetapi menguap adalah refleks neurobiologis yang kompleks.

Selama bertahun-tahun, para peneliti mencoba menjawab pertanyaan besar kenapa manusia menguap, dan jawabannya tidak tunggal. Berbagai studi menunjukkan bahwa menguap berkaitan dengan fungsi otak, regulasi tubuh, dan bahkan hubungan sosial.

Menariknya, hingga hari ini, belum ada satu teori tunggal yang sepenuhnya menjelaskan fenomena menguap. Namun, bukti ilmiah yang ada memberi petunjuk bahwa menguap merupakan sinyal biologis yang aktif dan ini menarik untuk diketahui.

Yuk, ketahui bersama fakta-fakta unik tentang menguap di bawah ini!

1. Menguap berkaitan dengan pendinginan otak

Salah satu teori paling kuat dalam ilmu saraf menyebutkan bahwa menguap membantu mengatur suhu otak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa menguap meningkatkan aliran darah dan pertukaran udara di area wajah dan sinus, yang dapat membantu menurunkan suhu otak.

Otak manusia sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika suhu otak sedikit meningkat, misalnya akibat kelelahan mental atau stres, fungsi kognitif bisa menurun. Menguap diduga menjadi mekanisme kompensasi alami untuk mengembalikan kondisi optimal otak.

Temuan ini diperkuat oleh observasi bahwa orang lebih jarang menguap ketika suhu lingkungan sangat dingin atau sangat panas, kondisi ketika mekanisme pendinginan alami menjadi kurang efektif.

2. Menguap tidak selalu berkaitan dengan kekurangan oksigen

Dulu, menguap sering dianggap sebagai tanda tubuh kekurangan oksigen. Namun, teori ini telah dibantah oleh berbagai penelitian modern. Studi eksperimental menunjukkan bahwa menghirup udara kaya akan oksigen atau udara dengan kadar karbon dioksida tinggi tidak secara konsisten memengaruhi frekuensi menguap.

Hal ini menunjukkan bahwa menguap bukanlah mekanisme pernapasan darurat. Sebaliknya, menguap lebih berkaitan dengan aktivitas sistem saraf pusat, khususnya area otak yang mengatur kewaspadaan dan transisi antara kondisi sadar.

Dengan kata lain, menguap lebih mencerminkan perubahan keadaan otak daripada kebutuhan respirasi.

3. Menguap bisa menular karena mekanisme empati

ilustrasi perempuan dan laki-laki menguap (freepik.com/cookie_studio)

Salah satu fakta paling menarik tentang menguap adalah sifatnya yang menular. Melihat, mendengar, atau bahkan membaca tentang menguap dapat memicu refleks yang sama pada orang lain. Fenomena ini telah diamati secara luas dalam psikologi dan neurosains sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa menguap menular lebih sering terjadi pada individu dengan tingkat empati yang lebih tinggi. Aktivitas ini melibatkan mirror neuron system, jaringan saraf yang berperan dalam memahami dan meniru tindakan orang lain.

Sebaliknya, penelitian juga menemukan bahwa anak kecil, serta individu dengan gangguan spektrum autisme tertentu, menunjukkan respons menguap menular yang lebih rendah, memperkuat hubungan antara menguap dan fungsi sosial otak.

4. Janin dan bayi juga menguap

Janin dalam kandungan sudah mulai menguap sejak trimester pertama, sebagaimana terlihat melalui ultrasonografi. Ini menunjukkan bahwa menguap adalah refleks bawaan yang dikendalikan oleh sistem saraf pusat sejak dini.

Pada bayi dan anak kecil, menguap diduga berperan dalam perkembangan otak dan regulasi siklus tidur-bangun. Karena sistem saraf mereka masih berkembang, refleks ini mungkin membantu menstabilkan aktivitas neurologis.

Fakta bahwa menguap muncul sebelum pengalaman sosial atau kebiasaan tidur terbentuk memperkuat anggapan bahwa fungsi biologisnya sangat mendasar.

5. Menguap bisa dipicu oleh stres dan kecemasan

Menguap tidak selalu muncul saat tubuh rileks. Dalam beberapa kondisi, stres dan kecemasan justru dapat meningkatkan frekuensi menguap. Peneliti mengaitkan hal ini dengan aktivasi sistem saraf otonom.

Dalam situasi stres, tubuh berusaha mengatur ulang keseimbangan internal. Menguap diduga membantu transisi dari kondisi tegang ke kondisi yang lebih stabil secara fisiologis.

Itulah sebabnya menguap sering muncul sebelum momen penting, seperti berbicara di depan umum atau menghadapi situasi penuh tekanan karena regulasi respons stres, bukan karena mengantuk.

6. Menguap berhubungan dengan transisi kewaspadaan

ilustrasi seorang perempuan saat membaca (pexels.com/George Milton)

Menguap sering muncul saat tubuh berada di antara dua kondisi: dari terjaga ke mengantuk, atau sebaliknya. Penelitian menunjukkan menguap berkaitan dengan perubahan tingkat kewaspadaan dan aktivitas kortikal otak.

Dalam konteks ini, menguap dapat dipandang sebagai “jembatan” fisiologis, membantu otak beradaptasi terhadap perubahan tuntutan kognitif. Misalnya, menguap di pagi hari atau menjelang tidur malam.

Fenomena ini menjelaskan mengapa menguap juga sering muncul saat konsentrasi menurun, bukan cuma saat kurang tidur.

7. Menguap berlebihan bisa menandakan kondisi medis

Menguap yang sangat sering dan tidak wajar dapat menjadi sinyal kondisi medis tertentu. Menguap berlebihan dapat dikaitkan dengan gangguan tidur, efek samping obat, hingga kondisi neurologis langka.

Dalam beberapa kasus, menguap berlebihan dilaporkan sebagai gejala awal gangguan pada saraf vagus atau kondisi kardiovaskular tertentu, meski ini jarang terjadi.

Karena itu, perubahan drastis dalam pola menguap, terutama jika disertai gejala lain, layak untuk dievaluasi oleh dokter.

Menguap menyimpan kompleksitas biologis luar biasa, berkaitan dengan regulasi suhu otak, fungsi neurologis, dinamika emosi, hingga interaksi sosial. Fakta bahwa menguap muncul sejak janin hingga usia lanjut menegaskan bahwa menguap adalah bagian integral dari sistem biologis manusia.

Sudah seharusnya menguap dipahami sebagai bahasa tubuh biologis. Dan, dalam beberapa kasus, menguap bahkan bisa menjadi petunjuk awal tentang kondisi medis tertentu.

Referensi

Andrew C. Gallup and Gordon G. Gallup, “Yawning as a Brain Cooling Mechanism: Nasal Breathing and Forehead Cooling Diminish the Incidence of Contagious Yawning,” Evolutionary Psychology 5, no. 1 (January 1, 2007), https://doi.org/10.1177/147470490700500109.

"Yawning." American Scientist. Diakses Februari 2026.

Omar Tonsi Eldakar et al., “Temperature-Dependent Variation in Self-Reported Contagious Yawning,” Adaptive Human Behavior and Physiology 1, no. 4 (March 4, 2015): 460–66, https://doi.org/10.1007/s40750-015-0024-6.

“Yawning - Excessive." MedlinePlus Medical Encyclopedia,” n.d., https://medlineplus.gov/ency/article/003096.htm.

Atsushi Senju et al., “Absence of Contagious Yawning in Children With Autism Spectrum Disorder,” Biology Letters 3, no. 6 (August 14, 2007): 706–8, https://doi.org/10.1098/rsbl.2007.0337.

Fiorenza Giganti et al., “Yawning Frequency and Distribution in Preterm and Near Term Infants Assessed Throughout 24-h Recordings,” Infant Behavior and Development 30, no. 4 (April 6, 2007): 641–47, https://doi.org/10.1016/j.infbeh.2007.03.005.

"Yawning." Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.

"Excessive Yawning: What Does It Mean and How to Treat It." Sleep Foundation. Diakses Februari 2026.

"Sleep Deprivation." American Academy of Sleep Medicine. Diakses Februari 2026.

Editorial Team