Seorang pasien COVID-19 meletakkan kedua tangan di kepalanya. (ANTARA FOTO/REUTERS/Baz Ratner)
Sekelompok peneliti di China mempelajari bagaimana varian Delta menyebar dari transmisi lokal pertama yang diketahui diidentifikasi pada 21 Mei 2021. Para peneliti menerbitkan temuannya sebagai studi pracetak di laman Virological, wadah forum diskusi untuk analisis genom virus, pada 7 Juli 2021.
Peneliti dari Guangdong, China, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit lokal lainnya melakukan pengawasan dan skrining pada mereka yang terinfeksi varian Delta dan kontak dekat mereka di China. Kontak dekat dari orang yang terinfeksi diisolasi dan menjalani tes reaksi rantai polimerase (PCR) COVID-19 setiap hari. Petugas mengidentifikasi 167 infeksi lokal yang ditelusuri kembali ke kasus indeks asli.
Mereka membandingkan data dari orang-orang tersebut dengan data dari hari-hari awal pandemi, ketika varian awal SARS-CoV-2 menyebar di China. Dari sini, ditemukan bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan dari paparan seseorang terhadap virus asli hingga tes positif pada tes PCR (atau jumlah waktu yang dibutuhkan virus untuk bereplikasi ke tingkat yang cukup tinggi untuk dapat dideteksi) adalah 5,61 hari untuk virus asli dan 3,71 hari untuk varian Delta.
Aspek paling "mencolok" dari laporan ini adalah bahwa dibutuhkan waktu yang jauh lebih singkat dari waktu seseorang terpapar varian Delta hingga menunjukkan tingkat virus yang signifikan, kata John Connor kepada Live Science, seorang peneliti dari Boston University's National Emerging Infectious Diseases Laboratories, AS, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.
ilustrasi mobilitas warga di tengah pandemi (pexels.com/zydeaosika)
"Seperti yang kita ketahui, individu menjalani periode laten setelah infeksi, dimana titer (konsentrasi) virus terlalu rendah untuk dideteksi. Saat proliferasi virus berlanjut di dalam inang, viral load pada akhirnya akan mencapai tingkat yang dapat dideteksi dan menjadi menular," kata penulis dalam penelitian.
"Mengetahui kapan orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus sangat penting untuk merancang strategi intervensi untuk memutus rantai penularan," tulis penulis lagi.
Dengan kata lain, pelacakan kontak atau tracing harus bekerja lebih cepat untuk menghentikan orang-orang dari menularkan varian Delta.
Para peneliti pun turut mengukur viral load saat SARS-CoV-2 pertama kali terdeteksi dalam tes PCR. Mereka menemukan bahwa viral load pada infeksi varian Delta adalah 1.260 kali lebih tinggi daripada infeksi virus asli. Ini menunjukkan kalau varian Delta dapat bereplikasi di dalam tubuh lebih cepat daripada virus aslinya.
Tim peneliti menyoroti bahwa varian Delta bisa lebih menular selama tahap infeksi. Ini, pada gilirannya, menunjukkan bahwa seseorang akan melepaskan lebih banyak partikel virus, membuat risiko penularan lebih tinggi.
Akan tetapi, tingkat replikasi yang lebih tinggi mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa varian Delta sangat "sukses", dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya, penting untuk penelitian di masa depan untuk memahami seberapa banyak virus yang terdeteksi yang sebetulnya menular.