Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Tidur Penting untuk Pemulihan Otot?

Kenapa Tidur Penting untuk Pemulihan Otot?
ilustrasi mematikan lampu tidur, bersiap tidur (magnific.com/tirachardz)
Intinya Sih
  • Tidur berperan penting dalam pemulihan otot karena saat tidur tubuh meningkatkan sintesis protein, memperbaiki jaringan rusak, dan menyeimbangkan hormon pertumbuhan untuk regenerasi sel.
  • Kurang tidur dapat meningkatkan kadar kortisol, memperlambat perbaikan jaringan, memicu peradangan berlebih, serta menurunkan kekuatan dan performa fisik setelah latihan berat.
  • Ahli merekomendasikan tidur 7–9 jam per malam dengan kualitas baik; menjaga rutinitas tidur konsisten dan lingkungan nyaman membantu optimalkan pemulihan otot.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Mungkin kamu satu dari banyak orang mengira latihan adalah waktu ketika otot tumbuh dan menjadi lebih kuat, padahal latihan justru merupakan fase ketika otot mengalami stres dan kerusakan mikroskopis.

Saat melakukan latihan beban, sprint, atau olahraga intensitas tinggi lainnya, serat-serat otot mengalami robekan kecil yang sebenarnya normal. Kerusakan ini menjadi sinyal bagi tubuh untuk melakukan perbaikan. Ketika proses perbaikan selesai, otot biasanya kembali dalam kondisi yang lebih kuat dibanding sebelumnya.

Namun, proses tersebut tidak terjadi di gym, lintasan lari, atau arena lainnya. Sebagian besar proses pemulihan berlangsung setelah kamu selesai latihan, teruta saat tidur. Itulah alasan kenapa banyak ahli bilang bahwa olahraga adalah stimulus, sementara tidur adalah fase ketika tubuh melakukan pekerjaan biologis yang sesungguhnya. Dalam dunia olahraga modern, kualitas tidur kini dianggap sama pentingnya dengan latihan dan nutrisi.

Table of Content

Apa yang terjadi pada otot saat kamu tidur?

Apa yang terjadi pada otot saat kamu tidur?

Ketika seseorang memasuki fase tidur, berbagai proses biologis penting tubuh mulai aktif. Salah satu yang paling penting adalah peningkatan sintesis protein otot, yaitu proses ketika tubuh menggunakan asam amino dari makanan untuk memperbaiki dan membangun kembali jaringan otot yang rusak akibat aktivitas fisik.

Pada saat yang sama, aliran darah ke jaringan tertentu meningkat sehingga membantu mengantarkan oksigen, nutrisi, dan komponen yang diperlukan untuk perbaikan sel.

Tubuh juga membersihkan produk sampingan metabolisme yang menumpuk selama aktivitas fisik.

Penelitian menunjukkan bahwa tidur menyediakan lingkungan metabolik yang ideal untuk pemulihan. Jika kamu kurang tidur, kemampuan tubuh untuk memperbaiki jaringan ikut menurun.

Fase deep sleep adalah waktu terbaik pemulihan

Tidur terdiri dari beberapa tahapan, termasuk tidur ringan, tidur dalam (slow-wave sleep atau deep sleep), dan tidur REM (rapid eye movement). Untuk pemulihan fisik, fase tidur dalam memiliki peran yang sangat besar.

Pada fase ini, tubuh melepaskan sebagian besar hormon pertumbuhan (growth hormone atau GH). Hormon ini membantu memperbaiki jaringan, mendukung sintesis protein, dan merangsang regenerasi sel.

Menurut penelitian, sebagian besar pelepasan hormon pertumbuhan harian terjadi selama fase tidur dalam. Karena itu, kualitas tidur sering lebih penting daripada lama waktu kamu tidur.

Seseorang mungkin tidur delapan jam, tetapi jika tidurnya sering terbangun atau tidak mencapai fase tidur dalam yang cukup, proses pemulihan tidak optimal.

Kurang tidur meningkatkan hormon stres

Seorang perempuan mengenakan sweter abu-abu sedang menguap dengan mata tertutup, menggambarkan kondisi lelah akibat kurang tidur.
ilustrasi kurang tidur (unsplash.com/VitalyGariev)

Saat tidur cukup, tubuh mampu mengatur kadar kortisol dengan lebih baik. Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang membantu tubuh menghadapi tekanan fisik maupun psikologis.

Masalah muncul ketika kamu kurang tidur. Durasi tidur yang pendek dapat meningkatkan kadar kortisol. Jika terus terjadi, kondisi ini menciptakan lingkungan yang kurang ideal untuk pertumbuhan dan pemulihan otot.

Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan pemecahan protein otot, mengganggu pemulihan, dan memperpanjang waktu yang dibutuhkan tubuh untuk kembali pulih setelah latihan berat. Inilah salah satu alasan mengapa tubuhmu pegal selama berhari-hari padahal program latihannya tidak berubah.

Tidur membantu mengurangi peradangan

Setelah olahraga, tubuh akan mengalami respons peradangan ringan. Ini sebenarnya normal dan diperlukan untuk adaptasi. Namun, peradangan yang berlebihan atau berlangsung terlalu lama dapat memperlambat pemulihan. Nah, di sinilah tidur kontribusinya penting.

Selama tidur, tubuh mengatur produksi berbagai molekul yang terlibat dalam respons imun dan peradangan. Penelitian menunjukkan kurang tidur berkaitan dengan peningkatan penanda inflamasi seperti interleukin-6 (IL-6) dan C-reactive protein (CRP).

Ketika tidur cukup, sistem imun bekerja lebih efektif dalam mengelola proses peradangan sehingga jaringan yang rusak dapat diperbaiki dengan lebih efisien.

Kurang tidur bisa mengurangi kekuatan dan performa

Dampak kurang tidur tidak hanya dirasakan pada tingkat seluler, tetapi juga pada performa sehari-hari. Atlet yang kurang tidur cenderung mengalami penurunan kekuatan, kecepatan, koordinasi, waktu reaksi, dan daya tahan. Mereka juga lebih mudah merasa lelah saat berlatih.

Berbagai studi menyebut gangguan tidur dapat memengaruhi berbagai aspek performa atletik, termasuk kemampuan menghasilkan tenaga maksimal dan mempertahankan intensitas latihan. Kondisi ini menciptakan lingkaran yang merugikan. Kurang tidur menghambat pemulihan, pemulihan yang buruk menurunkan kualitas latihan, dan latihan yang kurang optimal membuat adaptasi otot menjadi lebih lambat.

Tidur dan pertumbuhan otot berjalan beriringan

Seseorang tidur nyenyak di tempat tidur dengan selimut putih di bawah pencahayaan biru redup, di samping sebuah buku di kasur.
ilustrasi tidur nyenyak (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak orang fokus pada protein, suplemen, atau program latihan yang rumit, tetapi mengabaikan tidur.

Padahal, kurang tidur dapat mengurangi sintesis protein otot dan mengganggu keseimbangan hormon yang mendukung pertumbuhan otot. Bahkan pada individu muda dan sehat, beberapa malam kurang tidur dapat memengaruhi proses anabolik tubuh.

Artinya, konsumsi protein kamu mungkin sudah cukup dan menjalani latihan yang terstruktur, tetapi jika terus-terusan kurang tidur hasilnya tetap tidak optimal.

Berapa lama tidur yang dibutuhkan untuk pemulihan otot?

Rekomendasi umum dari para ahli adalah tidur 7–9 jam per malam untuk orang dewasa. Atlet atau individu yang menjalani latihan berat sering butuh waktu tidur di kisaran atas rekomendasi tersebut. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa memperpanjang durasi tidur dapat meningkatkan performa, suasana hati, dan pemulihan.

Selain durasi, kualitas tidur juga penting. Tidur yang sering terputus, lingkungan tidur yang bising, main gadget sebelum tidur, dan jadwal tidur yang tidak teratur dapat mengurangi manfaat pemulihan.

Karena itu, menjaga kebiasaan tidur yang konsisten sama pentingnya dengan memastikan jumlah jam tidur yang cukup.

Cara mengoptimalkan tidur untuk pemulihan otot

Beberapa langkah sederhana dapat membantu meningkatkan kualitas tidur:

  • Tidur dan bangun pada jam yang relatif sama setiap hari.
  • Hindari kafein beberapa jam sebelum tidur.
  • Batasi penggunaan gadget menjelang waktu tidur.
  • Jaga kamar tetap sejuk, gelap, dan nyaman.
  • Hindari latihan sangat berat terlalu dekat dengan waktu tidur jika membuat tubuh sulit rileks.
  • Pastikan kebutuhan energi dan protein harian tercukupi.

Kesimpulannya, otot tidak menjadi lebih kuat ketika sedang mengangkat beban, melainkan ketika tubuh memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri setelahnya. Dan, salah satu kesempatan terbaik itu terjadi setiap malam saat tidur.

Referensi

M. Dattilo et al., “Sleep and Muscle Recovery: Endocrinological and Molecular Basis for a New and Promising Hypothesis,” Medical Hypotheses 77, no. 2 (May 10, 2011): 220–22, https://doi.org/10.1016/j.mehy.2011.04.017.

Murilo Dáttilo et al., “Effects of Sleep Deprivation on Acute Skeletal Muscle Recovery After Exercise,” Medicine & Science in Sports & Exercise 52, no. 2 (August 30, 2019): 507–14, https://doi.org/10.1249/mss.0000000000002137.

Rónán Doherty et al., “Sleep and Nutrition for Athletes. The Nutrition Society, Scottish Section Conference 2024,” Proceedings of the Nutrition Society 85, no. 1 (November 18, 2024): 33–39, https://doi.org/10.1017/s0029665124007535.

Eve Van Cauter and Karine Spiegel, “Sleep as a Mediator of the Relationship Between Socioeconomic Status and Health: A Hypothesis,” Annals of the New York Academy of Sciences 896, no. 1 (December 1, 1999): 254–61, https://doi.org/10.1111/j.1749-6632.1999.tb08120.x.

Rachel Leproult and Eve Van Cauter, “Role of Sleep and Sleep Loss in Hormonal Release and Metabolism,” Endocrine Development 17 (November 24, 2009): 11–21, https://doi.org/10.1159/000262524.

Hugh H. K. Fullagar et al., “Sleep and Athletic Performance: The Effects of Sleep Loss on Exercise Performance, and Physiological and Cognitive Responses to Exercise,” Sports Medicine 45, no. 2 (October 14, 2014): 161–86, https://doi.org/10.1007/s40279-014-0260-0.

Nathaniel F. Watson et al., “Recommended Amount of Sleep for a Healthy Adult: A Joint Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine and Sleep Research Society,” SLEEP 38, no. 6 (May 29, 2015): 843–44, https://doi.org/10.5665/sleep.4716.

National Sleep Foundation. “How Sleep Affects Physical Recovery.” Diakses Mei 2026.

American Academy of Sleep Medicine. “Sleep and Health.” Diakses Mei 2026.

Shona L. Halson, “Sleep Monitoring in Athletes: Motivation, Methods, Miscalculations and Why It Matters,” Sports Medicine 49, no. 10 (May 15, 2019): 1487–97, https://doi.org/10.1007/s40279-019-01119-4.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More